Jakarta

Xi Jinping Tegaskan Hubungan AS-China Terancam Konflik Jika Salah Tangani Isu Taiwan

Yusuf Doank | 14 Mei 2026, 18:48 WIB
Xi Jinping Tegaskan Hubungan AS-China Terancam Konflik Jika Salah Tangani Isu Taiwan
Xi Jinping dan Donald Trump

AKURAT JAKARTA - Presiden China Xi Jinping memberikan peringatan keras kepada Amerika Serikat (AS) terkait penanganan isu Taiwan.

Xi menegaskan bahwa hubungan bilateral antara kedua kekuatan besar dunia itu terancam mengalami benturan hingga konflik terbuka jika persoalan Taiwan tidak ditangani dengan tepat.

Pernyataan tersebut disampaikan Xi Jinping dalam jamuan resmi bersama Presiden AS Donald Trump di Balai Agung Rakyat, Beijing, Kamis (14/5/2026).

Baca Juga: Trump Tangguhkan Operasi Militer Usai Mediasi Pakistan

Xi menekankan bahwa posisi Taiwan merupakan fondasi paling krusial dalam hubungan diplomatik kedua negara.

"Jika ditangani dengan benar, hubungan bilateral akan menikmati stabilitas secara keseluruhan. Jika tidak, kedua negara akan mengalami benturan bahkan konflik yang membahayakan seluruh hubungan," kata Xi sebagaimana dilaporkan kantor berita Xinhua.

Xi menjabarkan bahwa perdamaian di Selat Taiwan adalah kepentingan bersama yang paling besar bagi Beijing maupun Washington.

Namun, ia menggarisbawahi bahwa stabilitas kawasan tersebut tidak akan pernah bisa berjalan berdampingan dengan upaya-upaya kemerdekaan Taiwan.

Di sisi lain, Presiden Donald Trump menyatakan bahwa agenda kunjungannya ke China kali ini memang menaruh sorotan pada dukungan pertahanan AS terhadap Taiwan, selain membahas konflik di Timur Tengah dan isu tarif perdagangan.

Ketegangan antara kedua negara ini semakin meruncing setelah adanya desakan dari kelompok senator bipartisan di AS agar Trump melanjutkan pengiriman paket senjata senilai 14 miliar dolar AS atau setara Rp245,3 triliun yang sempat tertunda.

Beijing secara konsisten melayangkan protes keras terhadap langkah AS yang menjadi pemasok utama persenjataan bagi Taipei.

China tetap pada pendiriannya bahwa Taiwan merupakan provinsi yang memisahkan diri dan menjadi bagian tak terpisahkan dari kedaulatan Tiongkok.

Sementara itu, Taiwan bersikukuh mempertahankan posisinya sebagai pemerintahan independen yang telah berjalan sejak 1949.

Pertemuan kedua pemimpin ini dinilai sebagai momentum krusial untuk menentukan arah kebijakan global, mengingat besarnya dampak yang akan timbul bagi ekonomi dan keamanan dunia jika terjadi eskalasi konflik di Selat Taiwan.(*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Y
Reporter
Yusuf Doank
Y