Tiga Seafood yang Perlu Diwaspadai, Nikmat di Lidah tetapi Menyimpan Risiko bagi Kesehatan

AKURAT JAKARTA - Indonesia dikenal sebagai negara maritim dengan hasil laut melimpah yang menjadi bagian penting dari budaya kuliner masyarakat.
Berbagai hidangan seafood mudah ditemukan mulai dari warung kaki lima hingga restoran mewah dengan cita rasa yang menggoda.
Meski kaya manfaat gizi, tidak semua seafood aman dikonsumsi tanpa memperhatikan asal, jenis, dan cara pengolahannya.
Beberapa jenis hewan laut diketahui dapat menyimpan racun alami atau menumpuk zat berbahaya yang berisiko bagi kesehatan.
Kondisi ini membuat masyarakat perlu lebih cermat saat memilih seafood agar manfaatnya tetap lebih besar daripada risikonya.
Berikut tiga jenis seafood yang perlu mendapat perhatian khusus sebelum dikonsumsi secara rutin atau dalam jumlah banyak.
1. Ikan Barracuda
Ikan barracuda dikenal sebagai predator laut yang banyak ditemukan di wilayah perairan tropis dan terumbu karang.
Di balik teksturnya yang padat dan rasanya yang gurih, ikan ini dapat mengandung racun ciguatera yang berbahaya.
Racun tersebut berasal dari alga mikroskopis yang masuk ke rantai makanan dan terakumulasi pada tubuh barracuda.
Bahayanya, racun ciguatera tidak memiliki bau maupun rasa sehingga sulit dikenali oleh konsumen biasa.
Proses memasak, menggoreng, membakar, atau membekukan ikan tidak mampu menghancurkan racun tersebut secara efektif.
Keracunan ciguatera dapat menyebabkan mual, muntah, diare, kram perut, hingga gangguan saraf yang cukup mengganggu.
Sebagian penderita bahkan mengalami sensasi unik ketika benda dingin terasa panas saat disentuh oleh kulit.
Para ahli menyarankan untuk menghindari konsumsi barracuda berukuran besar karena kadar racunnya cenderung lebih tinggi.
=====
2. Ikan Hiu
Daging hiu masih dikonsumsi di beberapa daerah dan kerap dianggap sebagai makanan laut yang bernilai tinggi.
Namun hiu merupakan predator puncak yang memiliki risiko akumulasi merkuri jauh lebih besar dibanding banyak ikan lain.
Merkuri masuk ke tubuh hiu melalui ikan-ikan kecil yang telah terpapar polutan di lingkungan laut.
Semakin tua dan besar ukuran hiu, semakin tinggi pula kemungkinan kandungan merkuri yang tersimpan di tubuhnya.
Paparan merkuri berlebih dapat memengaruhi fungsi saraf, menurunkan kemampuan kognitif, dan mengganggu kesehatan ginjal.
Risiko tersebut menjadi perhatian serius terutama bagi ibu hamil, ibu menyusui, serta anak-anak yang masih tumbuh.
Kelompok tersebut sangat rentan terhadap dampak merkuri karena sistem saraf mereka masih berkembang aktif.
Karena alasan kesehatan, konsumsi daging hiu sebaiknya dibatasi atau bahkan dihindari oleh kelompok rentan.
3. Kerang Dara
Kerang dara menjadi salah satu seafood favorit karena rasanya lezat dan mudah diolah menjadi berbagai hidangan.
Hewan laut ini hidup dengan cara menyaring air sehingga berpotensi mengumpulkan berbagai zat dari lingkungannya.
Jika berasal dari perairan tercemar, kerang dara dapat menumpuk logam berat seperti timbal dan kadmium.
Selain logam berat, bakteri dan mikroorganisme penyebab penyakit juga dapat ikut terakumulasi di dalam tubuhnya.
Konsumsi kerang yang terkontaminasi dapat menyebabkan gangguan pencernaan hingga keracunan makanan yang serius.
=====
Dalam jangka panjang, paparan logam berat berlebih dapat meningkatkan risiko gangguan saraf dan fungsi hati.
Untuk mengurangi risiko, pilihlah kerang dara yang berasal dari pemasok terpercaya dan perairan yang terpantau.
Kerang perlu dicuci bersih, disikat, lalu dimasak hingga matang sempurna sebelum disajikan kepada keluarga.
Mengonsumsi seafood tetap memberikan manfaat besar bagi kesehatan apabila dilakukan dengan pilihan yang tepat.
Masyarakat tidak perlu takut makan seafood, tetapi perlu memahami jenis yang memiliki risiko lebih tinggi.
Dengan pengetahuan yang baik, kenikmatan hasil laut dapat dinikmati tanpa mengabaikan aspek keamanan pangan.
Memilih sumber yang terpercaya dan mengolah seafood dengan benar merupakan langkah sederhana untuk menjaga kesehatan. (*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Prediksi Skor AZ Alkmaar vs Hapoel Beer Sheva di UEL, 15 Oktober 2026: Mampukah Tuan Rumah Pertahankan Rekor Kandang?
- 2Prediksi Skor Hoffenheim vs Besiktas di UEL, 16 Oktober 2026: Mampukah Die Kraichgauer Bangkit di Kandang?
- 3Prediksi Skor Eintracht Frankfurt vs FC Koln di Bundesliga, 17 Oktober 2026: Mampukah Die Adler Bangkit dari Kekalahan Telak?
- 4Prediksi Skor Deportivo La Coruna vs Levante di La Liga, 17 Oktober 2026: Mampukah Tuan Rumah Akhiri Tren Negatif?
- 5Prediksi Skor Sparta Praha vs Lillestrom di UEL, 15 Oktober 2026: Tren Positif Tuan Rumah Diuji Wakil Norwegia
- 6Prediksi Skor Celje vs Omonia di UEL, 15 Oktober 2026: Mampukah Tuan Rumah Bangkit dari Kekalahan?
- 7Prediksi Skor Union Saint-Gilloise vs Real Sociedad di UEL, 15 Oktober 2026: Tuan Rumah Incar Kemenangan Kedua
- 8Prediksi Skor Frosinone vs Sassuolo di Serie A, 17 Oktober 2026: Mampukah Canarini Balas Dendam atas Neroverdi?
- 9Pertama dan Satu-Satunya! Mitra Driver Gojek Terpilih dari Seluruh Indonesia Kibarkan Merah Putih
- 10Permudah Transaksi Nasabah, BPR Kerta Raharja Gemilang Luncurkan Layanan Digital MOLEC, Ini Kelebihannya!







