Jakarta

Kisah di Balik Kehadiran Risky di Sidang Tahunan MPR: Dari Putus Sekolah hingga Sekolah Rakyat

Anggerhana Denni Rahmawati | 15 Agustus 2026, 16:15 WIB
Kisah di Balik Kehadiran Risky di Sidang Tahunan MPR: Dari Putus Sekolah hingga Sekolah Rakyat
Kisah Risky berubah setelah masuk Sekolah Rakyat.

AKURAT JAKARTA - Muhammad Risky Pratama mungkin tidak pernah membayangkan perjalanan hidupnya akan membawanya ke Gedung Nusantara, Senayan.

Siswa Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 2 Medan itu hadir dalam Sidang Tahunan MPR RI 2026 pada Jumat (14/8), mengenakan pakaian daerah dan berdiri di hadapan para pejabat negara.

Namun, kehadiran Risky di forum kenegaraan tersebut bukan sekadar bagian dari seremoni.

Di balik penampilannya yang percaya diri, ada perjalanan panjang seorang anak berusia 12 tahun yang sempat kehilangan kesempatan untuk bersekolah.

Presiden Prabowo Subianto mengungkap kisah Risky dalam Sidang Tahunan MPR RI.

Sebelum kembali mendapatkan pendidikan melalui Sekolah Rakyat, Risky sempat putus sekolah.

Kondisi tersebut membuat kemampuan akademiknya tertinggal.

Bahkan, ketika pertama kali masuk Sekolah Rakyat, Risky disebut belum lancar membaca dan menghitung.

Di usia yang seharusnya diisi dengan kegiatan belajar dan bermain, Risky justru pernah menjalani aktivitas yang jauh berbeda.

Ia mengayuh sepeda hingga puluhan kilometer untuk menjajakan ikan.

Beban yang dibawanya pun tidak ringan.

Baca Juga: Kemendagri Buka 65 Posisi Magang, Mahasiswa Bisa Coba Pengalaman Kerja di Sini

Risky harus membawa sekitar 30 kilogram ikan saat berkeliling untuk berjualan.

"Risky pernah mengayuh sepeda puluhan kilometer sambil membawa sekitar 30 kilogram ikan untuk dijual. Luar biasa kamu Risky, kamu anak yang baik. Ia sempat putus sekolah. Bahkan saat masuk Sekolah Rakyat belum lancar membaca dan menghitung dengan baik," ujar Prabowo.

Dari Mencari Uang hingga Kembali Belajar

Kisah Risky memperlihatkan bagaimana kondisi ekonomi dapat membuat pendidikan seorang anak terhenti.

Ketika kebutuhan sehari-hari harus dipenuhi, sekolah bisa saja menjadi sesuatu yang terpaksa ditinggalkan.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.