Jakarta

Hobi Makan Ikan Asin? Kenali Risiko Kanker Nasofaring yang Sering Tidak Disadari

Anggerhana Denni Rahmawati | 27 Juni 2026, 07:30 WIB
Hobi Makan Ikan Asin? Kenali Risiko Kanker Nasofaring yang Sering Tidak Disadari
Mengkonsumsi ikan asin tertentu dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker nasofaring.

AKURAT JAKARTA - Ikan asin menjadi salah satu makanan favorit banyak orang karena rasanya gurih, tahan lama, dan cocok dipadukan dengan berbagai menu.

Meski demikian, sejumlah penelitian menemukan bahwa konsumsi ikan asin tertentu dapat berkaitan dengan peningkatan risiko kanker nasofaring.

Kanker nasofaring adalah kanker yang tumbuh di bagian belakang hidung dan atas tenggorokan yang sulit dilihat secara langsung.

Penyakit ini sering terlambat terdeteksi karena gejalanya pada tahap awal kerap menyerupai gangguan kesehatan yang ringan.

Gejala yang dapat muncul antara lain hidung tersumbat, mimisan berulang, telinga berdenging, hingga benjolan di leher.

Para peneliti telah lama mengamati hubungan antara konsumsi ikan asin dan tingginya angka kanker nasofaring di beberapa wilayah Asia.

Hubungan tersebut terutama ditemukan pada ikan asin yang dibuat melalui proses pengawetan dan fermentasi tradisional tertentu.

Selama proses tersebut dapat terbentuk senyawa nitrosamin yang dikenal sebagai salah satu zat yang bersifat karsinogenik.

Nitrosamin diketahui dapat merusak materi genetik atau DNA sehingga berpotensi memicu terbentuknya sel kanker.

Risiko kesehatan tidak muncul dalam waktu singkat melainkan dapat berkembang setelah paparan yang berlangsung bertahun-tahun.

Sejumlah studi menunjukkan bahwa risiko kanker nasofaring cenderung meningkat pada orang yang sering mengonsumsi ikan asin.

Risiko tersebut juga dapat bertambah apabila konsumsi dilakukan secara rutin sejak usia anak-anak hingga dewasa.

Meski begitu, tidak semua jenis ikan asin memiliki tingkat risiko yang sama karena metode pengolahannya dapat berbeda.

Teknik produksi yang lebih modern dan higienis dapat membantu mengurangi pembentukan senyawa berbahaya selama pengawetan.

Karena itu, penting bagi masyarakat untuk memahami asal produk dan cara pengolahan sebelum mengonsumsinya.

Pola makan yang beragam tetap menjadi langkah penting untuk mengurangi paparan berlebihan dari satu jenis makanan tertentu.

Mengonsumsi lebih banyak sayur, buah, dan sumber protein segar dapat membantu menjaga kesehatan tubuh secara menyeluruh.

Selain faktor makanan, kebiasaan merokok dan paparan zat tertentu juga diketahui dapat meningkatkan risiko kanker nasofaring.

Pemeriksaan medis perlu dilakukan apabila muncul keluhan yang menetap terutama pada area hidung, telinga, dan tenggorokan.

Deteksi dini memberikan peluang penanganan yang lebih baik dibandingkan ketika penyakit baru diketahui pada stadium lanjut.

Masyarakat tidak perlu langsung takut mengonsumsi ikan asin, tetapi perlu bijak dalam memilih dan membatasi jumlahnya.

Langkah sederhana seperti menjaga pola makan seimbang dapat menjadi bagian penting dalam upaya pencegahan berbagai penyakit. (*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.