Saat Tekanan Ekonomi Mengalahkan Logika, Pelajaran Psikologi dari Pria yang Diduga Mencuri Sambil Menggendong Bayi

AKURAT JAKARTA - Aksi seorang pria yang diduga mencuri sejumlah produk kosmetik di sebuah minimarket kawasan Kembangan, Jakarta Barat, menjadi sorotan publik.
Bukan hanya karena dugaan pencuriannya, tetapi juga karena pria tersebut melakukan aksinya sambil menggendong seorang bayi.
Berdasarkan keterangan kepolisian, nilai barang yang diambil tergolong kecil dan dugaan sementara menunjukkan pelaku terdorong oleh kesulitan ekonomi.
Kasus ini kemudian berakhir damai setelah pihak minimarket memilih menyelesaikannya secara kekeluargaan tanpa melanjutkan proses hukum.
Dari sudut pandang psikologi, peristiwa ini dapat dikaitkan dengan fenomena survival mode, yaitu kondisi ketika seseorang berada di bawah tekanan hidup yang berat sehingga fokus utamanya bergeser pada pemenuhan kebutuhan yang dianggap paling mendesak.
Dalam situasi seperti ini, kemampuan berpikir jangka panjang dan mempertimbangkan konsekuensi dapat menurun.
Fenomena lain yang juga relevan adalah scarcity mindset atau pola pikir akibat kekurangan.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa tekanan finansial dapat menyita sebagian besar kapasitas mental seseorang.
Pikiran menjadi terus-menerus dipenuhi cara memenuhi kebutuhan sehari-hari sehingga kemampuan mengambil keputusan secara rasional ikut terpengaruh.
Psikologi juga mengenal konsep decision-making under stress, yaitu kecenderungan seseorang membuat keputusan yang lebih impulsif ketika berada dalam tekanan tinggi.
Baca Juga: Teror Bom Palsu Berawal dari Rasa Tersinggung, Ini Penjelasan Psikologi di Baliknya
=====
Kondisi tersebut tidak berarti semua orang yang mengalami kesulitan ekonomi akan melakukan pelanggaran hukum. Sebagian besar justru tetap mencari jalan yang sesuai aturan.
Namun, tekanan yang berlangsung terus-menerus dapat meningkatkan risiko munculnya keputusan yang keliru pada sebagian individu.
Kehadiran bayi dalam peristiwa ini turut memicu reaksi emosional masyarakat karena memperlihatkan bahwa persoalan ekonomi sering kali tidak hanya berdampak pada satu orang, tetapi juga melibatkan anggota keluarga yang bergantung padanya.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa persoalan kriminal ringan terkadang memiliki latar belakang yang kompleks.
Penegakan hukum tetap diperlukan, tetapi upaya mencegah tekanan ekonomi yang berkepanjangan dan memperkuat dukungan sosial juga menjadi bagian penting untuk mengurangi risiko munculnya tindakan serupa di kemudian hari.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Prediksi Skor AZ Alkmaar vs Hapoel Beer Sheva di UEL, 15 Oktober 2026: Mampukah Tuan Rumah Pertahankan Rekor Kandang?
- 2Prediksi Skor Hoffenheim vs Besiktas di UEL, 16 Oktober 2026: Mampukah Die Kraichgauer Bangkit di Kandang?
- 3Prediksi Skor Eintracht Frankfurt vs FC Koln di Bundesliga, 17 Oktober 2026: Mampukah Die Adler Bangkit dari Kekalahan Telak?
- 4Prediksi Skor Deportivo La Coruna vs Levante di La Liga, 17 Oktober 2026: Mampukah Tuan Rumah Akhiri Tren Negatif?
- 5Prediksi Skor Sparta Praha vs Lillestrom di UEL, 15 Oktober 2026: Tren Positif Tuan Rumah Diuji Wakil Norwegia
- 6Prediksi Skor Celje vs Omonia di UEL, 15 Oktober 2026: Mampukah Tuan Rumah Bangkit dari Kekalahan?
- 7Prediksi Skor Union Saint-Gilloise vs Real Sociedad di UEL, 15 Oktober 2026: Tuan Rumah Incar Kemenangan Kedua
- 8Prediksi Skor Frosinone vs Sassuolo di Serie A, 17 Oktober 2026: Mampukah Canarini Balas Dendam atas Neroverdi?
- 9Pertama dan Satu-Satunya! Mitra Driver Gojek Terpilih dari Seluruh Indonesia Kibarkan Merah Putih
- 10Permudah Transaksi Nasabah, BPR Kerta Raharja Gemilang Luncurkan Layanan Digital MOLEC, Ini Kelebihannya!







