Bangku Kosong di Hari Pertama Sekolah, Alarm bagi Masa Depan SD Negeri

AKURAT JAKARTA - Hari pertama sekolah biasanya identik dengan suasana ramai, tawa murid baru, dan kelas yang dipenuhi semangat.
Namun, pemandangan berbeda justru terjadi di SDN Nailan, Kecamatan Slahung, Kabupaten Ponorogo.
Untuk tahun kedua berturut-turut, sekolah ini tidak menerima satu pun siswa baru.
Akibatnya, ruang kelas I tetap dibuka meski tak ada murid yang mengisinya.
Bangku dan meja yang telah disiapkan hanya menjadi saksi bahwa sebuah sekolah masih berdiri, tetapi perlahan kehilangan peserta didik.
Saat ini SDN Nailan hanya memiliki 13 siswa yang tersebar di empat tingkat kelas.
Bahkan, tidak ada murid di kelas I maupun kelas II.
Kondisi tersebut membuat sekolah harus menyesuaikan penggunaan ruang belajar agar kegiatan pendidikan tetap berjalan.
Pihak sekolah sebenarnya telah berupaya menarik minat masyarakat, mulai dari melakukan sosialisasi ke taman kanak-kanak hingga membuka pendaftaran secara daring dan luring.
Sempat ada tiga orang tua yang berniat mendaftarkan anaknya, tetapi akhirnya mengurungkan niat setelah mengetahui jumlah siswa di sekolah tersebut sangat sedikit.
=====
Kasus SDN Nailan bukanlah persoalan yang berdiri sendiri.
Dinas Pendidikan Kabupaten Ponorogo mencatat masih ada tiga sekolah dasar negeri lain yang juga tidak memperoleh siswa baru pada tahun ajaran 2026/2027.
Meski jumlahnya menurun dibanding tahun sebelumnya, fenomena ini menunjukkan tantangan yang masih harus dihadapi dunia pendidikan.
Sejumlah faktor diduga menjadi penyebabnya, mulai dari menurunnya jumlah anak usia sekolah di beberapa wilayah hingga berubahnya pilihan orang tua yang lebih banyak menyekolahkan anak ke lembaga pendidikan lain, termasuk sekolah berbasis agama.
Fenomena ini memperlihatkan bahwa persoalan sekolah tanpa murid bukan sekadar masalah penerimaan peserta didik setiap tahun.
Jika kondisi tersebut terus berlangsung, keberlangsungan sekolah negeri di daerah akan semakin terancam, termasuk nasib para guru, fasilitas pendidikan, dan akses belajar bagi masyarakat sekitar.
Di tengah upaya meningkatkan kualitas pendidikan, kasus SDN Nailan menjadi pengingat bahwa pemerataan jumlah peserta didik juga perlu mendapat perhatian.
Sebab, sekolah tidak hanya membutuhkan gedung dan tenaga pengajar, tetapi juga anak-anak yang akan menghidupkan ruang-ruang kelas di dalamnya. (*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini



Terpopuler
- 1Prediksi Skor AZ Alkmaar vs Hapoel Beer Sheva di UEL, 15 Oktober 2026: Mampukah Tuan Rumah Pertahankan Rekor Kandang?
- 2Prediksi Skor Hoffenheim vs Besiktas di UEL, 16 Oktober 2026: Mampukah Die Kraichgauer Bangkit di Kandang?
- 3Prediksi Skor Eintracht Frankfurt vs FC Koln di Bundesliga, 17 Oktober 2026: Mampukah Die Adler Bangkit dari Kekalahan Telak?
- 4Prediksi Skor Deportivo La Coruna vs Levante di La Liga, 17 Oktober 2026: Mampukah Tuan Rumah Akhiri Tren Negatif?
- 5Prediksi Skor Sparta Praha vs Lillestrom di UEL, 15 Oktober 2026: Tren Positif Tuan Rumah Diuji Wakil Norwegia
- 6Prediksi Skor Celje vs Omonia di UEL, 15 Oktober 2026: Mampukah Tuan Rumah Bangkit dari Kekalahan?
- 7Prediksi Skor Union Saint-Gilloise vs Real Sociedad di UEL, 15 Oktober 2026: Tuan Rumah Incar Kemenangan Kedua
- 8Prediksi Skor Frosinone vs Sassuolo di Serie A, 17 Oktober 2026: Mampukah Canarini Balas Dendam atas Neroverdi?
- 9Pertama dan Satu-Satunya! Mitra Driver Gojek Terpilih dari Seluruh Indonesia Kibarkan Merah Putih
- 10Permudah Transaksi Nasabah, BPR Kerta Raharja Gemilang Luncurkan Layanan Digital MOLEC, Ini Kelebihannya!






