Jakarta

Dunia Cemas, Harga Minyak Mentah Terus Meroket Akibat Negosiasi Buntu

Aisya Nur Aziza | 1 Mei 2026, 21:57 WIB
Dunia Cemas, Harga Minyak Mentah Terus Meroket Akibat Negosiasi Buntu
ilustrasi blokade maritim yang buat pasar minyak dunia ketar-ketir jika perang tak kunjung mereda

AKURAT JAKARTA – Ketidakpastian hasil perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran mulai berdampak serius pada ekonomi global.

Harga minyak mentah dunia melonjak hingga mencapai titik tertinggi dalam empat tahun terakhir, setelah pasar bereaksi negatif terhadap kemungkinan gagalnya kesepakatan nuklir kedua negara.

Kenaikan harga minyak ini mulai memicu lonjakan harga bahan bakar di Amerika Serikat, yang secara perlahan memberikan tekanan politik bagi pemerintahan Presiden Donald Trump.

Baca Juga: Donald Trump Pilih Strategi "Cekik" Ekonomi Dibanding Lawan Iran Lewat Invasi Darat

Sementara itu, pasar saat ini sangat khawatir terhadap ancaman penutupan Selat Hormuz, jalur distribusi minyak paling penting di dunia, jika konflik bersenjata kembali pecah.

Para pengamat menilai bahwa Iran sengaja mengulur waktu dalam proses negosiasi.

Strategi ini diduga bertujuan agar kenaikan harga energi global dapat memaksa Amerika Serikat untuk melunakkan tuntutan mereka.

Baca Juga: Diplomasi Buntu Kesekian Kali, Trump Tolak Mentah-mentah Tawaran Damai Iran

Namun, alih-alih mengendur, Presiden Trump justru memperketat strategi "tekanan maksimal" dengan menyiapkan pemblokiran jalur maritim yang lebih permanen guna mengunci akses perdagangan Teheran.

Adapaun kabarnya, inti dari kebuntuan ini tetap berada pada hak pengayaan uranium milik Iran.

Selama tim negosiator di Islamabad belum mencapai kata sepakat mengenai program nuklir tersebut, risiko kembalinya perang tetap membayangi.

Para ahli memprediksi harga minyak akan terus mendaki ke level yang lebih ekstrem jika eskalasi militer benar-benar terjadi dalam waktu dekat. (*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.