Pasar Modal Cetak Rekor, Rupiah Parkir di Level Rp16.865 per Dolar AS

AKURAT JAKARTA - Performa gemilang pasar modal domestik menjadi katalis utama penguatan nilai tukar Rupiah pada penutupan perdagangan Rabu (14/1).
Mata uang Garuda berhasil menguat tipis 12 poin atau 0,07 persen, menutup hari di posisi Rp16.865 per dolar AS, sedikit lebih perkasa dibanding penutupan sebelumnya di angka Rp16.877.
Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova, mengungkapkan bahwa "darah segar" yang mengalir ke aset domestik menjadi penopang utama kurs.
Baca Juga: Resmi! Mantan Menkeu Sri Mulyani Masuk Dewan Direksi Gates Foundation
Meskipun nilai tukar Rupiah menunjukkan sedikit penguatan, namun bayang-bayang ketidakpastian global masih menjadi ancaman serius bagi stabilitas mata uang rupiah.
Berdasarkan data terbaru, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia tercatat menguat tipis ke level Rp16.871 per dolar AS, bergerak dari posisi sebelumnya di angka Rp16.875.
Penguatan di pasar domestik ini sebenarnya terjadi di tengah kepungan sentimen negatif dari Amerika Serikat.
Baca Juga: 17 Hari Hilang, Pendaki Gunung Slamet Asal Magelang DitemukanDalam Kondisi Tewas
Fokus utama pelaku pasar saat ini tertuju pada isu intervensi pemerintah AS yang mulai mengganggu independensi Federal Reserve (The Fed).
Gangguan terhadap kemandirian bank sentral ini menciptakan kekhawatiran baru di pasar keuangan global.
Selain masalah independensi, kebijakan suku bunga The Fed juga menjadi beban tambahan.
Baca Juga: Drama Politik AS dan Tensi Global Memanas, Harga Emas Dunia Cetak Rekor
Meski data ekonomi AS menunjukkan indikator yang mendukung penurunan bunga, The Fed justru memberikan sinyal akan tetap mempertahankan suku bunga tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama.
Hal ini membuat dolar AS tetap perkasa dan menekan mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia.
Kondisi ini semakin diperparah oleh memanasnya tensi geopolitik.
Ancaman terbaru dari Presiden AS Donald Trump yang akan memberlakukan tarif impor sebesar 25 persen bagi negara-negara yang nekat berdagang dengan Iran telah memicu kepanikan pasar.
Dampaknya, investor berbondong-bondong mengamankan aset mereka ke dalam dolar AS yang dianggap sebagai aset aman (safe haven), yang pada akhirnya berpotensi membatasi ruang gerak penguatan Rupiah ke depannya. (*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini



Terpopuler
- 1Prediksi Skor Sevilla vs Rayo Vallecano di La Liga, 16 Agustus 2026: Mampukah Tuan Rumah Meraih Kemenangan Perdana di Laga Pembuka?
- 2Prediksi Skor Deportivo Alaves vs Getafe di La Liga, 16 Agustus 2026: Duel Dua Tim dengan Modal Pramusim Berbeda
- 3Prediksi Skor Deportivo La Coruna vs Elche di La Liga, 18 Agustus 2026: Duel Tim Promosi dan Penghuni Zona Bawah
- 4Prediksi Skor Espanyol vs Levante di La Liga, 17 Agustus 2026: Mampukah Los Periquitos Mengawali Musim dengan Kemenangan Kandang?
- 5Prediksi Skor Racing Santander vs Villarreal di La Liga, 16 Agustus 2026: Debutan Promosi Tantang Penghuni Tiga Besar
- 6Prediksi Skor Casa Pia vs Benfica di Liga Portugal, 18 Agustus 2026: Mampukah Tuan Rumah Mengulang Kejutan?
- 7Prediksi Skor Ajax vs Heerenveen di Eredivisie, 16 Agustus 2026: Mampukah Tuan Rumah Kembali Dominan di Johan Cruijff Arena?
- 8Prediksi Skor Excelsior vs PSV Eindhoven di Eredivisie, 16 Agustus 2026: Mampukah Tuan Rumah Patahkan Dominasi Sang Juara Bertahan?
- 9Permudah Transaksi Nasabah, BPR Kerta Raharja Gemilang Luncurkan Layanan Digital MOLEC, Ini Kelebihannya!
- 10Fasilitas Mewah KM Dharma Kartika V Dinodai Dugaan Pelecehan Anak hingga Pengeroyokan Pelajar, Begini Kronologinya





