Legislator Golkar Dadiyono Sebut 10 Persen Penduduk Jakarta Belum Ber-KTP DKI, Data Pemilu Terancam Tak Akurat

AKURAT JAKARTA - Bendahara Fraksi Golkar DPRD DKI Jakarta, Dadiyono, menyebut masih banyak warga yang tinggal di ibu kota namun belum tercatat sebagai penduduk resmi dengan KTP DKI.
Hal itu disampaikan dalam rapat Komisi A DPRD DKI Jakarta bersama Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi DKI Jakarta, Selasa (21/4/2026).
Dadiyono memperkirakan jumlah warga yang belum memiliki KTP DKI bahkan bisa mencapai lebih dari 10 persen dari total populasi.
Baca Juga: Cegah Kriminalitas di Taman Kota, Legislator Golkar Sardy Wahab Dorong Pemanfaatan Teknologi
"Kalau kita real-real, lebih dari 10 persen masyarakat yang tinggal di DKI KTP-nya belum DKI. Masih banyak KTP daerah," ujar Dadiyono.
Menurutnya, kondisi ini berpotensi menimbulkan persoalan dalam berbagai aspek, terutama terkait perhitungan jumlah penduduk yang menjadi dasar kebijakan, termasuk penentuan jumlah kursi legislatif dan penyusunan daerah pemilihan (dapil).
Ia juga menyinggung fenomena sebaliknya, yakni adanya warga yang memiliki KTP DKI tetapi tidak lagi tinggal di Jakarta.
Dadiyono menyebut, meskipun Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) telah melakukan pemblokiran terhadap KTP yang tidak aktif, praktik tersebut belum sepenuhnya menyelesaikan persoalan.
"Banyak juga KTP DKI yang diblokir karena tidak tinggal di DKI, tapi di sisi lain banyak juga KTP non-DKI yang tetap tinggal di DKI," katanya.
Dadiyono menilai kondisi ini membuat data administrasi kependudukan Jakarta tidak sepenuhnya mencerminkan realitas di lapangan.
Padahal, akurasi data sangat krusial, terutama bagi penyelenggara pemilu seperti KPUD dalam menyusun kebijakan berbasis jumlah penduduk.
Ia mengingatkan, perbedaan antara data administratif dan kondisi riil bisa berdampak pada kualitas representasi politik masyarakat.
Salah satunya terkait potensi ketidaktepatan dalam penentuan jumlah kursi DPRD maupun pembagian dapil.
Lebih jauh, Anggota Komisi A itu menyoroti karakteristik Jakarta yang berbeda dengan daerah lain, terutama dalam sistem administrasi dan perpajakan yang terpusat di tingkat provinsi.
Hal ini, menurutnya, turut memengaruhi perilaku masyarakat dalam mengurus perpindahan domisili.
"Keadaan di lapangan tidak seperti yang ada di catatan buku. Ini yang harus jadi perhatian," tegasnya. (*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1BYD Atto 2 Hadir dengan Fast Charging 82 kW dan Akselerasi 7,9 Detik, Menawarkan Efisiensi Tinggi serta Desain Modern untuk Kebutuhan Urban
- 2BYD Atto 2 Hadir, SUV Kompak Fitur Modern Efisiensi Tinggi Jarak Tempuh 410 KM Harga Mulai Rp200 Jutaan
- 3Prediksi Skor Athletic Bilbao vs Osasuna di La Liga, 22 April 2026: Misi Bangkit Los Leones di San Mames
- 4Prediksi Skor Real Sociedad vs Getafe di La Liga, 23 April 2026: Euforia La Real Diuji Ambisi Tim Tamu
- 5Prediksi Skor Girona vs Real Betis di La Liga, 22 April 2026: Momentum Blanquivermells di Montilivi
- 6Prediksi Skor Sassuolo vs Como di Serie A, 17 April 2026: Ambisi Lariani Tembus Zona Eropa
- 7Prediksi Skor Bournemouth vs Leeds di Premier League, 23 April 2026: The Cherries Incar Tiket Eropa
- 8Prediksi Skor St Pauli vs Koln di Bundesliga, 18 April 2026: Duel Hidup Mati Kiezkicker di Millerntor
- 9Tingkatkan Layanan Publik yang Nyaman dan Responsif, Bupati Tangerang Bersama Dirut BPJS Kesehatan Resmikan Kantor Baru Cabang Tigaraksa
- 10Perkuat Sinergi Buruh dan Pengusaha, Bupati Tangerang Maesyal Rasyid Dampingi Kapolri Hadiri Halal Bihalal KSPSI







