Golkar DPRD DKI Soroti Rp9 Triliun Anggaran DKI Tak Terserap, Sebut Pelayanan Publik Gagal Sampai ke Warga

AKURAT JAKARTA — Fraksi Partai Golkar DPRD DKI Jakarta menyoroti besarnya anggaran daerah yang tidak terserap dalam pelaksanaan APBD Tahun Anggaran 2025.
Hal ini disampaikan Anggota Fraksi Golkar DPRD DKI Jakarta, Dimaz Raditya, dalam Rapat Paripurna DPRD DKI Jakarta terkait Pandangan Umum Fraksi-Fraksi terhadap Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD (P2-APBD) 2025, Kamis (11/6/2026).
Dimaz menyebut sekitar Rp9 triliun anggaran yang gagal dibelanjakan merupakan pelayanan publik yang tidak sampai kepada masyarakat.
Dari total belanja daerah yang dianggarkan, masih terdapat anggaran dalam jumlah besar yang tidak terealisasi hingga akhir tahun anggaran.
"Dari Rp66,10 triliun yang dianggarkan, Rp9 triliun gagal dibelanjakan. Bagi provinsi dengan kapasitas fiskal terbesar di Indonesia, angka itu adalah pelayanan publik yang gagal sampai ke warga," kata Dimaz.
Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan masih adanya persoalan dalam pelaksanaan anggaran daerah.
Ia menilai pemerintah daerah perlu memastikan setiap anggaran yang telah direncanakan dapat diwujudkan menjadi program dan layanan yang dirasakan langsung oleh masyarakat.
Dimaz juga menyoroti realisasi Belanja Tidak Terduga (BTT) yang tercatat nol persen atau tidak digunakan sama sekali sepanjang tahun anggaran.
Padahal, Jakarta masih menghadapi berbagai persoalan mendesak seperti banjir, krisis air bersih, dan pengelolaan sampah.
"Yang tidak dapat diterima adalah Belanja Tidak Terduga sebesar Rp2,95 triliun yang realisasinya nol. Tidak satu rupiah pun digunakan," ujarnya.
Fraksi Golkar mempertanyakan alasan anggaran tersebut tidak direalokasikan melalui mekanisme APBD Perubahan untuk membiayai kebutuhan yang lebih mendesak.
Selain itu, Dimaz menilai struktur belanja daerah masih belum ideal karena didominasi belanja operasi sebesar 82 persen, sementara belanja modal yang dinilai lebih produktif hanya mencapai 17 persen.
Ketua Komisi C DPRD DKI Jakarta itu secara khusus menyoroti rendahnya realisasi belanja modal tanah yang hanya mencapai 49,27 persen.
Menurutnya, kondisi tersebut berpotensi menghambat berbagai proyek strategis daerah, terutama yang berkaitan dengan pengendalian banjir dan pengembangan transportasi.
"Padahal pembebasan lahan adalah prasyarat hampir seluruh proyek pengendalian banjir dan transportasi," tukasnya. (*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini



Terpopuler
- 1Prediksi Skor Rumania vs Wales, 7 Juni 2026: Misi Akhiri Paceklik Kemenangan
- 2Prediksi Skor Denmark vs Ukraina, 7 Juni 2026: De Rod-Hvide Bidik Kebangkitan di Odense
- 3Prediksi Skor Arab Saudi vs Puerto Rico, 6 Juni 2026: Kesempatan Falcons Kembali ke Jalur Kemenangan
- 4Prediksi Skor Georgia vs Bahrain, 5 Juni 2026: Crusaders Ingin Perpanjang Rekor Tak Terkalahkan
- 5Daftar 15 Lokasi Nobar Timnas Indonesia vs Mozambik di Jabodetabek pada FIFA Matchday Hari Ini, Selasa 9 Juni 2026
- 6Prediksi Skor Yunani vs Italia, 8 Juni 2026: Ujian Berat Generasi Baru Azzurri
- 7Daftar 33 Lokasi Nobar Timnas Indonesia vs Oman di Jakarta dalam FIFA Matchday 2026 Hari Ini, Yuk Dukung Garuda!
- 8Prediksi Skor Slovakia vs Montenegro, 5 Juni 2026: Duel Sengit di Kosicka
- 9Ancol Sunset Sound: Cara Baru Menikmati Sunset di Jakarta Lewat Musik, Pantai, Kuliner, dan Staycation
- 10Dorong Pola Hidup Sehat dan Ekonomi Lokal, Bupati Tangerang Lepas Fun Run 5K Komunitas Wisata Kreatif 2026





