Jakarta

Cara Orang Tua Merespons Cerita Anak Ternyata Bisa Membentuk Konsep Diri Mereka

Anggerhana Denni Rahmawati | 25 Juli 2026, 15:30 WIB
Cara Orang Tua Merespons Cerita Anak Ternyata Bisa Membentuk Konsep Diri Mereka
Psikologi ungkap Aaasan orang tua perlu lebih sering mendengarkan anak.

AKURAT JAKARTA - Banyak orang tua menganggap mendengarkan cerita anak hanyalah bagian dari rutinitas sehari-hari.

Padahal, kebiasaan sederhana tersebut memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan psikologis anak dan bahkan dapat membentuk cara mereka memandang diri sendiri ketika dewasa.

Di balik setiap percakapan, anak sebenarnya sedang mencari validasi bahwa perasaan dan pikirannya dianggap penting.

Respons orang tua ketika mendengarkan menjadi pengalaman emosional yang akan tersimpan dan memengaruhi perkembangan kepribadian mereka.

Psikolog Melvi Rosilawati menjelaskan bahwa salah satu dampak paling besar dari kebiasaan mendengarkan anak adalah terbentuknya konsep diri yang positif.

Konsep diri merupakan cara seseorang memandang, menilai, dan menerima dirinya sendiri.

Dalam psikologi, kondisi ini berkaitan dengan Self-Concept Theory.

Teori tersebut menjelaskan bahwa penilaian anak terhadap dirinya banyak dipengaruhi oleh respons dari orang-orang terdekat, terutama orang tua.

Ketika anak merasa didengar, ia akan lebih mudah percaya bahwa pendapat dan keberadaannya memiliki nilai.

Fenomena ini juga selaras dengan Attachment Theory, yang menyebut hubungan emosional yang hangat antara anak dan orang tua menjadi dasar munculnya rasa aman (secure attachment).

Anak yang memiliki rasa aman cenderung lebih percaya diri untuk mencoba hal baru, mengungkapkan pendapat, dan membangun hubungan sosial yang sehat.

Sebaliknya, jika anak berulang kali merasa diabaikan atau tidak didengarkan, mereka dapat belajar menyimpan perasaan sendiri karena menganggap apa yang disampaikan tidak penting.

Dalam jangka panjang, kondisi tersebut berpotensi memengaruhi rasa percaya diri dan kemampuan berkomunikasi.

Melvi menjelaskan bahwa mendengarkan anak secara aktif juga membantu orang tua memahami sudut pandang serta emosi yang sedang dirasakan anak, baik rasa senang, takut, maupun khawatir.

Pemahaman tersebut membuat orang tua lebih mudah memberikan respons yang sesuai dengan kebutuhan anak.

Baca Juga: Tak Hanya Perbaiki Gedung, Revitalisasi 71 Ribu Sekolah Bisa Berikan Efek Psikologis yang Baik untuk Siswa

=====

Selain itu, kebiasaan saling mendengarkan mengajarkan anak bahwa hubungan yang sehat dibangun melalui rasa saling menghargai.

Anak juga belajar bahwa komunikasi bukan sekadar berbicara, tetapi juga memberi ruang bagi orang lain untuk menyampaikan pendapat.

Ketika orang tua memahami minat dan prioritas anak melalui percakapan, mereka pun lebih mudah memberikan dukungan yang sesuai.

Kondisi ini membantu anak tumbuh menjadi pribadi yang lebih terbuka dan nyaman mengekspresikan dirinya.

Manfaat lainnya adalah meningkatnya rasa percaya diri dan harga diri.

Anak yang merasa pendapatnya dihargai akan lebih berani mengemukakan ide, meskipun pengalaman yang dimilikinya masih terbatas.

Karena itu, mendengarkan anak bukan sekadar bentuk perhatian sesaat.

Dari sudut pandang psikologi, kebiasaan tersebut merupakan investasi jangka panjang bagi perkembangan emosional mereka.

Beberapa menit yang dihabiskan untuk benar-benar mendengarkan cerita anak hari ini bisa menjadi fondasi terbentuknya pribadi yang percaya diri, mampu berkomunikasi dengan sehat, dan memiliki konsep diri yang positif di masa depan. (*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.