Jakarta

Mobil Listrik Mark 6.0 Unjuk Gigi di Jepang, Mahasiswa ITS Berhasil Sabet 3 Penghargaan Sekaligus

Anggerhana Denni Rahmawati | 18 Agustus 2026, 06:30 WIB
Mobil Listrik Mark 6.0 Unjuk Gigi di Jepang, Mahasiswa ITS Berhasil Sabet 3 Penghargaan Sekaligus
Mobil listrik mahasiswa ITS punya keunggulan yang bikin juara di Jepang. - Instagram / @its_campus

AKURAT JAKARTA - Prestasi mahasiswa Indonesia kembali terlihat di panggung internasional.

Kali ini, Tim Anargya ITS EV Team dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya membawa pulang tiga gelar dari ajang 24th Formula SAE (FSAE) Japan 2026 di Aichi Sky Expo, Jepang.

Menariknya, capaian tersebut tidak hanya menunjukkan kemampuan mahasiswa dalam membuat mobil formula listrik.

Prestasi ini juga memperlihatkan bagaimana desain, pemodelan, simulasi, hingga kemampuan mempresentasikan hasil inovasi menjadi bagian penting dalam sebuah kompetisi teknologi.

Tim Anargya menggunakan mobil formula listrik Mark 6.0, generasi terbaru yang dikembangkan dengan pendekatan desain dan modeling yang lebih matang.

Dalam kompetisi tersebut, Anargya ITS berhasil meraih 1st Place Three-View Drawing Awards (EV), 2nd Place MathWorks Modelling Awards (EV), dan 2nd Place PR Awards.

Three-view drawing menjadi salah satu keunggulan Mark 6.0.

Penghargaan pertama diraih karena tim dinilai mampu menghadirkan visualisasi teknis yang teliti.

Sementara itu, penghargaan kedua pada MathWorks Modelling menunjukkan kemampuan tim dalam melakukan simulasi performa kendaraan listrik.

Prestasi tersebut menjadi menarik karena keberhasilan mobil tidak hanya ditentukan oleh kemampuan teknis kendaraan.

Cara tim menjelaskan inovasi dan mempresentasikan hasil pengembangannya juga ikut dinilai.

Dosen pendamping Anargya ITS EV Team, Ir Alief Wikarta, ST, MSc Eng, PhD, mengatakan proses tersebut melibatkan anggota dari berbagai departemen.

"Kolaborasi lintas departemen menjadi kunci keberhasilan proses dari desain hingga presentasi," jelas Alief, dikutip dari ITS pada Selasa (18/8/2026).

Kolaborasi tersebut menjadi penting karena pengembangan mobil formula listrik membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan merancang kendaraan.

Tim juga harus menghadapi tantangan teknis, logistik, koordinasi, presentasi, hingga dokumentasi.

Menurut Alief, berbagai tantangan tersebut diatasi melalui bimbingan intensif, evaluasi berkelanjutan, serta pengambilan keputusan berdasarkan data.

Keterlibatan lintas bidang bahkan ikut menghasilkan penghargaan PR Awards.

Alief tidak hanya memberikan arahan terkait aspek teknis, tetapi juga membantu dalam presentasi dan dokumentasi.

"Capaian gemilang tersebut merupakan buah dedikasi seluruh anggota Anargya ITS EV Team yang berasal dari berbagai departemen di ITS," kata Alief.

Di balik tiga penghargaan tersebut, Mark 6.0 juga membawa misi yang lebih besar.

Mobil listrik rancangan mahasiswa ITS itu menerapkan prinsip Sustainable Development Goals (SDGs), termasuk energi bersih, inovasi dan infrastruktur, serta penanganan perubahan iklim.

Artinya, proyek tersebut tidak berhenti pada kompetisi.

Pengembangan kendaraan listrik menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menggabungkan ilmu teknik dengan kebutuhan terhadap teknologi transportasi yang lebih efisien.

Keberhasilan di Jepang pun menunjukkan bahwa inovasi mahasiswa dapat diuji di tingkat internasional.

Bukan hanya produknya yang harus mampu bersaing, tetapi juga proses berpikir, ketelitian desain, kemampuan melakukan simulasi, hingga cara menyampaikan hasilnya.

"Semoga ITS terus menjadi kampus pendorong lahirnya inovasi baru sebagai Home of Champions," kata Alief.

Tiga gelar yang diraih Anargya ITS akhirnya bukan sekadar daftar penghargaan.

Di baliknya terdapat proses panjang yang memperlihatkan bagaimana mahasiswa mengubah rancangan di lingkungan kampus menjadi karya teknologi yang mampu mendapatkan pengakuan di kompetisi internasional. (*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.