Kasus Mahasiswi Undana Jadi Pengingat, Tekanan Akademik Tak Selalu Berasal dari Nilai

AKURAT JAKARTA - Kasus mahasiswi Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang berinisial JS yang menjalani perawatan di rumah sakit setelah mengalami penurunan kondisi fisik dan mental menjadi perhatian publik.
Peristiwa ini bermula dari dugaan adanya perubahan dosen penguji secara mendadak sesaat sebelum ujian.
Meski penyebab pasti kondisi JS masih didalami, kasus tersebut membuka pembahasan mengenai dampak psikologis dari ketidakpastian dalam lingkungan akademik.
Dalam psikologi dikenal konsep Intolerance of Uncertainty (IU), yaitu kecenderungan seseorang mengalami tekanan emosional yang tinggi ketika menghadapi situasi yang tidak dapat diprediksi atau berubah secara tiba-tiba.
Bagi sebagian orang, perubahan mendadak bukan hanya memunculkan rasa kecewa, tetapi juga dapat meningkatkan kecemasan karena rencana yang telah dipersiapkan dalam waktu lama mendadak berubah.
Situasi seperti menjelang ujian skripsi termasuk salah satu fase dengan tingkat tekanan tinggi.
Mahasiswa umumnya telah menginvestasikan waktu, tenaga, dan emosi selama berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun.
Ketika muncul perubahan yang tidak diperkirakan pada tahap akhir, sebagian individu dapat merasakan kehilangan kontrol atas situasi yang selama ini berusaha mereka persiapkan.
Namun demikian, penting dipahami bahwa kondisi psikologis setiap orang berbeda.
Tidak semua orang akan memberikan respons yang sama terhadap tekanan, dan hingga kini pihak kampus juga belum menyimpulkan hubungan sebab akibat antara perubahan penguji dengan kondisi yang dialami JS. Proses pendalaman fakta masih berlangsung.
Baca Juga: Drone Show hingga Makanan Gratis, Begini Wajah Baru Monas saat Perayaan HUT RI ke-81
Rektor Undana, Prof. Dr. Ir. Jefri S. Bale, mengatakan fokus utama kampus saat ini adalah memastikan JS memperoleh pemulihan fisik dan mental terlebih dahulu.
Menurutnya, hak akademik mahasiswi tersebut tetap akan dijamin hingga dapat menyelesaikan studinya.
"Kami sampaikan agar fokus dulu pada pemulihan kesehatannya. Soal kelanjutan studi dan hak akademiknya, kampus menjamin akan dipenuhi sepenuhnya."
Rektor juga menyampaikan bahwa setelah bertemu langsung dengan JS di rumah sakit, kondisi mahasiswi tersebut menunjukkan perkembangan yang lebih baik setelah menjalani perawatan intensif.
"Walau masih butuh perawatan medis lanjutan, kabar perkembangan ini menjadi penyemangat bagi kita semua."
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini



Terpopuler
- 1Prediksi Skor AZ Alkmaar vs Hapoel Beer Sheva di UEL, 15 Oktober 2026: Mampukah Tuan Rumah Pertahankan Rekor Kandang?
- 2Prediksi Skor Hoffenheim vs Besiktas di UEL, 16 Oktober 2026: Mampukah Die Kraichgauer Bangkit di Kandang?
- 3Prediksi Skor Eintracht Frankfurt vs FC Koln di Bundesliga, 17 Oktober 2026: Mampukah Die Adler Bangkit dari Kekalahan Telak?
- 4Prediksi Skor Deportivo La Coruna vs Levante di La Liga, 17 Oktober 2026: Mampukah Tuan Rumah Akhiri Tren Negatif?
- 5Prediksi Skor Sparta Praha vs Lillestrom di UEL, 15 Oktober 2026: Tren Positif Tuan Rumah Diuji Wakil Norwegia
- 6Prediksi Skor Celje vs Omonia di UEL, 15 Oktober 2026: Mampukah Tuan Rumah Bangkit dari Kekalahan?
- 7Prediksi Skor Union Saint-Gilloise vs Real Sociedad di UEL, 15 Oktober 2026: Tuan Rumah Incar Kemenangan Kedua
- 8Prediksi Skor Frosinone vs Sassuolo di Serie A, 17 Oktober 2026: Mampukah Canarini Balas Dendam atas Neroverdi?
- 9Pertama dan Satu-Satunya! Mitra Driver Gojek Terpilih dari Seluruh Indonesia Kibarkan Merah Putih
- 10Permudah Transaksi Nasabah, BPR Kerta Raharja Gemilang Luncurkan Layanan Digital MOLEC, Ini Kelebihannya!






