Ngaku Sudah Berdialog dengan Iran Terkait Selat Hormuz, Kebohongan Apa Lagi yang Kau Buat Trump?

AKURAT JAKARTA - Presiden Amerika, Donald Trump, mengaku telah berdialog dengan pihak Iran dan membuahkan hasil yang diklaim menggembirakan.
Hasil dialog dengan pihak Iran yang tidak disebutkan identitasnya itu menyatakan bahwa Selat Hormuz akan segera dibuka.
Trump mengatakan selat vital bagi lalu lintas minyak dunia tersebut selanjutnya akan berada di bawah kendali bersama AS dan Iran.
Baca Juga: Rahasia Ketupat Pulen dan Padat, Begini Cara Tepat yang Harus Kamu Ikuti
Dilansir CNN, Senin (23/3/2026), Trump ditanya wartawan tentang kapan Selat Hormuz akan dibuka kembali. Trump pun mengatakan selat itu segera dibuka.
"Itu akan segera dibuka, jika negosiasi dengan Iran terus berjalan lancar," kata Trump.
Trump mengatakan ke depannya selat tersebut akan dikendalikan oleh Iran dan AS. Siapapun pemimpin Iran ke depannya. "Itu akan dikendalikan bersama," ucapnya.
Selain itu, Trump juga menegaskan akan ada perubahan rezim di Iran. "Dan juga akan ada perubahan rezim yang sangat serius," imbuh Trump.
Namun klaim Trump itu langsung dibantah Pemerintah Iran. Bantahan disampaikan Ketua parlemen Iran dan salah satu tokoh non-klerikal paling terkemuka di negara itu, Mohammad Bagher Ghalibaf.
Baca Juga: NATO Pilih Sejalan dengan Strategi Agresif AS untuk Serang Iran, Kenapa?
Dilansir AFP, Selasa (24/3/2026), Ghalibaf menegaskan bahwa tidak ada negosiasi yang sedang berlangsung dengan Trump.
Ia menyebut, sekutu Israel itu sedang berbohong kepada dunia, seperti klaim-klaim sebelumnya soal Iran.
"Trump berusaha untuk memanipulasi pasar keuangan dan minyak serta keluar dari rawa yang menjebak AS dan Israel," kata Ghalibaf.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, mengatakan hal yang sama. Ia membantah ada pembicaraan dengan pihak AS mengenai Selat Hormuz.
Meski demikian, ia mengakui telah menerima pesan dari beberapa negara sahabat yang mengindikasikan permintaan AS untuk negosiasi, yang bertujuan mengakhiri perang.
Sementara Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mengatakan telah berbicara dengan Trump dan mengakui bahwa AS berpikir kesepakatan damai dengan Iran.
"Trump percaya ada peluang untuk memanfaatkan pencapaian luar biasa IDF dan militer AS untuk mewujudkan tujuan perang dalam sebuah kesepakatan," ujarnya.
Tetapi, lanjut Netanyahu, Trump berjanji untuk terus menyerang Iran dan Lebanon untuk melindungi Israel.
"Kesepakatan yang akan melindungi kepentingan vital kita, dan pada saat yang sama, kami terus menyerang baik di Iran maupun di Lebanon," ucapnya. (*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









