Jakarta

Psikologi Ungkap Bahaya Konten Bigmo Libatkan Anak Promosi Vape yang Jarang Dibahas

Anggerhana Denni Rahmawati | 3 Agustus 2026, 16:00 WIB
Psikologi Ungkap Bahaya Konten Bigmo Libatkan Anak Promosi Vape yang Jarang Dibahas
Bigmo menjadikan anak sebagai alat promosi vape. - Instagram @akuratco

AKURAT JAKARTA - Kemunculan anak-anak dalam konten promosi rokok elektrik atau vape bukan hanya menjadi persoalan pelanggaran aturan platform digital.

Di balik kasus tersebut, terdapat dampak psikologis yang dapat memengaruhi cara anak-anak lain memandang perilaku berisiko di kehidupan sehari-hari.

Kasus ini mencuat setelah Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) melayangkan surat teguran pertama kepada YouTube menyusul ditemukannya siaran langsung yang menampilkan promosi vape dengan melibatkan anak-anak.

Pemerintah memberi waktu tiga hari kepada platform tersebut untuk menindaklanjuti temuan tersebut.

Perhatian utama bukan hanya tertuju pada konten yang dibuat oleh kreator, melainkan juga pesan yang dapat diterima oleh jutaan penonton, terutama anak-anak.

Dalam psikologi, kondisi ini dapat dijelaskan melalui Social Learning Theory yang diperkenalkan psikolog Albert Bandura.

Teori tersebut menjelaskan bahwa anak belajar melalui observasi terhadap perilaku orang lain.

Mereka tidak harus mengalami langsung suatu tindakan untuk menganggapnya sebagai sesuatu yang layak dilakukan.

Ketika melihat figur populer atau orang lain memperoleh perhatian, hiburan, atau keuntungan dari suatu perilaku, anak dapat menganggap perilaku tersebut sebagai sesuatu yang normal.

Pada kasus promosi vape, kehadiran anak dalam konten berpotensi memberikan pesan implisit bahwa produk tersebut bukan sesuatu yang berbahaya atau terlarang.

Baca Juga: Sepekan Pasca Bentrokan Maut, Aktivitas Warga dan Sekolah di Matraman Dalam Mulai Kembali Normal

Padahal, produk rokok elektrik ditujukan untuk orang dewasa dan memiliki risiko terhadap kesehatan.

Fenomena lain yang juga muncul adalah normalisasi.

Dalam psikologi sosial, paparan berulang terhadap suatu perilaku dapat mengubah persepsi masyarakat mengenai apa yang dianggap wajar.

Semakin sering seseorang melihat suatu tindakan di media sosial, semakin besar kemungkinan tindakan tersebut dipersepsikan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.

Bagi anak-anak yang masih berada dalam tahap perkembangan kognitif dan sosial, kemampuan membedakan antara konten hiburan, promosi, dan perilaku yang aman belum sepenuhnya matang.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.