Jakarta

Kasus Mahasiswi Undana Jadi Pengingat, Tekanan Akademik Tak Selalu Berasal dari Nilai

Anggerhana Denni Rahmawati | 3 Agustus 2026, 17:30 WIB
Kasus Mahasiswi Undana Jadi Pengingat, Tekanan Akademik Tak Selalu Berasal dari Nilai
Ilustrasi mahasiswi yang sedang stres. - Magnific

AKURAT JAKARTA - Kasus mahasiswi Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang berinisial JS yang menjalani perawatan di rumah sakit setelah mengalami penurunan kondisi fisik dan mental menjadi perhatian publik.

Peristiwa ini bermula dari dugaan adanya perubahan dosen penguji secara mendadak sesaat sebelum ujian.

Meski penyebab pasti kondisi JS masih didalami, kasus tersebut membuka pembahasan mengenai dampak psikologis dari ketidakpastian dalam lingkungan akademik.

Dalam psikologi dikenal konsep Intolerance of Uncertainty (IU), yaitu kecenderungan seseorang mengalami tekanan emosional yang tinggi ketika menghadapi situasi yang tidak dapat diprediksi atau berubah secara tiba-tiba.

Bagi sebagian orang, perubahan mendadak bukan hanya memunculkan rasa kecewa, tetapi juga dapat meningkatkan kecemasan karena rencana yang telah dipersiapkan dalam waktu lama mendadak berubah.

Situasi seperti menjelang ujian skripsi termasuk salah satu fase dengan tingkat tekanan tinggi.

Mahasiswa umumnya telah menginvestasikan waktu, tenaga, dan emosi selama berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun.

Ketika muncul perubahan yang tidak diperkirakan pada tahap akhir, sebagian individu dapat merasakan kehilangan kontrol atas situasi yang selama ini berusaha mereka persiapkan.

Namun demikian, penting dipahami bahwa kondisi psikologis setiap orang berbeda.

Tidak semua orang akan memberikan respons yang sama terhadap tekanan, dan hingga kini pihak kampus juga belum menyimpulkan hubungan sebab akibat antara perubahan penguji dengan kondisi yang dialami JS. Proses pendalaman fakta masih berlangsung.

Baca Juga: Drone Show hingga Makanan Gratis, Begini Wajah Baru Monas saat Perayaan HUT RI ke-81

Rektor Undana, Prof. Dr. Ir. Jefri S. Bale, mengatakan fokus utama kampus saat ini adalah memastikan JS memperoleh pemulihan fisik dan mental terlebih dahulu.

Menurutnya, hak akademik mahasiswi tersebut tetap akan dijamin hingga dapat menyelesaikan studinya.

"Kami sampaikan agar fokus dulu pada pemulihan kesehatannya. Soal kelanjutan studi dan hak akademiknya, kampus menjamin akan dipenuhi sepenuhnya."

Rektor juga menyampaikan bahwa setelah bertemu langsung dengan JS di rumah sakit, kondisi mahasiswi tersebut menunjukkan perkembangan yang lebih baik setelah menjalani perawatan intensif.

"Walau masih butuh perawatan medis lanjutan, kabar perkembangan ini menjadi penyemangat bagi kita semua."

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.