Kasus SD di Semarang Hanya Terima 3 Murid, Fenomena Psikologi "Social Proof" Jadi Faktor yang Jarang Disadari

AKURAT JAKARTA - Fenomena sekolah dasar yang kekurangan murid kembali menjadi perhatian pada pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) Tahun Ajaran 2026/2027.
Salah satu kasus yang paling menyita perhatian terjadi di SDN Purwoyoso 01, Kota Semarang, yang hanya menerima tiga murid baru.
Sekilas, persoalan ini terlihat hanya berkaitan dengan jumlah anak usia sekolah yang terus berubah.
Namun, di balik angka tersebut terdapat fenomena lain yang tidak kalah penting, yaitu cara orang tua mengambil keputusan saat memilih sekolah untuk anak mereka.
Dalam psikologi sosial dikenal konsep social proof atau bandwagon effect, yaitu kecenderungan seseorang mengikuti pilihan mayoritas karena dianggap lebih benar atau lebih aman.
Fenomena ini sering muncul ketika orang tua menentukan sekolah bagi anak, terutama jika mereka memiliki informasi yang terbatas mengenai kualitas masing-masing sekolah.
Akibatnya, sekolah yang sudah dikenal memiliki banyak peminat akan semakin diminati.
Sebaliknya, sekolah yang mulai kehilangan murid berpotensi semakin ditinggalkan karena muncul anggapan bahwa sekolah tersebut kurang berkualitas, meskipun persepsi tersebut belum tentu sesuai dengan kondisi sebenarnya.
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah sendiri menjelaskan bahwa berkurangnya jumlah murid dipengaruhi oleh berbagai faktor.
Mulai dari perubahan jumlah penduduk usia sekolah, perpindahan penduduk, perkembangan kawasan permukiman, kondisi geografis, hingga perubahan preferensi masyarakat dalam memilih satuan pendidikan.
Salah satu kecenderungan yang kini terlihat adalah semakin banyak orang tua yang memilih menyekolahkan anak di lembaga pendidikan berbasis keagamaan.
Pergeseran preferensi tersebut ikut memengaruhi distribusi jumlah peserta didik di sekolah negeri pada sejumlah daerah.
Kasus SDN Purwoyoso 01 menunjukkan bahwa tantangan sekolah saat ini bukan sekadar menyediakan fasilitas belajar, tetapi juga membangun kepercayaan masyarakat.
Dalam ilmu psikologi, reputasi yang terbentuk di lingkungan sosial dapat memengaruhi keputusan seseorang lebih besar dibandingkan informasi objektif yang dimiliki.
Ketika masyarakat mendengar sebuah sekolah hanya memiliki sedikit murid, informasi tersebut dapat memunculkan kekhawatiran mengenai kualitas pembelajaran, lingkungan pergaulan, maupun keberlangsungan sekolah.
=====
Kekhawatiran itu kemudian memengaruhi keputusan orang tua lainnya sehingga menciptakan lingkaran yang sulit diputus.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Kemendikdasmen telah memanfaatkan data Dapodik guna memetakan sekolah yang memiliki kurang dari 60 hingga 100 murid.
Data tersebut menjadi dasar koordinasi bersama pemerintah daerah dalam menyusun kebijakan yang sesuai dengan kondisi masing-masing wilayah.
Selain itu, pemerintah berencana memperkuat perencanaan pendidikan berbasis data, mengevaluasi daya tampung sekolah sesuai perkembangan demografi, serta memastikan sekolah dengan jumlah murid terbatas tetap memperoleh pendampingan agar layanan pendidikan tetap berjalan optimal.
Fenomena ini menunjukkan bahwa persoalan kekurangan murid tidak bisa dipandang hanya dari sisi angka pendaftaran.
Faktor psikologis berupa persepsi masyarakat, kepercayaan terhadap sekolah, dan kecenderungan mengikuti pilihan mayoritas juga menjadi bagian penting yang perlu dipahami agar pemerataan kualitas pendidikan benar-benar dapat terwujud. (*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Prediksi Skor AZ Alkmaar vs Hapoel Beer Sheva di UEL, 15 Oktober 2026: Mampukah Tuan Rumah Pertahankan Rekor Kandang?
- 2Prediksi Skor Hoffenheim vs Besiktas di UEL, 16 Oktober 2026: Mampukah Die Kraichgauer Bangkit di Kandang?
- 3Prediksi Skor Eintracht Frankfurt vs FC Koln di Bundesliga, 17 Oktober 2026: Mampukah Die Adler Bangkit dari Kekalahan Telak?
- 4Prediksi Skor Deportivo La Coruna vs Levante di La Liga, 17 Oktober 2026: Mampukah Tuan Rumah Akhiri Tren Negatif?
- 5Prediksi Skor Sparta Praha vs Lillestrom di UEL, 15 Oktober 2026: Tren Positif Tuan Rumah Diuji Wakil Norwegia
- 6Prediksi Skor Celje vs Omonia di UEL, 15 Oktober 2026: Mampukah Tuan Rumah Bangkit dari Kekalahan?
- 7Prediksi Skor Union Saint-Gilloise vs Real Sociedad di UEL, 15 Oktober 2026: Tuan Rumah Incar Kemenangan Kedua
- 8Prediksi Skor Frosinone vs Sassuolo di Serie A, 17 Oktober 2026: Mampukah Canarini Balas Dendam atas Neroverdi?
- 9Pertama dan Satu-Satunya! Mitra Driver Gojek Terpilih dari Seluruh Indonesia Kibarkan Merah Putih
- 10Permudah Transaksi Nasabah, BPR Kerta Raharja Gemilang Luncurkan Layanan Digital MOLEC, Ini Kelebihannya!







