DBH Rp11,2 Triliun Belum Dibayar, Legislator Golkar Dimaz Raditya Dorong Jakarta Perkuat Kemandirian Fiskal

AKURAT JAKARTA – Anggota Fraksi Golkar DPRD DKI Jakarta, Dimaz Raditya, mendorong Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta memperkuat kemandirian fiskal agar pembangunan tetap berjalan meski Dana Bagi Hasil (DBH) dari pemerintah pusat belum seluruhnya diterima.
Menurut Dimaz, Jakarta perlu memperluas sumber pembiayaan pembangunan dan tidak sepenuhnya bergantung pada transfer dari pemerintah pusat.
"Kami mendorong Pemprov lebih mandiri. Saya mendukung langkah untuk memperkuat kebijakan fiskal Jakarta," ujar Dimaz di Gedung DPRD DKI Jakarta, Selasa (8/9/2026).
Ketua Komisi C DPRD DKI Jakarta itu mengatakan, salah satu instrumen pembiayaan yang dapat dipersiapkan adalah obligasi daerah.
Namun, penggunaannya harus dikelola secara hati-hati serta diarahkan untuk memenuhi kebutuhan pembangunan.
Dimaz menilai pembangunan Jakarta tidak boleh terhenti hanya karena pemerintah daerah masih menunggu pencairan dana yang menjadi haknya dari pemerintah pusat.
"Kalau kita menunggu uang DBH yang tidak datang-datang, kapan kita mau membangun? Pembangunan Jakarta harus tetap berkelanjutan," tegasnya.
Persoalan kurang bayar DBH tersebut sebelumnya juga mengemuka dalam rapat Komisi C DPRD DKI Jakarta.
Kepala Badan Pengelola Keuangan Daerah (BPKD) DKI Jakarta, Michael Rolandi, mengungkapkan Pemprov DKI masih memiliki piutang kurang bayar DBH dari pemerintah pusat sekitar Rp11,2 triliun.
Pemprov DKI Jakarta pun telah berkomunikasi dengan Kementerian Keuangan untuk membahas sejumlah alternatif penyelesaian atas kurang bayar tersebut.
Salah satu opsi yang dibahas adalah skema pembiayaan melalui PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero) atau SMI.
Namun, regulasi yang menjadi dasar pelaksanaan skema tersebut hingga kini belum diterbitkan. "Kita boleh meminjam ke SMI," ungkap Michael.
Sementara itu, Anggota Komisi C DPRD DKI Jakarta, Lukmanul Hakim, meminta Pemprov DKI menyiapkan sejumlah skenario pembiayaan sebelum menetapkan struktur belanja daerah.
Menurut dia, pemerintah perlu mengantisipasi kemungkinan penerimaan yang telah direncanakan tidak sepenuhnya terealisasi. "Harusnya dibuat alternatif," tutur Lukmanul. (*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Prediksi Skor AZ Alkmaar vs Hapoel Beer Sheva di UEL, 15 Oktober 2026: Mampukah Tuan Rumah Pertahankan Rekor Kandang?
- 2Prediksi Skor Hoffenheim vs Besiktas di UEL, 16 Oktober 2026: Mampukah Die Kraichgauer Bangkit di Kandang?
- 3Prediksi Skor Eintracht Frankfurt vs FC Koln di Bundesliga, 17 Oktober 2026: Mampukah Die Adler Bangkit dari Kekalahan Telak?
- 4Prediksi Skor Deportivo La Coruna vs Levante di La Liga, 17 Oktober 2026: Mampukah Tuan Rumah Akhiri Tren Negatif?
- 5Prediksi Skor Sparta Praha vs Lillestrom di UEL, 15 Oktober 2026: Tren Positif Tuan Rumah Diuji Wakil Norwegia
- 6Prediksi Skor Celje vs Omonia di UEL, 15 Oktober 2026: Mampukah Tuan Rumah Bangkit dari Kekalahan?
- 7Prediksi Skor Union Saint-Gilloise vs Real Sociedad di UEL, 15 Oktober 2026: Tuan Rumah Incar Kemenangan Kedua
- 8Prediksi Skor Frosinone vs Sassuolo di Serie A, 17 Oktober 2026: Mampukah Canarini Balas Dendam atas Neroverdi?
- 9Pertama dan Satu-Satunya! Mitra Driver Gojek Terpilih dari Seluruh Indonesia Kibarkan Merah Putih
- 10Permudah Transaksi Nasabah, BPR Kerta Raharja Gemilang Luncurkan Layanan Digital MOLEC, Ini Kelebihannya!






