Terus Diancam Trump Soal Blokade Laut, Iran: Perpanjang Saja 30 Hari

AKURAT JAKARTA – Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, melontarkan ejekan terhadap kebijakan blokade maritim yang diterapkan oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Ghalibaf menilai strategi Washington untuk melumpuhkan ekonomi Teheran melalui penutupan akses ekspor minyak merupakan langkah yang tidak efektif dan justru menjadi bumerang bagi pasar global.
Melalui pernyataan resminya di platform X, Ghalibaf secara sarkastik menertawakan teori blokade AS yang memprediksi terjadinya kerusakan pada infrastruktur energi Iran akibat tekanan berlebih pada sumur produksi yang terhambat ekspornya.
Ia menegaskan bahwa setelah tiga hari diberlakukan, fasilitas minyak Iran tetap beroperasi normal tanpa kendala teknis sedikit pun.
Tantangan Terbuka bagi Gedung Putih
Ghalibaf, yang merupakan mantan komandan militer dengan latar belakang teknis, menantang Trump untuk memperpanjang durasi blokade hingga 30 hari.
Ia bahkan menawarkan agar kondisi sumur-sumur minyak Iran disiarkan secara langsung untuk membuktikan ketahanan infrastruktur nasionalnya di hadapan dunia.
"Sudah tiga hari berlalu, tidak ada satu pun sumur yang meledak. Kami bisa memperpanjang (blokade) hingga 30 hari dan menyiarkan langsung kondisi sumur di sini," tegas Ghalibaf dalam unggahan berbahasa Inggris tersebut.
Pernyataan ini muncul di tengah konsistensi Presiden Donald Trump yang tetap memberlakukan blokade maritim komersial di wilayah Teluk Oman, meskipun gencatan senjata telah berlangsung sejak 8 April.
AS berupaya menekan Teheran agar memangkas produksi minyak atau menghadapi risiko kerusakan infrastruktur jangka panjang.
Baca Juga: Deadline 1 Mei Perang dengan Iran, Trump Cari Celah Perpanjang Operasi Militer
Lonjakan Harga Minyak
Ghalibaf juga menuding bahwa kebijakan Trump didasarkan pada "nasihat keliru" dari para pejabatnya, termasuk Menteri Keuangan Scott Bessent.
Ia berpendapat bahwa alih-alih melemahkan Iran, blokade tersebut justru memicu lonjakan harga minyak dunia hingga menembus angka US$120 per barel.
"Inilah jenis saran buruk yang diterima pemerintahan AS dari orang-orang seperti Bessent... yang justru mendongkrak harga minyak hingga di atas 120 dolar. Target berikutnya: 140," ujar Ghalibaf.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini



Terpopuler
- 1Prediksi Skor Fenerbahce vs Lyon di Playoff UCL, 19 Agustus 2026: Mampukah The Yellow Canaries Raih Kemenangan di Kandang Sendiri?
- 2Prediksi Skor Deportivo La Coruna vs Elche di La Liga, 18 Agustus 2026: Duel Tim Promosi dan Penghuni Zona Bawah
- 3Prediksi Skor Espanyol vs Levante di La Liga, 17 Agustus 2026: Mampukah Los Periquitos Mengawali Musim dengan Kemenangan Kandang?
- 4Prediksi Skor Levski Sofia vs AEK Athens di Playoff UCL, 19 Agustus 2026: Momentum Tuan Rumah Jadi Ancaman Juara Liga Yunani
- 5Prediksi Skor Racing Santander vs Villarreal di La Liga, 16 Agustus 2026: Debutan Promosi Tantang Penghuni Tiga Besar
- 6Prediksi Skor Dinamo Zagreb vs Viking di Playoff UCL, 19 Agustus 2026: Tuan Rumah Punya Rekor Impresif
- 7Prediksi Skor Casa Pia vs Benfica di Liga Portugal, 18 Agustus 2026: Mampukah Tuan Rumah Mengulang Kejutan?
- 8Prediksi Skor Ajax vs Heerenveen di Eredivisie, 16 Agustus 2026: Mampukah Tuan Rumah Kembali Dominan di Johan Cruijff Arena?
- 9Permudah Transaksi Nasabah, BPR Kerta Raharja Gemilang Luncurkan Layanan Digital MOLEC, Ini Kelebihannya!
- 10Fasilitas Mewah KM Dharma Kartika V Dinodai Dugaan Pelecehan Anak hingga Pengeroyokan Pelajar, Begini Kronologinya






