Jakarta

Teror Bom Palsu Berawal dari Rasa Tersinggung, Ini Penjelasan Psikologi di Baliknya

Anggerhana Denni Rahmawati | 17 Juli 2026, 14:45 WIB
Teror Bom Palsu Berawal dari Rasa Tersinggung, Ini Penjelasan Psikologi di Baliknya
Ilustrasi pengamanan bom di SDN Srengseng Sawah 15 Pagi, Jagakarsa, Jakarta Selatan.

AKURAT JAKARTA - Ancaman bom palsu di SDN Srengseng Sawah 15 Pagi, Jakarta Selatan, yang terjadi pada hari pertama Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), menyisakan pertanyaan besar.

Bagaimana percakapan tentang biaya seragam sekolah bisa berujung pada teror yang memicu kepanikan ratusan orang?

Hasil penyelidikan kepolisian mengungkap bahwa pelaku diduga bertindak setelah merasa tersinggung oleh ucapan seorang guru ketika membahas biaya seragam anaknya.

Perasaan dipermalukan itu kemudian berubah menjadi aksi mengirim ancaman bom palsu melalui pesan WhatsApp.

Dalam psikologi, kondisi seperti ini dapat dikaitkan dengan threatened ego, yakni ketika seseorang merasa harga dirinya diserang atau direndahkan.

Tidak semua orang akan bereaksi sama, tetapi pada individu yang kesulitan mengelola emosi, rasa malu atau sakit hati dapat berkembang menjadi tindakan impulsif sebagai bentuk pelampiasan.

Fenomena ini juga berkaitan dengan emotional dysregulation, yaitu ketidakmampuan mengendalikan emosi negatif secara sehat.

Alih-alih menyelesaikan konflik melalui komunikasi, emosi yang memuncak justru dilampiaskan dengan tindakan yang merugikan banyak orang.

Selain itu, psikologi mengenal hostile attribution bias, yaitu kecenderungan menganggap ucapan atau tindakan orang lain sebagai penghinaan, meskipun belum tentu dimaksudkan demikian.

Persepsi semacam ini dapat memperbesar rasa marah dan mendorong seseorang mengambil keputusan yang tidak rasional.

Baca Juga: Prediksi Skor Bodo/Glimt vs Fredrikstad di Eliteserien, 18 Juli 2026: Tuan Rumah Bidik Puncak Klasemen

=====

Kasus ini menunjukkan bahwa tindakan yang dipicu oleh emosi sesaat dapat menimbulkan dampak yang jauh lebih besar daripada penyebab awalnya.

Ancaman bom palsu membuat proses MPLS terganggu, siswa dan guru harus dievakuasi, serta aparat mengerahkan sumber daya untuk memastikan situasi benar-benar aman.

Peristiwa tersebut menjadi pengingat bahwa kemampuan mengelola emosi, menjaga komunikasi yang empatik, dan menyelesaikan konflik secara sehat merupakan keterampilan penting.

Sebab, ketika rasa tersinggung dibiarkan menguasai diri, dampaknya tidak lagi hanya dirasakan oleh individu, tetapi juga oleh banyak orang di sekitarnya. (*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.