Jakarta

Anak Tiba-Tiba Jadi Pendiam? Psikologi Ungkap Bisa Jadi Tanda Bahaya di Dunia Digital

Anggerhana Denni Rahmawati | 22 Juli 2026, 14:30 WIB
Anak Tiba-Tiba Jadi Pendiam? Psikologi Ungkap Bisa Jadi Tanda Bahaya di Dunia Digital
Tanda bahaya dunia digital tak selalu terlihat. (Magnific)

AKURAT JAKARTA - Perubahan perilaku anak sering kali dianggap sebagai bentuk kenakalan atau fase remaja.

Padahal, perubahan tersebut bisa menjadi sinyal bahwa anak sedang menghadapi tekanan, termasuk ancaman di ruang digital yang belum mampu mereka ungkapkan.

Fenomena ini semakin menjadi perhatian seiring meningkatnya penggunaan internet oleh anak-anak.

Ketika mengalami perundungan, intimidasi, atau menjadi sasaran predator daring, banyak anak tidak mampu menceritakan apa yang dialaminya.

Sebaliknya, mereka menunjukkan perubahan perilaku yang sering disalahartikan oleh orang tua.

Dalam psikologi, kondisi ini dikenal sebagai cry for help behavior, yaitu perilaku yang menjadi cara anak meminta pertolongan ketika belum mampu mengungkapkan perasaannya secara langsung.

Guru Besar Tetap Fakultas Psikologi Universitas Indonesia Prof. Dr. Rose Mini Agoes Salim, M.Psi., Psikolog mengatakan perubahan perilaku dapat menjadi salah satu tanda awal anak sedang menghadapi ancaman di ruang digital.

Menurut psikolog yang akrab disapa Romy itu, anak yang mengalami masalah di dunia maya cenderung menjadi lebih tertutup, sering menyembunyikan layar gawai, memiliki teman daring yang dirahasiakan, serta tampak takut ketika ditanya mengenai aktivitasnya di internet.

Romy menjelaskan kondisi tersebut bukan berarti anak berperilaku nakal.

Menurutnya, secara psikologis anak belum siap dan belum memiliki kemampuan yang memadai untuk melindungi dirinya di ruang digital.

Perubahan perilaku yang muncul juga menjadi tanda bahwa anak sedang mengalami konflik batin dan kesulitan mengungkapkan rasa tidak aman.

Ia menambahkan, kemampuan anak dalam mengenali risiko dan mengelola emosi masih berkembang.

Karena itu, anak belum mampu mendeteksi maupun menghindari ancaman digital secara optimal.

Kondisi ini dimanfaatkan predator daring yang biasanya mendekati korban secara perlahan sehingga anak tidak menyadari dirinya sedang berada dalam situasi berbahaya.

Karena itu, Romy menilai pencegahan tidak bisa ditunda.

Baca Juga: Prediksi Skor Omonia vs Kairat Almaty di Kualifikasi UCL, 23 Juli 2026: Duel Dua Tim yang Sama-sama Sulit Dikalahkan

=====

Orang tua dan sekolah perlu mendampingi anak, membangun komunikasi yang aman, membuat aturan penggunaan gawai yang konsisten, serta peka terhadap perubahan perilaku anak.

Menurutnya, perlindungan anak di dunia digital harus dimulai dari rumah.

Anak yang merasa aman bersama keluarganya akan lebih berani bercerita ketika menghadapi masalah sehingga risiko menjadi korban kejahatan digital dapat diminimalkan.

Implementasi Peraturan Pemerintah tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak (PP Tunas), lanjut Romy, juga membutuhkan dukungan orang tua, sekolah, dan masyarakat agar perlindungan anak di ruang digital dapat berjalan lebih efektif.

Pada akhirnya, perubahan perilaku anak sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai kenakalan.

Dari perspektif psikologi, sikap tersebut bisa menjadi "cry for help" atau cara anak meminta pertolongan ketika menghadapi ancaman yang belum mampu mereka ungkapkan dengan kata-kata. (*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.