Amerika dan Israel Langgar Perjanjian, Iran Tutup Kembali Selat Hormuz

AKURAT JAKARTA — Jalur perdagangan energi dunia kembali berada dalam ambang ketidakpastian setelah Iran dilaporkan menutup kembali Selat Hormuz pada Rabu (8/4/2026).
Langkah sepihak Teheran ini dilakukan sebagai respons atas eskalasi serangan Israel di Lebanon, sekaligus mengancam kesepakatan gencatan senjata yang baru saja dijalin dengan Amerika Serikat (AS).
Penutupan jalur strategis yang mengangkut sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas global tersebut memicu ketegangan baru di kawasan Teluk.
Baca Juga: Transjakarta Perluas Booking Seat Royaltrans, Penumpang Kini Bisa Pastikan Kursi Sebelum Berangkat
Gedung Putih merespons keras dengan menuntut pembukaan segera akses selat guna menjaga proses pembicaraan damai tetap berada pada jalurnya.
Ketegangan ini dipicu oleh perbedaan persepsi mengenai cakupan gencatan senjata. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa berakhirnya perang di Lebanon merupakan bagian integral dari kesepakatan.
Namun, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden AS Donald Trump secara tegas menyatakan bahwa gencatan senjata tersebut tidak berlaku untuk operasi di wilayah Lebanon.
Kondisi di lapangan semakin memburuk setelah Israel memperluas serangan terhadap kelompok Hizbullah di Beirut.
Berdasarkan laporan Al Jazeera, serangan pada Rabu kemarin menjadi hari paling mematikan dengan korban tewas mencapai 254 orang dan ribuan lainnya luka-luka.
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menilai kelanjutan pembicaraan damai saat ini menjadi "tidak masuk akal".
Dia menuding Washington telah melanggar syarat-syarat krusial, termasuk adanya dugaan drone AS yang memasuki wilayah udara Iran pasca-gencatan senjata serta penolakan terhadap hak pengayaan uranium Iran.
Selain penutupan selat, pihak Iran juga menyatakan bahwa berdasarkan kesepakatan, mereka memiliki kewenangan untuk memberlakukan biaya transit bagi setiap kapal yang melintas.
Hal ini menambah kekhawatiran pelaku pasar global akan lonjakan biaya logistik dan inflasi energi di tengah situasi geopolitik yang kian rapuh.
Hingga saat ini, otoritas resmi Iran belum merilis pernyataan tertulis terkait durasi penutupan tersebut. Sementara itu, Perdana Menteri Pakistan yang bertindak sebagai mediator terus berupaya meredam situasi dengan menegaskan bahwa kesepakatan damai seharusnya berlaku secara menyeluruh di semua wilayah konflik.(*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini




Terpopuler
- 1Prediksi Skor AZ Alkmaar vs Hapoel Beer Sheva di UEL, 15 Oktober 2026: Mampukah Tuan Rumah Pertahankan Rekor Kandang?
- 2Prediksi Skor Hoffenheim vs Besiktas di UEL, 16 Oktober 2026: Mampukah Die Kraichgauer Bangkit di Kandang?
- 3Prediksi Skor Eintracht Frankfurt vs FC Koln di Bundesliga, 17 Oktober 2026: Mampukah Die Adler Bangkit dari Kekalahan Telak?
- 4Prediksi Skor Deportivo La Coruna vs Levante di La Liga, 17 Oktober 2026: Mampukah Tuan Rumah Akhiri Tren Negatif?
- 5Prediksi Skor Sparta Praha vs Lillestrom di UEL, 15 Oktober 2026: Tren Positif Tuan Rumah Diuji Wakil Norwegia
- 6Prediksi Skor Celje vs Omonia di UEL, 15 Oktober 2026: Mampukah Tuan Rumah Bangkit dari Kekalahan?
- 7Prediksi Skor Union Saint-Gilloise vs Real Sociedad di UEL, 15 Oktober 2026: Tuan Rumah Incar Kemenangan Kedua
- 8Prediksi Skor Frosinone vs Sassuolo di Serie A, 17 Oktober 2026: Mampukah Canarini Balas Dendam atas Neroverdi?
- 9Pertama dan Satu-Satunya! Mitra Driver Gojek Terpilih dari Seluruh Indonesia Kibarkan Merah Putih
- 10Permudah Transaksi Nasabah, BPR Kerta Raharja Gemilang Luncurkan Layanan Digital MOLEC, Ini Kelebihannya!





