Teheran Tegaskan Selat Hormuz Tetap Terbuka untuk Dunia, Kecuali Musuh

AKURAT JAKARTA – Teheran menegaskan status Selat Hormuz sebagai instrumen strategis dalam menghadapi tekanan koalisi Amerika Serikat (AS) dan Israel.
Penasihat Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Akbar Velayati, menegaskan bahwa jalur perairan paling krusial bagi pasokan energi dunia tersebut akan tetap terbuka bagi pelayaran global.
Namun tertutup bagi pihak-pihak yang dianggap sebagai musuh Iran.
"Perang akan berakhir dengan strategi dan otoritas Iran, bukan dengan khayalan maupun ilusi para agresor," kata Velayati melalui pernyataan resminya, Kamis (2/4/2026).
Pernyataan ini sekaligus menjadi jawaban atas klaim sepihak musuh Iran terkait peta kekuatan militer di kawasan Timur Tengah.
Ketegangan ini kembali memuncak setelah Presiden AS, Donald Trump, mengklaim dalam pidato televisinya bahwa kemampuan militer Iran, khususnya peluncur rudal dan drone, telah berkurang drastis.
Trump memproyeksikan konflik terbuka yang berlangsung sejak akhir Februari lalu akan berakhir dalam kurun waktu dua hingga tiga pekan ke depan.
Namun, Teheran menunjukkan fakta sebaliknya dengan tetap mempertahankan kendali penuh atas Selat Hormuz. Jalur ini merupakan urat nadi distribusi minyak mentah, terutama bagi negara-negara di kawasan Asia.
Sebagai bentuk tekanan politik, Iran kini hanya mengizinkan kapal-kapal dari kategori "negara sahabat" untuk melintasi selat tersebut secara aman.
Eskalasi di Timur Tengah mencapai titik kritis sejak Israel dan AS melancarkan serangan gabungan ke wilayah Iran pada 28 Februari 2026.
Insiden tersebut menelan lebih dari 1.340 korban jiwa, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei. Serangan ini memicu gelombang pembalasan massal dari Teheran.
Iran merespons dengan meluncurkan serangan drone dan rudal yang menargetkan aset-aset militer serta infrastruktur di Israel, Yordania, Irak, hingga negara-negara Teluk yang menampung pangkalan militer AS.
Dampak dari konfrontasi ini tidak hanya mengakibatkan kerusakan fisik di kawasan, tetapi juga memicu guncangan hebat pada pasar komoditas global dan gangguan jalur penerbangan internasional.
Bagi dunia internasional, posisi Iran di Selat Hormuz tetap menjadi variabel paling sensitif. Blokade atau pembatasan akses di jalur tersebut diprediksi akan memicu krisis energi global jika ketegangan diplomatik tidak segera menemui jalan tengah.
Teheran menegaskan bahwa kedaulatan atas wilayah perairannya merupakan harga mati dalam menentukan posisi tawar di akhir konflik nanti.(*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Prediksi Skor AZ Alkmaar vs Hapoel Beer Sheva di UEL, 15 Oktober 2026: Mampukah Tuan Rumah Pertahankan Rekor Kandang?
- 2Prediksi Skor Hoffenheim vs Besiktas di UEL, 16 Oktober 2026: Mampukah Die Kraichgauer Bangkit di Kandang?
- 3Prediksi Skor Eintracht Frankfurt vs FC Koln di Bundesliga, 17 Oktober 2026: Mampukah Die Adler Bangkit dari Kekalahan Telak?
- 4Prediksi Skor Deportivo La Coruna vs Levante di La Liga, 17 Oktober 2026: Mampukah Tuan Rumah Akhiri Tren Negatif?
- 5Prediksi Skor Sparta Praha vs Lillestrom di UEL, 15 Oktober 2026: Tren Positif Tuan Rumah Diuji Wakil Norwegia
- 6Prediksi Skor Celje vs Omonia di UEL, 15 Oktober 2026: Mampukah Tuan Rumah Bangkit dari Kekalahan?
- 7Prediksi Skor Union Saint-Gilloise vs Real Sociedad di UEL, 15 Oktober 2026: Tuan Rumah Incar Kemenangan Kedua
- 8Prediksi Skor Frosinone vs Sassuolo di Serie A, 17 Oktober 2026: Mampukah Canarini Balas Dendam atas Neroverdi?
- 9Pertama dan Satu-Satunya! Mitra Driver Gojek Terpilih dari Seluruh Indonesia Kibarkan Merah Putih
- 10Permudah Transaksi Nasabah, BPR Kerta Raharja Gemilang Luncurkan Layanan Digital MOLEC, Ini Kelebihannya!







