IHSG Jeblok Akibat Rapor MSCI, Rupiah Kian Sekarat Dihantam Sinyal Suku Bunga AS

AKURAT JAKARTA – Gelombang tekanan hebat melanda pasar keuangan domestik pada penutupan perdagangan Rabu (24/6/2026).
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpuruk sangat dalam dan nilai tukar rupiah semakin tak berdaya melawan keperkasaan dolar Amerika Serikat (AS).
Uniknya, di tengah aksi jual massal tersebut, pasar obligasi pemerintah justru menjadi satu-satunya sektor yang berhasil melaju di zona hijau.
Melihat kondisi global yang masih memanas, para pelaku pasar diperkirakan harus bersiap menghadapi pergerakan yang tetap liar (volatil) pada perdagangan hari ini, Kamis (25/6/2026).
Rapor Merah dari MSCI Picu Aksi Jual Massal di Bursa
Ambruknya IHSG kemarin dipicu oleh sentimen negatif pasca-rilis evaluasi tahunan dari MSCI (MSCI Market Classification Review).
Walau posisi Indonesia aman di dalam kelompok pasar negara berkembang (Emerging Market), MSCI memberikan rapor merah terkait beberapa isu krusial.
Lembaga indeks global tersebut secara terbuka menyoroti masalah transparansi kepemilikan saham, porsi saham publik (free float), hingga indikasi adanya aktivitas perdagangan yang terkoordinasi secara tidak wajar.
Respons pasar pun terbilang ekstrem.
Pada akhir sesi kedua, IHSG langsung longsor sebesar 3,56% atau kehilangan 217 poin, hingga terdampar ke level 5.883,88.
Sepanjang hari, indeks saham domestik sempat terseok-seok di rentang 6.171 hingga titik terendahnya di 5.876.
Kepanikan meluas setelah 611 saham rontok berjamaah dan hanya 98 saham yang mampu bertahan tegak, sementara 104 lainnya jalan di tempat.
Nilai transaksi harian tembus Rp15,15 triliun akibat para investor asing yang berbondong-bondong mengosongkan portofolio mereka di Indonesia dengan total dana keluar (outflow) mencapai Rp1,17 triliun.
Seluruh sektor saham berakhir di zona merah, di mana sektor barang baku, energi, dan kesehatan menjadi yang paling menderita.
Saham-saham blue chip papan atas serta saham yang terafiliasi dengan grup konglomerat besar seperti BBRI, BBCA, BMRI, AMMN, BRPT, dan BUMI kompak ambas dan menjadi beban berat bagi bursa.
Rupiah Makin Kritis Akibat Sikap 'Galak' Bank Sentral AS
Kondisi di pasar mata uang pun tidak kalah menegangkan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Prediksi Skor AZ Alkmaar vs Hapoel Beer Sheva di UEL, 15 Oktober 2026: Mampukah Tuan Rumah Pertahankan Rekor Kandang?
- 2Prediksi Skor Hoffenheim vs Besiktas di UEL, 16 Oktober 2026: Mampukah Die Kraichgauer Bangkit di Kandang?
- 3Prediksi Skor Eintracht Frankfurt vs FC Koln di Bundesliga, 17 Oktober 2026: Mampukah Die Adler Bangkit dari Kekalahan Telak?
- 4Prediksi Skor Deportivo La Coruna vs Levante di La Liga, 17 Oktober 2026: Mampukah Tuan Rumah Akhiri Tren Negatif?
- 5Prediksi Skor Sparta Praha vs Lillestrom di UEL, 15 Oktober 2026: Tren Positif Tuan Rumah Diuji Wakil Norwegia
- 6Prediksi Skor Celje vs Omonia di UEL, 15 Oktober 2026: Mampukah Tuan Rumah Bangkit dari Kekalahan?
- 7Prediksi Skor Union Saint-Gilloise vs Real Sociedad di UEL, 15 Oktober 2026: Tuan Rumah Incar Kemenangan Kedua
- 8Prediksi Skor Frosinone vs Sassuolo di Serie A, 17 Oktober 2026: Mampukah Canarini Balas Dendam atas Neroverdi?
- 9Pertama dan Satu-Satunya! Mitra Driver Gojek Terpilih dari Seluruh Indonesia Kibarkan Merah Putih
- 10Permudah Transaksi Nasabah, BPR Kerta Raharja Gemilang Luncurkan Layanan Digital MOLEC, Ini Kelebihannya!





