Mojtaba Khamenei Resmi Dipilih Sebagai Pemimpin Tertinggi Iran, Berikut Profil Singkatnya

AKURAT JAKARTA - Majelis Pakar Iran yang beranggotakan 88 ulama senior, resmi menunjuk Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Iran ketiga.
Penunjukan ini dilakukan menyusul tewasnya sang ayah, Ayatollah Ali Khamenei, dalam serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel pada Sabtu (28/2/2026).
Ayatollah Seyyed Mojtaba Hosseini Khamenei adalah putra kedua dari mendiang Ali Khamenei.
Baca Juga: Bupati Tangerang Tinjau Banjir di 15 Kecamatan, Siagakan Pompa hingga Berikan Bantuan Logistik
Lahir di Mashhad pada tahun 1969, pria berusia 56 tahun ini telah lama menjadi sosok berpengaruh di lingkaran dalam pemerintahan, meski jarang muncul di depan publik.
Mojtaba Khamenei tidak pernah mencalonkan diri untuk jabatan publik atau mengikuti pemilihan umum, tetapi selama beberapa dekade telah menjadi tokoh yang sangat berpengaruh di lingkaran dalam pemimpin tertinggi.
Ia juga membina hubungan yang erat dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
Pemimpin tertinggi berusia 56 tahun tersebut juga tidak pernah membahas masalah suksesi secara terbuka.
Membahas itu dianggap sebagai isu sensitif, karena kenaikannya disebut bakal menciptakan dinasti, yang mengingatkan pada monarki Pahlavi sebelum revolusi Islam 1979.
Majelis Pakar Iran telah memilih Mojtaba, seorang ulama berusia 56 tahun, sebagai penerus mendiang ayahnya.
Mojtaba mengumpulkan kekuasaan di bawah ayahnya sebagai tokoh senior yang dekat dengan pasukan keamanan Iran dan kerajaan bisnis besar yang mereka kendalikan.
Dia menentang para reformis yang berupaya menjalin hubungan dengan Barat, dalam upaya mereka untuk mengekang program nuklir Irna.
Hubungan dekatnya dengan Garda Revolusi Iran (IRGC), memberikan pengaruh tambahan kepada Mojtaba di seluruh aparatur politik dan keamanan Iran.
Menurut sumber yang memahami latar belakangnya, Mojtaba juga telah membangun pengaruh di balik layar sebagai "penjaga gerbang" ayahnya.
Pemimpin tertinggi Iran memegang hak untuk mengambil keputusan akhir dalam urusan negara, termasuk kebijakan luar negeri dan program nuklir Iran.
Kekuatan Barat ingin mencegah Teheran mengembangkan senjata nuklir, dengan Iran berulang kali mengatakan program nuklirnya hanya untuk tujuan sipil.
Mojtaba dapat menghadapi perlawan warga Iran yang menunjukkan kesiapan untuk melakukan unjuk rasa massal guna menekan tuntutan mereka akan kebebasan yang lebih besar, meskipun terjadi penindakan brutal oleh otoritas keamanan Teheran.
Profil Mojtaba Khamenei
Mojtaba lahir tahun 1969 di kota suci Mashhad dan tumbuh besar saat ayahnya membantu memimpin perlawanan oposisi terhadap Shah.
Sebagai seorang pemuda, dia pernah bertugas bersama militer Iran dalam perang Iran-Irak silam.
Dia belajar di bawah bimbingan kaum konservatif agama di Qom, pusat pembelajaran ajaran Syiah, dan memiliki gelar Hoojjatoleslam.
Dia tidak pernah memegang posisi formal dalam pemerintahan Iran, namun pernah muncul dalam aksi-aksi loyalis meskipun jarang berbicara di depan umum.
Baca Juga: Jangan Sia-siakan! Ini 5 Keutamaan Membaca Al-Qur’an di Bulan Ramadhan
Di sisi lain, peran Mojtaba telah sejak lama menjadi kontroversi di Iran, dengan para pengkritik menolak segala bentuk politik dinasti di negara yang menggulingkan monarki yang didukung AS pada tahun 1979 silam.
Para pengkritik menilai Mojtaba tidak memiliki kualifikasi keagamaan yang cukup untuk menjadi pemimpin tertinggi Iran.
Gelar Hojjatoleslam yang dipegangnya berada satu tingkat di bawah pangkat Ayatollah, posisi yang dipegang oleh mendiang ayahnya dan mendiang Ruhollah Khomenei, pendiri Republik Islam Iran.
Namun terlepas dari kritikan itu, Mojtaba tetap menjadi kandidat utama untuk pemimpin tertinggi Iran, setelah kandidat terkemuka lainnya, termasuk mantan Presiden Ebrahim Raisi tewas dalam kecelakaan helikopter tahun 2024.
Departemen Keuangan AS menjatuhkan sanksi kepada Mojtaba tahun 2019 lalu, dengan menyatakan bahwa dia mewakili pemimpin tertinggi dalam "kapasitas resmi meskipun tidak pernah terpilih atau diangkat ke posisi pemerintahan" selain bekerja di kantor ayahnya.
Dalam situsnya disebutkan bahwa mendiang Khamenei sebelumnya telah mendelegasikan sebagian tanggung jawabnya kepada Mojtaba, yang dikatakan telah bekerja sama erat dengan komandan pasukan Quds IRGC dan Basij, milisi keagamaan yang berafiliasi dengan IRGC. (*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









