Jakarta

Bangku Kosong di Hari Pertama Sekolah, Alarm bagi Masa Depan SD Negeri

Anggerhana Denni Rahmawati | 14 Juli 2026, 15:15 WIB
Bangku Kosong di Hari Pertama Sekolah, Alarm bagi Masa Depan SD Negeri
Tak ada murid baru dua tahun berturut-turut di SDN Nailan, Ponorogo.

AKURAT JAKARTA - Hari pertama sekolah biasanya identik dengan suasana ramai, tawa murid baru, dan kelas yang dipenuhi semangat.

Namun, pemandangan berbeda justru terjadi di SDN Nailan, Kecamatan Slahung, Kabupaten Ponorogo.

Untuk tahun kedua berturut-turut, sekolah ini tidak menerima satu pun siswa baru.

Akibatnya, ruang kelas I tetap dibuka meski tak ada murid yang mengisinya.

Bangku dan meja yang telah disiapkan hanya menjadi saksi bahwa sebuah sekolah masih berdiri, tetapi perlahan kehilangan peserta didik.

Saat ini SDN Nailan hanya memiliki 13 siswa yang tersebar di empat tingkat kelas.

Bahkan, tidak ada murid di kelas I maupun kelas II.

Kondisi tersebut membuat sekolah harus menyesuaikan penggunaan ruang belajar agar kegiatan pendidikan tetap berjalan.

Pihak sekolah sebenarnya telah berupaya menarik minat masyarakat, mulai dari melakukan sosialisasi ke taman kanak-kanak hingga membuka pendaftaran secara daring dan luring.

Sempat ada tiga orang tua yang berniat mendaftarkan anaknya, tetapi akhirnya mengurungkan niat setelah mengetahui jumlah siswa di sekolah tersebut sangat sedikit.

Baca Juga: Progres Capai 95 Persen, Gubernur Pramono Targetkan LRT Pegangsaan Dua – Manggarai Beroperasi Agustus 2026

=====

Kasus SDN Nailan bukanlah persoalan yang berdiri sendiri.

Dinas Pendidikan Kabupaten Ponorogo mencatat masih ada tiga sekolah dasar negeri lain yang juga tidak memperoleh siswa baru pada tahun ajaran 2026/2027.

Meski jumlahnya menurun dibanding tahun sebelumnya, fenomena ini menunjukkan tantangan yang masih harus dihadapi dunia pendidikan.

Sejumlah faktor diduga menjadi penyebabnya, mulai dari menurunnya jumlah anak usia sekolah di beberapa wilayah hingga berubahnya pilihan orang tua yang lebih banyak menyekolahkan anak ke lembaga pendidikan lain, termasuk sekolah berbasis agama.

Fenomena ini memperlihatkan bahwa persoalan sekolah tanpa murid bukan sekadar masalah penerimaan peserta didik setiap tahun.

Jika kondisi tersebut terus berlangsung, keberlangsungan sekolah negeri di daerah akan semakin terancam, termasuk nasib para guru, fasilitas pendidikan, dan akses belajar bagi masyarakat sekitar.

Di tengah upaya meningkatkan kualitas pendidikan, kasus SDN Nailan menjadi pengingat bahwa pemerataan jumlah peserta didik juga perlu mendapat perhatian.

Sebab, sekolah tidak hanya membutuhkan gedung dan tenaga pengajar, tetapi juga anak-anak yang akan menghidupkan ruang-ruang kelas di dalamnya. (*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.