Inna Lillahi... Pemerintah Iran Konfirmasi Ayatollah Ali Khamenei Syahid Dibombardir Rudal Israel, Umumkan Masa Berkabung Selama 40 Hari

AKURAT JAKARTA - Dunia internasional diguncang kabar duka sekaligus ketegangan hebat setelah Pemimpin Besar Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dilaporkan meninggal dunia atau syahid pada Sabtu (28/2/2026).
Berdasarkan laporan resmi dari kantor berita pemerintah Iran, Fars dan Tasnim, tokoh sentral Republik Islam tersebut syahid akibat serangan udara terencana yang dilancarkan oleh militer Israel dan Amerika Serikat (AS).
Menurut laporan Fars News Agency, Ayatollah Khamenei meninggal dunia di kantornya saat sedang menjalankan tugas kenegaraan pada Sabtu pagi.
Baca Juga: Bupati Tangerang Buka Seminar Nasional: Implementasi KUHP Baru Harus Adil dan Konsisten
Militer Israel dan Amerika menjatuhkan 30 rudal dan menargetkan kompleks kediaman dan kantor kepemimpinan tertinggi di Teheran.
Sebelum konfirmasi resmi dari pihak Iran, Al Jazeera melaporkan bahwa Israel dan AS telah lebih dulu mengeklaim keberhasilan operasi tersebut.
Meski awalnya Pemerintah Iran sempat membantah dan menyebut kabar tersebut sebagai bentuk "perang psikologis", namun akhirnya otoritas setempat memberikan konfirmasi resmi mengenai syahidnya sang Pemimpin Besar.
Baca Juga: Perkuat Ketahanan Keluarga, Wabup Intan Minta Kader MKIA Kabupaten Tangerang Fokus ke Pencegahan
Putrinya, Menantu, dan Cucu Juga Jadi Martir
Tragedi ini juga membawa duka bagi keluarga besar Khamenei. Mengutip sumber internal, kantor berita Fars melaporkan bahwa putri, menantu, hingga cucu dari Ali Khamenei turut menjadi korban jiwa dalam serangan tersebut.
"Berita tentang kemartiran putri, menantu, dan cucu dari Pemimpin Revolusioner sayangnya telah dikonfirmasi," lapor Fars sebagaimana dilansir AFP pada Minggu (1/3/2026).
Terkait syahidnya Ali Khamenei, Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran segera mengumumkan langkah-langkah darurat sebagai bentuk penghormatan terakhir.
Baca Juga: Biadab! Israel dan Amerika Rudal Sekolah SD Putri Iran, 59 Siswi Tewas dan 60 Lainnya Luka-luka
Pemerintah Iran menetapkan masa berkabung nasional selama 40 hari. Semua kegiatan publik, perkantoran, dan bisnis diliburkan selama 7 hari berturut-turut.
Kematian Ali Khamenei, yang telah memimpin Iran sejak 1989, diprediksi akan mengubah peta geopolitik di Timur Tengah secara drastis.
Sebelum serangan Israel dan Amerika berlangsung kemarin, Ali Khamenei telah berulang kali menyatakan bahwa kematiannya hanyalah perkara waktu dan tidak akan melemahkan pemerintahan Republik Islam.
Dia juga menyatakan negaranya sudah siap untuk perang panjang dan melakukan suksesi kepemimpinan, jika ia harus wafat dalam serangan AS dan Israel.
Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan bahwa Ali Khamenei telah tewas akibat serangan udara gabungan AS dan Israel yang menyasar jantung kota Teheran.
"Khamenei, salah satu orang paling jahat dalam sejarah, telah mati," tulis Trump melalui platform Truth Social miliknya, sebagaimana dilansir dari AFP pada Minggu (1/3/2026).
Serangan masif tersebut dilaporkan terjadi pada Sabtu (28/2/2026). Militer AS dan Israel menargetkan kompleks kediaman Khamenei di Teheran dengan intensitas tinggi.
Baca Juga: BI Pastikan Tidak Ada Penukaran Uang Baru Periode Ketiga, Masyarakat Diimbau Ke Bank Umum
Menurut laporan media Channel 12 Israel, setidaknya 30 bom dijatuhkan tepat di titik koordinat yang diyakini sebagai persembunyian sang pemimpin.
"Ali Khamenei dilaporkan berada di bawah tanah saat serangan terjadi, namun kemungkinan besar ia tidak berada di dalam bunker pelindung utamanya," tulis laporan tersebut.
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, turut menguatkan klaim tersebut dalam pidato televisinya. Netanyahu menyebut operasi mendadak ini sebagai langkah dahsyat untuk menghancurkan pusat komando Iran.
"Pagi ini, kompleks kediaman diktator Ali Khamenei dihancurkan di jantung Teheran. Ada banyak indikasi kuat bahwa diktator ini sudah tidak bernyawa lagi," tegas Netanyahu.
Pejabat senior Israel yang dikutip oleh Reuters juga mengonfirmasi bahwa intelijen mereka meyakini Khamenei tidak selamat dalam operasi tersebut. (*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









