Jakarta

Ketika Harapan Tiba-Tiba Terputus, Kisah Guru Non-ASN di Lampung Ini Ungkap Dampak Psikologis Ketidakpastian

Anggerhana Denni Rahmawati | 7 Agustus 2026, 20:45 WIB
Ketika Harapan Tiba-Tiba Terputus, Kisah Guru Non-ASN di Lampung Ini Ungkap Dampak Psikologis Ketidakpastian
Tangis guru non-ASN di Lampung bukan sekadar soal dirumahkan.

AKURAT JAKARTA - Tangisan Anna Zelvia saat meminta bantuan kepada pemerintah menjadi gambaran keresahan yang dirasakan puluhan guru non-ASN di Kota Metro, Lampung.

Namun, jika dilihat lebih jauh, persoalan yang mereka hadapi bukan hanya kehilangan pekerjaan.

Ada beban psikologis yang muncul ketika masa depan seseorang berubah menjadi penuh ketidakpastian.

Dalam psikologi, kondisi tersebut dikenal sebagai intolerance of uncertainty, yaitu keadaan ketika seseorang mengalami tekanan emosional karena tidak mengetahui apa yang akan terjadi pada masa depannya.

Bagi banyak orang, ketidakpastian sering kali terasa lebih berat daripada menerima kenyataan yang pahit sekalipun, karena pikiran terus dipenuhi berbagai kemungkinan buruk yang belum tentu terjadi.

Kondisi inilah yang tergambar dalam perjuangan Forum Komunikasi Guru Non-ASN Kota Metro.

Sedikitnya 29 guru dan tenaga kependidikan terdampak kebijakan yang membuat mereka dirumahkan sejak awal 2026.

Selain kehilangan pekerjaan, mereka juga menghadapi persoalan penonaktifan data Dapodik yang dikhawatirkan menghilangkan kesempatan mengikuti kebijakan penataan guru non-ASN dari pemerintah pusat.

Dalam video yang beredar pada Jumat (7/8/2026), Anna menyampaikan permohonan kepada Presiden Prabowo Subianto, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti, Direktur Jenderal Guru, Tenaga Kependidikan, dan Pendidikan Guru Nunuk Suryani, serta Komisi X DPR RI.

"Tolong kami, Bapak, Ibu. Kami di sini adalah guru yang sudah bersertifikat pendidik, sudah ber-NUPTK, sudah mengabdi bertahun-tahun, Dapodik kami juga sudah terdata dari 2019, dan kami harus menerima pil pahit, kami harus dirumahkan per Januari 2026," ujar Anna sambil menangis.

Baca Juga: Berlayar ke Pulau Terpencil, Alumni UNS Menemukan Fakta yang Mengubah Cara Pandang tentang Masa Depan

Menurut Anna, berbagai upaya telah dilakukan, mulai dari meminta pendampingan kepada PGRI, beraudiensi dengan DPRD Kota Metro, hingga menemui Dinas Pendidikan.

Namun hingga kini, belum ada kepastian mengenai penyelesaian persoalan yang mereka hadapi.

"Tetapi sampai sekarang belum ada kejelasan mengenai nasib kami," katanya.

Dalam psikologi, situasi seperti ini dapat memunculkan ambiguous loss, yaitu kehilangan yang tidak memiliki penyelesaian yang jelas.

Para guru belum benar-benar mendapatkan kepastian apakah masih memiliki peluang kembali mengajar atau justru harus mencari jalan hidup yang sama sekali baru.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.