Jangan Terlalu Percaya Smartwatch, Tidur Nyenyak Ternyata Bukan Cuma Soal Deep Sleep

AKURAT JAKARTA - Belakangan ini, semakin banyak orang membuka aplikasi kesehatan setiap pagi untuk melihat skor kualitas tidur.
Salah satu angka yang paling sering menjadi perhatian adalah deep sleep atau fase tidur lelap.
Tidak sedikit yang merasa puas ketika durasi deep sleep meningkat, bahkan ada yang sengaja mengurangi waktu tidur demi mendapatkan persentase deep sleep yang lebih tinggi.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa masyarakat mulai semakin sadar pentingnya tidur.
Namun, di sisi lain, muncul anggapan bahwa semakin lama deep sleep, semakin baik pula kualitas istirahat seseorang.
Padahal, pandangan tersebut tidak sepenuhnya benar.
Edukator sekaligus pelatih tidur Vishal Dasani mengingatkan bahwa kualitas tidur tidak bisa dinilai hanya dari satu fase saja.
Menurutnya, ketika dihadapkan pada pilihan tidur selama delapan jam dengan satu jam deep sleep atau tidur lima jam dengan dua jam deep sleep, pilihan yang lebih baik tetaplah tidur selama delapan jam.
"Beberapa hari lalu ada yang bertanya ke saya, 'Coach, mana nih yang lebih baik? Tidur delapan jam tapi deep sleep-nya cuma satu jam, atau tidur lima jam tapi deep sleep-nya dua jam?' Saya memilih tidur yang delapan jam tetapi deep sleep-nya cuma satu jam," kata Vishal.
Ia menjelaskan bahwa tubuh manusia membutuhkan keseluruhan siklus tidur agar dapat pulih secara optimal.
Tidur bukan hanya terdiri atas fase deep sleep, tetapi juga light sleep dan Rapid Eye Movement (REM) sleep.
Ketiganya memiliki fungsi yang berbeda, namun saling melengkapi.
"Kita tidak tidur hanya untuk mendapatkan deep sleep. Tubuh kita membutuhkan satu paket tidur yang lengkap. Ada light sleep, deep sleep, dan REM sleep-nya. Masing-masing punya porsi dan fungsi yang berbeda, tetapi mereka sama pentingnya dan saling melengkapi," jelas dia.
Menurut Vishal, deep sleep memang berperan besar dalam pemulihan fisik dan regenerasi sel tubuh.
Namun, REM sleep memiliki fungsi penting dalam menjaga memori, kemampuan belajar, pengolahan emosi, serta performa otak.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Prediksi Skor AZ Alkmaar vs Hapoel Beer Sheva di UEL, 15 Oktober 2026: Mampukah Tuan Rumah Pertahankan Rekor Kandang?
- 2Prediksi Skor Hoffenheim vs Besiktas di UEL, 16 Oktober 2026: Mampukah Die Kraichgauer Bangkit di Kandang?
- 3Prediksi Skor Eintracht Frankfurt vs FC Koln di Bundesliga, 17 Oktober 2026: Mampukah Die Adler Bangkit dari Kekalahan Telak?
- 4Prediksi Skor Deportivo La Coruna vs Levante di La Liga, 17 Oktober 2026: Mampukah Tuan Rumah Akhiri Tren Negatif?
- 5Prediksi Skor Sparta Praha vs Lillestrom di UEL, 15 Oktober 2026: Tren Positif Tuan Rumah Diuji Wakil Norwegia
- 6Prediksi Skor Celje vs Omonia di UEL, 15 Oktober 2026: Mampukah Tuan Rumah Bangkit dari Kekalahan?
- 7Prediksi Skor Union Saint-Gilloise vs Real Sociedad di UEL, 15 Oktober 2026: Tuan Rumah Incar Kemenangan Kedua
- 8Prediksi Skor Frosinone vs Sassuolo di Serie A, 17 Oktober 2026: Mampukah Canarini Balas Dendam atas Neroverdi?
- 9Pertama dan Satu-Satunya! Mitra Driver Gojek Terpilih dari Seluruh Indonesia Kibarkan Merah Putih
- 10Permudah Transaksi Nasabah, BPR Kerta Raharja Gemilang Luncurkan Layanan Digital MOLEC, Ini Kelebihannya!







