Jakarta

Setelah Malaysia Giliran Kapal Tanker Minyak Thailand Diizinkan Iran Lewati Selat Hormuz, Indonesia Kapan?

M Rahman Akurat | 29 Maret 2026, 10:40 WIB
Setelah Malaysia Giliran Kapal Tanker Minyak Thailand Diizinkan Iran Lewati Selat Hormuz, Indonesia Kapan?
Selat Hormuz ditutup pemerintah Iran

AKURAT JAKARTA - Setelah Malaysia, giliran Thailand yang mencapai kesepakatan dengan Iran untuk mengizinkan kapal-kapal tanker minyak dari negara tersebut melintasi Selat Hormuz secara aman.

Kesepakatan antara Bangkok dan Teheran ini diumumkan oleh Perdana Menteri (PM) Thailand, Anutin Charnvirakul, dalam konferensi pers pada Sabtu (28/3) waktu setempat.

"Sebuah kesepakatan telah tercapai untuk memungkinkan kapal-kapal tanker minyak Thailand melintas dengan aman melalui Selat Hormuz," kata Anutin, seperti dilansir AFP, Sabtu (28/3/2026).

Baca Juga: Viral! Ribuan Ton Sampah Menggunung di Pasar Induk Kramat Jati Pasca Lebaran Idul Fitri, Ternyata Ini Penyebabnya

Anutin menambahkan, perkembangan ini akan mengurangi kekhawatiran negaranya tentang impor bahan bakar minyak (BBM).

"Dengan adanya kesepakatan ini, ada keyakinan yang lebih besar bahwa gangguan seperti yang terjadi pada awal Maret tidak akan terulang kembali," sebutnya.

Menurut Badan Informasi Energi AS, lebih dari 80 persen minyak mentah dan gas alam cair (LNG) yang melintasi Selat Hormuz dibawa ke kawasan Asia.

Sebagian besar negara Asia Tenggara menanggung dampak kesulitan pasokan bahan bakar dan antrean panjang di pom bensin di Thailand semakin sering terjadi.

"Pemerintah akan terus beradaptasi dengan situasi yang berkembang dan menyesuaikan langkah-langkah untuk meminimalkan dampak terhadap masyarakat," ucap Anutin.

Baca Juga: Pemprov DKI Siapkan 3 Rusun untuk Relokasi Warga Bantaran Rel Kereta Api Senen, Chico: Tindaklanjuti Arahan Presiden Prabowo

Sebelumnya, Iran telah mengizinkan kapal milik China, Rusia, Pakistan, Irak, India hingga Malaysia, untuk melintasi Selat Hormuz.

Diketahui, Selat Hormuz merupakan jalur perairan strategis untuk pasokan energi global yang dikendalikan pemerintah Iran.

Jalur distribusi minyak dunia ini terdampak oleh perang antara Iran melawan Amerika dan Israel, yang berlangsung sejak akhir Februari 2026 lalu.

Aktivitas perlintasan di Selat Hormuz telah secara efektif dibatasi sejak awal Maret, dan memicu gangguan global yang meningkatkan biaya pengiriman dan mendorong harga minyak global lebih tinggi.

Iran menegaskan bahwa Selat Hormuz ditutup untuk kapal-kapal milik musuh. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa Selat Hormuz tidak sepenuhnya ditutup.

"Banyak pemilik kapal, atau negara pemilik kapal-kapal tersebut, telah menghubungi kami dan meminta agar kami memastikan keselamatan pelayaran mereka melalui selat," ujar Araghchi, seperti dikutip kantor berita Reuters.

Baca Juga: Bupati Tangerang Rakor Bersama Menteri Lingkungan Hidup dan Gubernur Banten, Komitmen Percepat PSEL Atasi Masalah Sampah

"Untuk sejumlah negara yang kami anggap bersahabat, atau dalam kasus tertentu yang kami nilai perlu, angkatan bersenjata kami telah memberikan pengawalan secara aman," tambahnya.

Araghchi juga menyatakan bahwa kapal-kapal yang terkait dengan negara-negara yang dianggap sebagai musuh atau pihak yang terlibat dalam konflik saat ini tidak akan diizinkan melintas.

Ia mengatakan bahwa kapal dari Amerika Serikat, Israel, dan sejumlah negara Teluk yang berperan dalam krisis yang berlangsung tidak akan diberi izin transit di Selat Hormuz.

"Kami berada dalam keadaan perang. Kawasan ini adalah zona perang, dan tidak ada alasan untuk mengizinkan kapal-kapal milik musuh dan sekutu mereka melintas. Namun selat tetap terbuka bagi pihak lainnya," ujarnya pada Rabu (25/03/2026).

Indonesia termasuk yang belum diizinkan Iran lewat Selat Hormuz. Dua kapal tanker milik PT Pertamina, yaitu Pertamina Pride dan Gamsunoro, hingga kini masih tertahan di Selat Hormuz.

Baca Juga: 6 Cara Efektif Terhindar dari Lelah Saat Perjalanan Jauh yang Wajib Kamu Coba

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengatakan bahwa pemerintah Indonesia saat ini sedang berupaya mengeluarkan dua kapal PERTAMINA tersebut.

Komunikasi intensif pun terus dilakukan dengan pihak-pihak terkait di Iran, agar mengizinkan dua kapal tanker PERTAMINA tersebut leqat Selat Hormuz.

"Kita masih komunikasi terus. Memang tidak mudah untuk kita bisa melakukan bagaimana caranya agar kapal kita keluar dari Selat Hormuz," ujar Bahlil di Kantor Kementerian Kordinator Perekonomian, Jakarta, Jumat (27/3/2026).

Bahlil menegaskan bahwa proses negoisasi ini membutuhkan waktu yang tidak sebentar. "Masih negosiasi sekarang. Kan ini kan antrean panjang. Lagi dalam negosiasi. Kasih kami waktu ya. Masih negosiasi," ujarnya. (*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.