Bukan Karena Malas, Ini Penjelasan Psikologi di Balik Sulitnya Mendapat Pekerjaan

AKURAT JAKARTA - Mencari pekerjaan sering kali dianggap hanya bergantung pada kemampuan, pendidikan, atau banyaknya lowongan yang tersedia.
Namun, kenyataannya proses tersebut jauh lebih kompleks.
Di balik jutaan orang yang masih menganggur, terdapat tekanan psikologis yang kerap tidak terlihat, tetapi mampu memengaruhi semangat hingga kepercayaan diri pencari kerja.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan jumlah pengangguran di Indonesia mencapai 7,24 juta orang pada Februari 2026.
Meski turun sekitar 35 ribu orang dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, angka tersebut menunjukkan masih banyak penduduk usia kerja yang belum berhasil masuk ke dunia kerja.
BPS mendefinisikan pengangguran sebagai penduduk berusia 15 tahun ke atas yang belum bekerja tetapi sedang mencari pekerjaan, mempersiapkan usaha, telah diterima bekerja namun belum mulai bekerja, atau merasa sudah tidak mungkin memperoleh pekerjaan sehingga berhenti mencari kerja.
Secara nasional, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) berada di angka 4,68 persen, yang berarti sekitar lima dari setiap 100 angkatan kerja belum memperoleh pekerjaan.
Papua menjadi provinsi dengan tingkat pengangguran tertinggi sebesar 7,02 persen, disusul Kepulauan Riau, Jawa Barat, Banten, Papua Barat Daya, hingga DKI Jakarta.
Jika dilihat dari tingkat pendidikan, lulusan SMK menjadi kelompok dengan tingkat pengangguran tertinggi, yakni 7,74 persen. Setelah itu diikuti lulusan SMA sebesar 6,23 persen dan lulusan perguruan tinggi 6,13 persen.
Di balik angka-angka tersebut, para psikolog mengenal fenomena learned helplessness, yaitu kondisi ketika seseorang mengalami kegagalan berulang sehingga mulai percaya bahwa usahanya tidak akan mengubah hasil.
Baca Juga: Media Sosial Diam-Diam Mencuri Momen Bahagia Saat Liburan, Begini Penjelasan Psikologinya
=====
Dalam konteks pencarian kerja, seseorang yang berkali-kali ditolak berpotensi kehilangan motivasi untuk kembali melamar pekerjaan, meskipun peluang sebenarnya masih terbuka.
Fenomena lain yang juga dapat muncul adalah menurunnya self-efficacy, atau keyakinan seseorang terhadap kemampuannya sendiri.
Semakin sering menerima penolakan, sebagian pencari kerja mulai meragukan kompetensinya, padahal penyebab belum diterima bekerja bisa berasal dari banyak faktor di luar kemampuan individu, seperti terbatasnya lowongan atau tingginya jumlah pelamar.
Tekanan tersebut semakin besar ketika pertumbuhan lapangan kerja tidak mampu mengimbangi jumlah lulusan baru setiap tahun.
Di sisi lain, perusahaan juga membutuhkan keterampilan yang semakin spesifik, mulai dari kemampuan digital, analisis data, hingga penguasaan bahasa asing.
Ketidaksesuaian antara kemampuan pencari kerja dan kebutuhan industri atau skill mismatch menjadi salah satu penyebab utama sulitnya penyerapan tenaga kerja.
Perubahan teknologi dan otomatisasi juga memperketat persaingan.
Sejumlah pekerjaan rutin mulai tergantikan oleh mesin dan kecerdasan buatan, sementara pekerjaan baru menuntut keterampilan yang berbeda.
Kondisi ini membuat proses belajar ulang (reskilling) dan peningkatan kompetensi menjadi semakin penting.
Selain itu, pencari kerja juga dapat mengalami decision fatigue atau kelelahan mengambil keputusan.
Baca Juga: Naik Kereta Jadi Lebih Hemat, Lansia Berusia 60 Tahun Bisa Nikmati Potongan 20 Persen
Mengirim lamaran ke banyak perusahaan, menyesuaikan CV, mempersiapkan wawancara, hingga menghadapi penolakan berulang dapat menguras energi mental.
Akibatnya, sebagian orang mulai menunda melamar pekerjaan atau menjadi kurang maksimal saat kesempatan baru muncul.
Faktor geografis, perlambatan ekonomi, kualitas pendidikan yang belum merata, hingga minimnya pengalaman kerja juga memperumit kondisi tersebut.
Kesempatan kerja masih banyak terkonsentrasi di kota besar, sedangkan tidak semua pencari kerja memiliki kemampuan finansial untuk berpindah daerah.
Karena itu, upaya menurunkan angka pengangguran tidak cukup hanya dengan membuka lapangan kerja baru.
Peningkatan kualitas pendidikan, pelatihan yang sesuai kebutuhan industri, penguatan kewirausahaan, perluasan investasi, hingga dukungan terhadap kesehatan mental pencari kerja juga menjadi bagian penting dalam membantu mereka kembali percaya diri dan siap bersaing di pasar kerja. (*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini



Terpopuler
- 1Prediksi Skor Sevilla vs Rayo Vallecano di La Liga, 16 Agustus 2026: Mampukah Tuan Rumah Meraih Kemenangan Perdana di Laga Pembuka?
- 2Prediksi Skor Deportivo Alaves vs Getafe di La Liga, 16 Agustus 2026: Duel Dua Tim dengan Modal Pramusim Berbeda
- 3Prediksi Skor Deportivo La Coruna vs Elche di La Liga, 18 Agustus 2026: Duel Tim Promosi dan Penghuni Zona Bawah
- 4Prediksi Skor Espanyol vs Levante di La Liga, 17 Agustus 2026: Mampukah Los Periquitos Mengawali Musim dengan Kemenangan Kandang?
- 5Prediksi Skor Racing Santander vs Villarreal di La Liga, 16 Agustus 2026: Debutan Promosi Tantang Penghuni Tiga Besar
- 6Prediksi Skor Fenerbahce vs Lyon di Playoff UCL, 19 Agustus 2026: Mampukah The Yellow Canaries Raih Kemenangan di Kandang Sendiri?
- 7Prediksi Skor Levski Sofia vs AEK Athens di Playoff UCL, 19 Agustus 2026: Momentum Tuan Rumah Jadi Ancaman Juara Liga Yunani
- 8Prediksi Skor Dinamo Zagreb vs Viking di Playoff UCL, 19 Agustus 2026: Tuan Rumah Punya Rekor Impresif
- 9Permudah Transaksi Nasabah, BPR Kerta Raharja Gemilang Luncurkan Layanan Digital MOLEC, Ini Kelebihannya!
- 10Fasilitas Mewah KM Dharma Kartika V Dinodai Dugaan Pelecehan Anak hingga Pengeroyokan Pelajar, Begini Kronologinya






