Jakarta

IHSG Jeblok Akibat Rapor MSCI, Rupiah Kian Sekarat Dihantam Sinyal Suku Bunga AS

Aisya Nur Aziza | 25 Juni 2026, 08:49 WIB
 IHSG Jeblok Akibat Rapor MSCI, Rupiah Kian Sekarat Dihantam Sinyal Suku Bunga AS
IHSG kembali anjlok

AKURAT JAKARTA – Gelombang tekanan hebat melanda pasar keuangan domestik pada penutupan perdagangan Rabu (24/6/2026).

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpuruk sangat dalam dan nilai tukar rupiah semakin tak berdaya melawan keperkasaan dolar Amerika Serikat (AS).

Uniknya, di tengah aksi jual massal tersebut, pasar obligasi pemerintah justru menjadi satu-satunya sektor yang berhasil melaju di zona hijau.

Melihat kondisi global yang masih memanas, para pelaku pasar diperkirakan harus bersiap menghadapi pergerakan yang tetap liar (volatil) pada perdagangan hari ini, Kamis (25/6/2026).

Rapor Merah dari MSCI Picu Aksi Jual Massal di Bursa

Ambruknya IHSG kemarin dipicu oleh sentimen negatif pasca-rilis evaluasi tahunan dari MSCI (MSCI Market Classification Review).

Walau posisi Indonesia aman di dalam kelompok pasar negara berkembang (Emerging Market), MSCI memberikan rapor merah terkait beberapa isu krusial.

Lembaga indeks global tersebut secara terbuka menyoroti masalah transparansi kepemilikan saham, porsi saham publik (free float), hingga indikasi adanya aktivitas perdagangan yang terkoordinasi secara tidak wajar.

Respons pasar pun terbilang ekstrem.

Pada akhir sesi kedua, IHSG langsung longsor sebesar 3,56% atau kehilangan 217 poin, hingga terdampar ke level 5.883,88.

Sepanjang hari, indeks saham domestik sempat terseok-seok di rentang 6.171 hingga titik terendahnya di 5.876.

Kepanikan meluas setelah 611 saham rontok berjamaah dan hanya 98 saham yang mampu bertahan tegak, sementara 104 lainnya jalan di tempat.

Nilai transaksi harian tembus Rp15,15 triliun akibat para investor asing yang berbondong-bondong mengosongkan portofolio mereka di Indonesia dengan total dana keluar (outflow) mencapai Rp1,17 triliun.

Seluruh sektor saham berakhir di zona merah, di mana sektor barang baku, energi, dan kesehatan menjadi yang paling menderita.

Saham-saham blue chip papan atas serta saham yang terafiliasi dengan grup konglomerat besar seperti BBRI, BBCA, BMRI, AMMN, BRPT, dan BUMI kompak ambas dan menjadi beban berat bagi bursa.

Rupiah Makin Kritis Akibat Sikap 'Galak' Bank Sentral AS

Kondisi di pasar mata uang pun tidak kalah menegangkan.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.