Jakarta

Ikuti Jejak Timur Tengah, Presiden Korsel Berharap Trump Bisa Jinakkan Korea Utara Seperti Iran

Aisya Nur Aziza | 20 Juni 2026, 07:18 WIB
Ikuti Jejak Timur Tengah, Presiden Korsel Berharap Trump Bisa Jinakkan Korea Utara Seperti Iran
Presiden AS Donald Trump dimintai tolong Presiden Korsel untuk jinakkan Korea Utara

AKURAT JAKARTA - Menyusul keberhasilan Amerika Serikat menjalin kesepakatan damai dengan Iran.

Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung mendesak Presiden AS Donald Trump untuk mengambil langkah serupa di Semenanjung Korea.

Lee meminta Trump memimpin upaya resolusi damai dengan Korea Utara, mengadopsi keberhasilan diplomasi yang baru saja diterapkan di Timur Tengah.

Kantor Kepresidenan Korea Selatan (Blue House) mengungkapkan, momentum tersebut terjadi saat kedua pemimpin negara bertemu di sela-sela KTT G7 di Prancis.

Dalam pertemuan bilateral tersebut, Trump secara khusus mempertanyakan perkembangan mutakhir hubungan antara Seoul dan Pyongyang kepada Lee.

"Presiden Lee meminta agar ia (Trump) memimpin dalam mencapai resolusi damai untuk masalah Korea Utara, seperti halnya ia telah menyelesaikan konflik di Timur Tengah," tulis pernyataan resmi Kantor Kepresidenan Korea Selatan, sebagaimana dilansir dari kantor berita AFP, Rabu (17/6/2026).

Merespons permintaan tersebut, pihak Korsel menyatakan bahwa Presiden Trump menunjukkan komitmen kuat untuk bekerja sama menuju penyelesaian ketegangan dengan Korea Utara.

Baca Juga: Gemas dengan Kritik MoU Iran, Wapres AS Ungkit Bantuan Militer dan Minta Israel Tahu Diri

Kontras Politik: Korsel Pilih Dialog, Korut Tetap Pilih Nuklir

Desakan Presiden Lee Jae Myung ini sekaligus menegaskan arah politik luar negerinya yang cenderung moderat.

Sejak menjabat, Lee memilih pendekatan yang lebih lunak dan mengedepankan dialog dengan Korea Utara, kontras dengan kebijakan garis keras yang sebelumnya diterapkan oleh sang pendahulu, Yoon Suk Yeol.

Kendati demikian, jalan menuju perdamaian diprediksi tidak akan mudah.

Sejauh ini, Pyongyang secara konsisten menolak mentah-mentah uluran tangan Seoul.

Rezim Kim Jong Un bahkan telah menetapkan Korea Selatan sebagai musuh utama mereka dan berulang kali menegaskan bahwa status Korea Utara sebagai negara bersenjata nuklir sudah bersifat mutlak serta "tidak dapat diubah".

Di sisi lain, para pengamat menilai peluang terjadinya pertemuan tingkat tinggi antara Trump dan Kim Jong Un dalam waktu dekat masih sangat kecil.

Baca Juga: Selesai Urusan Iran, Trump Bersiap Alihkan Perhatian ke Korea Utara

Mantan Presiden Universitas Studi Korea Utara di Seoul, Yang Moo-jin, menilai posisi Pyongyang saat ini sudah jauh berbeda dibanding tahun 2018.

"Dari perspektif Korea Utara, praktis tidak ada alasan lagi bagi mereka untuk bertemu dengan Amerika Serikat," pungkas Yang kepada AFP. (*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.