Kasus TBC dan Hipertensi Jadi Alarm di Jakarta, Fraksi Golkar DPRD DKI Desak Perda Sistem Kesehatan Harus Segera Diperbarui

AKURAT JAKARTA - Fraksi Golkar DPRD DKI Jakarta menilai revisi Peraturan Daerah Nomor 4 Tahun 2009 tentang Sistem Kesehatan Daerah merupakan langkah mendesak untuk menjawab tantangan kesehatan yang semakin kompleks di Jakarta.
Pandangan itu disampaikan Anggota Fraksi Golkar DPRD DKI Jakarta, Alia Noorayu Laksono, dalam Rapat Paripurna DPRD DKI Jakarta terkait pandangan umum fraksi terhadap Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) tentang Sistem Kesehatan Daerah dan Raperda tentang Penyelenggaraan Pelindungan Perempuan, Senin (11/5/2026).
"Fraksi Partai Golkar memandang bahwa revisi terhadap Perda Nomor 4 Tahun 2009 merupakan sebuah keniscayaan. Regulasi yang telah berusia lebih dari 15 tahun tersebut lahir dalam konteks yang sangat berbeda dengan kondisi Jakarta hari ini," kata Alia.
Baca Juga: Ada Libur 6 Hari Berturut-turut, Ini Sisa Long Weekend Mei 2026 yang Sayang Dilewatkan
Menurutnya, pembaruan regulasi kesehatan daerah menjadi keharusan setelah terbitnya Undang-Undang (UU) Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan dan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 28 Tahun 2024 sebagai aturan pelaksana.
Fraksi Golkar, lanjut Alia, mengapresiasi langkah Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta yang mengajukan Raperda Sistem Kesehatan Daerah sebagai upaya memperkuat fondasi layanan kesehatan bagi warga.
Alia mengungkapkan, Jakarta kini menghadapi beban ganda di sektor kesehatan. Di satu sisi, kasus penyakit menular seperti tuberkulosis (TBC) terus meningkat. Di sisi lain, penyakit tidak menular seperti hipertensi juga melonjak signifikan.
"Kasus tuberkulosis mencapai lebih dari 351 ribu kasus, sementara penyakit tidak menular seperti hipertensi telah menembus angka lebih dari 900 ribu penderita. Ini adalah alarm keras bahwa sistem kesehatan kita sedang menghadapi beban ganda yang serius," ujarnya.
Selain tingginya angka penyakit, Alia juga menyoroti tingginya kunjungan masyarakat ke fasilitas pelayanan kesehatan primer yang mencapai jutaan setiap tahun.
Kondisi tersebut menunjukkan ketergantungan masyarakat terhadap layanan kesehatan dasar masih sangat tinggi.
Namun demikian, menurut Wakil Ketua Komisi A itu, warga masih dihadapkan pada berbagai persoalan, mulai dari antrean panjang, keterbatasan tenaga medis, hingga ketimpangan kualitas layanan kesehatan antarwilayah di Jakarta.
"Situasi ini menunjukkan bahwa sistem kesehatan kita membutuhkan pembaruan yang lebih adaptif, responsif, dan berkeadilan," tukasnya. (*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini



Terpopuler
- 1Prediksi Skor Rumania vs Wales, 7 Juni 2026: Misi Akhiri Paceklik Kemenangan
- 2Prediksi Skor Denmark vs Ukraina, 7 Juni 2026: De Rod-Hvide Bidik Kebangkitan di Odense
- 3Prediksi Skor Arab Saudi vs Puerto Rico, 6 Juni 2026: Kesempatan Falcons Kembali ke Jalur Kemenangan
- 4Prediksi Skor Georgia vs Bahrain, 5 Juni 2026: Crusaders Ingin Perpanjang Rekor Tak Terkalahkan
- 5Daftar 15 Lokasi Nobar Timnas Indonesia vs Mozambik di Jabodetabek pada FIFA Matchday Hari Ini, Selasa 9 Juni 2026
- 6Prediksi Skor Yunani vs Italia, 8 Juni 2026: Ujian Berat Generasi Baru Azzurri
- 7Daftar 33 Lokasi Nobar Timnas Indonesia vs Oman di Jakarta dalam FIFA Matchday 2026 Hari Ini, Yuk Dukung Garuda!
- 8Prediksi Skor Slovakia vs Montenegro, 5 Juni 2026: Duel Sengit di Kosicka
- 9Ancol Sunset Sound: Cara Baru Menikmati Sunset di Jakarta Lewat Musik, Pantai, Kuliner, dan Staycation
- 10Dorong Pola Hidup Sehat dan Ekonomi Lokal, Bupati Tangerang Lepas Fun Run 5K Komunitas Wisata Kreatif 2026






