Jakarta

SPMB DKI Kembali Jadi Sorotan, Bisa Hambat Mimpi Anak Bersekolah di Negeri

Anggerhana Denni Rahmawati | 12 Juli 2026, 07:30 WIB
SPMB DKI Kembali Jadi Sorotan, Bisa Hambat Mimpi Anak Bersekolah di Negeri
Ilustrasi ujian.

AKURAT JAKARTA - Bagi banyak keluarga di Jakarta, masa penerimaan murid baru bukan hanya soal memilih sekolah.

Proses yang panjang, berlapis, dan dinilai sulit dipahami membuat sebagian orang tua harus menghabiskan waktu untuk mempelajari alur pendaftaran, bahkan ada yang akhirnya menyerah sebelum seluruh tahapan selesai.

Kondisi tersebut kembali menjadi sorotan karena dinilai berpotensi menghambat akses anak terhadap pendidikan.

Ketika prosedur pendaftaran terlalu rumit, kelompok masyarakat yang memiliki keterbatasan literasi digital atau minim akses informasi menjadi pihak yang paling rentan tertinggal.

Selain proses yang dianggap kompleks, ketidakpastian selama masa seleksi juga menambah beban psikologis bagi keluarga.

Banyak orang tua harus menunggu hasil tanpa kepastian, sementara tahun ajaran baru semakin dekat.

Namun, persoalan penerimaan murid baru dinilai tidak hanya berhenti pada mekanisme pendaftaran.

Akar masalah yang lebih besar justru berada pada terbatasnya daya tampung sekolah negeri dan belum meratanya distribusi sekolah di berbagai wilayah Jakarta.

Akibatnya, persaingan mendapatkan kursi di sekolah negeri menjadi sangat ketat.

Perbaikan sistem seleksi saja dinilai belum cukup jika jumlah sekolah dan kapasitas yang tersedia belum mampu mengimbangi kebutuhan masyarakat.

Baca Juga: Museum Wayang Gelar Wayang Beber Bertema Lingkungan Bertajuk "Mata Airku dalam Kemasan"

=====

Karena itu, evaluasi terhadap Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) dinilai perlu dilakukan secara menyeluruh.

Penyederhanaan alur pendaftaran, peningkatan layanan informasi, serta penambahan daya tampung sekolah menjadi langkah yang dianggap penting agar akses pendidikan dapat dinikmati lebih merata.

Pada akhirnya, tujuan utama penerimaan murid baru bukan sekadar menjalankan proses administrasi, melainkan memastikan setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk memperoleh pendidikan.

Jika sistem masih menyulitkan masyarakat, maka kelompok yang paling terdampak bukan hanya orang tua, tetapi juga anak-anak yang sedang menatap masa depan mereka. (*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.