Jakarta

Desa Bahagia Paskibraka Kabupaten Tangerang 2026 Resmi Ditutup, Bupati Maesyal: Jadilah Teladan Generasi Penerus yang Hebat!

M Rahman Akurat | 19 Agustus 2026, 08:14 WIB
 Desa Bahagia Paskibraka Kabupaten Tangerang 2026 Resmi Ditutup, Bupati Maesyal: Jadilah Teladan Generasi Penerus yang Hebat!
Bupati Maesyal menjabat tangan para anggota Paskibraka Kabupaten Tangerang 2026. - (Dok. Diskominfo)

AKURAT JAKARTA – Pemusatan Pendidikan dan Pelatihan Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Kabupaten Tangerang Tahun 2026 resmi ditutup.

Prosesi penutupan berlangsung khidmat di Hotel Yasmin, Kabupaten Tangerang, pada Selasa (18/8/2026).

Kegiatan intensif ini telah berlangsung sejak 10 hingga 17 Agustus 2026 menggunakan Sistem Desa Bahagia.

Baca Juga: Tetap Jadi SUV Paling Tangguh! Land Cruiser Berevolusi Jadi Varian Hybrid 457 HP, Desain Garang, Performa Naik Drastis

Pelatihan tersebut menjadi rangkaian krusial dalam pembentukan karakter dan penguatan kesiapan fisik serta mental para anggota Paskibraka, sebelum akhirnya sukses menjalankan tugas pada Upacara Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Dalam arahannya, Bupati Tangerang, Mochamad Maesyal Rasyid, menegaskan bahwa nilai-nilai kebangsaan dan wawasan yang diperoleh selama pelatihan tidak boleh pudar setelah tugas pengibaran bendera selesai.

Para alumni Paskibraka diminta untuk membawa pulang ilmu yang didapat dari Desa Bahagia ke kehidupan sehari-hari.

"Tugas kalian sebagai Paskibraka mungkin telah selesai, tetapi tugas kalian sebagai generasi penerus bangsa baru saja dimulai. Jadilah teladan dan jadikan nilai serta pengalaman yang diperoleh sebagai bekal untuk meraih cita-cita," tegas Bupati Maesyal.

Baca Juga: Massa Demo Telah Bubar, BEM UI Pastikan Aksi Berlanjut jika Pemerintah Tak Berbenah

Pembentukan Karakter Lewat Sistem Desa Bahagia

Bupati Maesyal menjelaskan bahwa penerapan Sistem Desa Bahagia memegang peranan penting dalam proses pembentukan karakter peserta.

Melalui sistem ini, para pelajar yang datang dari latar belakang sekolah, keluarga, dan lingkungan yang berbeda ditempa untuk hidup bersama secara harmonis.

Selama di karantina, mereka dibina untuk saling menghargai, saling membantu, serta membangun rasa persaudaraan yang kokoh. Pola pengasuhan ini diharapkan melahirkan figur pemuda yang berjiwa sosial tinggi.

“Menjadi generasi muda tidak cukup hanya dengan memiliki kemampuan dan prestasi, tetapi juga harus memiliki kepedulian, karakter, semangat gotong royong, dan mampu memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujarnya.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.