Kasus Pembunuhan oleh Pacar di Bali Jadi Alarm Penting Mengenali Toxic Relationship

AKURAT JAKARTA - Kasus pembunuhan seorang perempuan berinisial AS (26) yang diduga dilakukan pacarnya sendiri di Denpasar Selatan menyita perhatian publik.
Selain karena pelaku berusaha menyembunyikan jasad korban selama beberapa hari, kasus ini kembali memunculkan pertanyaan tentang bagaimana sebuah hubungan romantis bisa berubah menjadi tindakan kekerasan yang fatal.
Dalam beberapa tahun terakhir, pembahasan mengenai toxic relationship semakin sering muncul, terutama di kalangan anak muda.
Hubungan yang awalnya terlihat penuh perhatian terkadang perlahan berubah menjadi hubungan yang dipenuhi kontrol, rasa memiliki secara berlebihan, hingga perilaku yang membatasi kebebasan pasangan.
Dalam psikologi, kondisi ini dikenal sebagai coercive control, yaitu pola perilaku yang bertujuan mengendalikan pasangan melalui intimidasi, ancaman, manipulasi, atau pembatasan.
Di sisi lain, ada pula fenomena obsessive relational intrusion (ORI), yaitu perilaku obsesif terhadap pasangan yang ditandai dengan keinginan terus mengawasi, mengontrol, atau mempertahankan hubungan meski dilakukan dengan cara yang melanggar batas pribadi.
Perlu dipahami, kedua fenomena psikologis tersebut tidak otomatis menyebabkan seseorang melakukan pembunuhan.
Sebagian besar orang yang memiliki rasa cemburu atau posesif tidak melakukan tindak kriminal.
Namun, dalam sejumlah kasus kekerasan dalam hubungan, pola kontrol yang terus meningkat sering menjadi tanda bahaya yang tidak boleh diabaikan.
Kasus di Denpasar juga menjadi pengingat penting bahwa kekerasan dalam hubungan sering kali tidak muncul secara tiba-tiba.
=====
Banyak ahli menyebut perilaku seperti mengisolasi pasangan dari keluarga atau teman, mengawasi aktivitas secara berlebihan, memanipulasi emosi, hingga membuat pasangan merasa takut sebagai bentuk red flag yang perlu dikenali sejak awal.
Karena itu, membangun hubungan yang sehat bukan hanya soal rasa sayang, tetapi juga saling menghormati batasan, memberi ruang bagi pasangan, dan menyelesaikan konflik tanpa kekerasan.
Ketika hubungan mulai dipenuhi rasa takut, ancaman, atau kontrol yang berlebihan, mencari bantuan dari keluarga, teman tepercaya, atau layanan profesional dapat menjadi langkah penting untuk mencegah situasi yang lebih buruk.
Kasus yang kini ditangani kepolisian tersebut masih terus diproses sesuai ketentuan hukum.
Di luar proses hukum yang berjalan, peristiwa ini menjadi pengingat bahwa cinta tidak seharusnya identik dengan kepemilikan atau penguasaan atas orang lain. (*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini



Terpopuler
- 1Prediksi Skor AZ Alkmaar vs Hapoel Beer Sheva di UEL, 15 Oktober 2026: Mampukah Tuan Rumah Pertahankan Rekor Kandang?
- 2Prediksi Skor Hoffenheim vs Besiktas di UEL, 16 Oktober 2026: Mampukah Die Kraichgauer Bangkit di Kandang?
- 3Prediksi Skor Eintracht Frankfurt vs FC Koln di Bundesliga, 17 Oktober 2026: Mampukah Die Adler Bangkit dari Kekalahan Telak?
- 4Prediksi Skor Deportivo La Coruna vs Levante di La Liga, 17 Oktober 2026: Mampukah Tuan Rumah Akhiri Tren Negatif?
- 5Prediksi Skor Sparta Praha vs Lillestrom di UEL, 15 Oktober 2026: Tren Positif Tuan Rumah Diuji Wakil Norwegia
- 6Prediksi Skor Celje vs Omonia di UEL, 15 Oktober 2026: Mampukah Tuan Rumah Bangkit dari Kekalahan?
- 7Prediksi Skor Union Saint-Gilloise vs Real Sociedad di UEL, 15 Oktober 2026: Tuan Rumah Incar Kemenangan Kedua
- 8Prediksi Skor Frosinone vs Sassuolo di Serie A, 17 Oktober 2026: Mampukah Canarini Balas Dendam atas Neroverdi?
- 9Pertama dan Satu-Satunya! Mitra Driver Gojek Terpilih dari Seluruh Indonesia Kibarkan Merah Putih
- 10Permudah Transaksi Nasabah, BPR Kerta Raharja Gemilang Luncurkan Layanan Digital MOLEC, Ini Kelebihannya!






