Siapa Pemimpin Tertinggi Iran Pengganti Ali Khamenei? Nama Mojtaba dan Alireza Arafi Mencuat, Tapi...

AKURAT JAKARTA – Teka-teki mengenai siapa sosok yang memimpin Iran pasca kematian Ayatollah Ali Khamenei akibat serangan udara Amerika Serikat dan Israel masih diselimuti ketidakpastian.
Di tengah simpang siur informasi, dua nama besar muncul ke permukaan: Alireza Arafi dan putra mendiang Khamenei, Mojtaba Khamenei.
Berdasarkan laporan AFP, Dewan Penentu Kebijakan awalnya menunjuk Ayatollah Alireza Arafi sebagai anggota Dewan Kepemimpinan Sementara.
Tugasnya adalah memimpin Iran di masa transisi bersama Presiden Masoud Pezeshkian dan Kepala Kehakiman Gholamhossein Mohseni Ejei.
Namun, posisi Arafi kini dipertanyakan. Laporan yang beredar di media sosial seperti Reddit dan The Sunday Guardian menyebutkan bahwa Arafi diduga tewas dalam serangan udara susulan hanya beberapa jam setelah menjabat.
Meskipun hingga saat ini, pemerintah Iran belum memberikan konfirmasi resmi terkait status keselamatan Arafi.
Mojtaba Khamenei Kandidat Kuat Pemimpin Tertinggi Iran Selanjutnya?
Di tengah kekosongan kekuasaan, Majelis Para Ahli Iran (Assembly of Experts) dikabarkan telah memilih Mojtaba Khamenei (56) sebagai Pemimpin Tertinggi Iran yang baru.
Sesuai konstitusi Republik Islam Iran, Majelis Para Ahli yang beranggotakan 88 ulama Syiah memiliki wewenang mutlak untuk memilih Pemimpin Tertinggi (Rahbar), mengawasi kinerja pemimpin yang menjabat, dan memberhentikan pemimpin jika dianggap tidak lagi memenuhi syarat.
Diketahui, Mojtaba adalah putra tertua kedua Ali Khamenei yang dikenal memiliki pengaruh besar di balik layar.
Mojtaba dikabarkan memiliki koneksi sangat kuat dengan Korps Garda Revolusi Iran (IRGC). Ia merupakan veteran erang Iran-Irak.
Meski demikian, Mojtaba bukan ulama berpangkat tinggi dan tidak pernah memegang jabatan resmi di pemerintahan sebelumnya.
Meski nama Mojtaba Khamenei santer disebut sebagai suksesor, pemilihan ini diprediksi akan menghadapi tantangan besar.
Selain status keagamaannya yang belum mencapai tingkat Ayatollah tinggi, prinsip-prinsip Syiah dan dinamika internal pasca serangan udara besar-besaran membuat stabilitas politik Iran berada di titik nadir. (*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini



Terpopuler
- 1Prediksi Skor AZ Alkmaar vs Hapoel Beer Sheva di UEL, 15 Oktober 2026: Mampukah Tuan Rumah Pertahankan Rekor Kandang?
- 2Prediksi Skor Hoffenheim vs Besiktas di UEL, 16 Oktober 2026: Mampukah Die Kraichgauer Bangkit di Kandang?
- 3Prediksi Skor Eintracht Frankfurt vs FC Koln di Bundesliga, 17 Oktober 2026: Mampukah Die Adler Bangkit dari Kekalahan Telak?
- 4Prediksi Skor Deportivo La Coruna vs Levante di La Liga, 17 Oktober 2026: Mampukah Tuan Rumah Akhiri Tren Negatif?
- 5Prediksi Skor Sparta Praha vs Lillestrom di UEL, 15 Oktober 2026: Tren Positif Tuan Rumah Diuji Wakil Norwegia
- 6Prediksi Skor Celje vs Omonia di UEL, 15 Oktober 2026: Mampukah Tuan Rumah Bangkit dari Kekalahan?
- 7Prediksi Skor Union Saint-Gilloise vs Real Sociedad di UEL, 15 Oktober 2026: Tuan Rumah Incar Kemenangan Kedua
- 8Prediksi Skor Frosinone vs Sassuolo di Serie A, 17 Oktober 2026: Mampukah Canarini Balas Dendam atas Neroverdi?
- 9Pertama dan Satu-Satunya! Mitra Driver Gojek Terpilih dari Seluruh Indonesia Kibarkan Merah Putih
- 10Permudah Transaksi Nasabah, BPR Kerta Raharja Gemilang Luncurkan Layanan Digital MOLEC, Ini Kelebihannya!





