Ancaman Kiamat Energi: Iran Siap Ratakan Fasilitas Vital AS Jika Washington Berani Serang Sektor Listrik

AKURAT JAKARTA – Eskalasi konflik di Timur Tengah kini masuki babak baru.
Teheran mengeluarkan peringatan keras terkait fasilitas energi dan infrastruktur vital di kawasan "musuh" yang akan menjadi "target sah" untuk dihancurkan secara permanen.
Pernyataan ini muncul sebagai respons langsung atas ultimatum Presiden AS Donald Trump yang mengancam akan melumpuhkan jaringan listrik Iran jika Selat Hormuz tidak dibuka sepenuhnya dalam waktu 48 jam.
Ancaman "Penghancuran Permanen"
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan melalui platform X bahwa pembalasan Iran akan berdampak sistemik pada pasokan energi global.
"Segera setelah infrastruktur di negara kami diserang, fasilitas energi dan minyak di seluruh kawasan akan dianggap sebagai target sah dan akan dihancurkan secara permanen," tulis Ghalibaf.
Senada dengan itu, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) memperingatkan akan menutup total Selat Hormuz dan menargetkan fasilitas energi di negara-negara yang menampung pangkalan militer AS jika Washington merealisasikan ancamannya.
Harga Minyak Dunia Meroket
Dampak dari perang ini langsung terasa di pasar komoditas.
Pada Senin (23/3/2026), harga minyak mentah Brent melonjak ke level US$113,20 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) menyentuh US$98,85 per barel.
Di mana ini menjadi titik tertinggi sejak tahun 2022.
Analis memperingatkan bahwa harga minyak berpotensi terus merangkak naik jika ancaman terhadap jalur distribusi yang memikul 20% pasokan minyak dunia tersebut benar-benar tereksekusi. (*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini







