Perbedaan Agama Tak Jadi Penghalang Zikir Bersama di Monas, Psikologi Ungkap Alasannya

AKURAT JAKARTA - Ribuan orang memadati kawasan Monumen Nasional (Monas), Jakarta, untuk mengikuti Zikir dan Doa Kebangsaan sebagai pembuka rangkaian Bulan Kemerdekaan.
Menariknya, di tengah dominasi rangkaian ibadah Islam, terlihat pula kehadiran umat Hindu, Buddha, Kristen, Katolik, hingga Khonghucu yang mengikuti acara dengan penuh penghormatan.
Fenomena ini bukan sekadar gambaran toleransi beragama.
Dari sudut pandang psikologi sosial, peristiwa tersebut menunjukkan bagaimana identitas bersama sebagai warga Indonesia mampu mengurangi sekat perbedaan agama.
Ketika seseorang merasa menjadi bagian dari kelompok yang lebih besar, dalam hal ini sebagai bangsa Indonesia, identitas tersebut dapat melampaui identitas kelompok yang lebih kecil seperti agama atau suku.
Konsep ini dikenal sebagai superordinate identity, yaitu kondisi ketika individu merasa memiliki tujuan dan identitas yang sama sehingga lebih mudah bekerja sama serta menghargai kelompok lain.
Fenomena ini juga sejalan dengan teori contact hypothesis dalam psikologi sosial.
Teori tersebut menjelaskan bahwa interaksi positif antaranggota kelompok yang berbeda dapat mengurangi prasangka dan memperkuat rasa saling percaya.
Ketika individu bertemu dalam suasana damai dengan tujuan yang sama, seperti mendoakan bangsa, stereotip negatif cenderung melemah dan empati menjadi lebih kuat.
Dalam konteks Zikir dan Doa Kebangsaan, peserta lintas agama tidak hadir untuk menyamakan keyakinan, melainkan menunjukkan penghormatan terhadap ruang bersama sebagai sesama warga negara.
Sikap tersebut menjadi contoh bahwa keberagaman tidak selalu melahirkan jarak, tetapi justru dapat memperkuat kohesi sosial ketika dibangun di atas rasa saling menghormati.
Acara Zikir dan Doa Kebangsaan diawali dengan penampilan paduan suara Ditjen Bimas Kristen dan Ditjen Bimas Katolik Kementerian Agama.
Setelah itu, rangkaian dilanjutkan dengan pembacaan Al Quran, salat magrib berjamaah, hadrah, serta salawat kebangsaan yang dipimpin Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf. Puncak kegiatan diisi doa bersama yang dipimpin perwakilan berbagai tokoh agama.
Peristiwa di Monas menunjukkan bahwa keharmonisan tidak selalu lahir karena semua orang memiliki keyakinan yang sama.
Sebaliknya, psikologi menjelaskan bahwa ketika masyarakat memiliki tujuan bersama, rasa saling menghormati, dan identitas sebagai satu bangsa, perbedaan justru dapat menjadi kekuatan untuk mempererat persatuan. (*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini



Terpopuler
- 1Prediksi Skor Sevilla vs Rayo Vallecano di La Liga, 16 Agustus 2026: Mampukah Tuan Rumah Meraih Kemenangan Perdana di Laga Pembuka?
- 2Prediksi Skor Deportivo Alaves vs Getafe di La Liga, 16 Agustus 2026: Duel Dua Tim dengan Modal Pramusim Berbeda
- 3Prediksi Skor Deportivo La Coruna vs Elche di La Liga, 18 Agustus 2026: Duel Tim Promosi dan Penghuni Zona Bawah
- 4Prediksi Skor Espanyol vs Levante di La Liga, 17 Agustus 2026: Mampukah Los Periquitos Mengawali Musim dengan Kemenangan Kandang?
- 5Prediksi Skor Racing Santander vs Villarreal di La Liga, 16 Agustus 2026: Debutan Promosi Tantang Penghuni Tiga Besar
- 6Prediksi Skor Casa Pia vs Benfica di Liga Portugal, 18 Agustus 2026: Mampukah Tuan Rumah Mengulang Kejutan?
- 7Prediksi Skor Ajax vs Heerenveen di Eredivisie, 16 Agustus 2026: Mampukah Tuan Rumah Kembali Dominan di Johan Cruijff Arena?
- 8Prediksi Skor Excelsior vs PSV Eindhoven di Eredivisie, 16 Agustus 2026: Mampukah Tuan Rumah Patahkan Dominasi Sang Juara Bertahan?
- 9Permudah Transaksi Nasabah, BPR Kerta Raharja Gemilang Luncurkan Layanan Digital MOLEC, Ini Kelebihannya!
- 10Fasilitas Mewah KM Dharma Kartika V Dinodai Dugaan Pelecehan Anak hingga Pengeroyokan Pelajar, Begini Kronologinya






