Legislator Golkar Andri Santosa Soroti Ketergantungan Pendapatan Non-Tiket MRT, Minta Strategi Antisipasi Penurunan Daya Beli

AKURAT JAKARTA - Sekretaris Fraksi Golkar DPRD DKI Jakarta, Andri Santosa, menyoroti komposisi pendapatan non-tiket atau non-farebox revenue (NFB) MRT Jakarta yang didominasi sektor komersial dan retail.
Ia meminta manajemen MRT menyiapkan langkah mitigasi apabila terjadi penurunan daya beli masyarakat yang dapat berdampak pada kinerja tenant di area stasiun.
Hal tersebut disampaikan Andri dalam rapat evaluasi BUMD bersama Komisi B DPRD DKI Jakarta, beberapa waktu lalu.
Baca Juga: Legislator Golkar Dadiyono Minta Mitigasi Bencana Diperkuat di Sejumlah Wilayah Padat Penduduk
"Pendapatan non-tiket atau NFB dengan kontribusi dominan dari komersial dan retail itu 63 persen. Kira-kira rencana mitigasi MRT jika terjadi penurunan daya beli masyarakat yang berdampak pada tenant-tenant di stasiun itu ada langkah terobosan apa?" ujar Andri.
Menurutnya, ketergantungan yang cukup besar terhadap pendapatan dari sektor komersial perlu diantisipasi dengan strategi bisnis yang adaptif, terutama di tengah ketidakpastian kondisi ekonomi.
Ia menilai MRT Jakarta perlu menyiapkan skenario antisipasi untuk menjaga stabilitas pendapatan perusahaan apabila kondisi ekonomi berdampak pada tingkat okupansi tenant atau aktivitas komersial di kawasan stasiun.
"Ini penting supaya MRT tetap punya strategi kalau ada penurunan daya beli, sehingga pendapatan non tiket tetap terjaga," katanya.
Andri juga menekankan pentingnya diversifikasi sumber pendapatan agar MRT tidak terlalu bergantung pada satu sektor tertentu, sekaligus memperkuat ketahanan bisnis perusahaan transportasi tersebut dalam jangka panjang.
Sebagai informasi, naming rights terbukti menjadi salah satu sumber pendapatan signifikan bagi PT MRT Jakarta (Perseroda) di luar tiket atau farebox.
Direktur Pengembangan Bisnis PT MRT Jakarta, Farchad Mahfud, mengungkapkan kontribusi naming rights mencapai hingga 40 persen dari total pendapatan non-farebox MRT Jakarta.
"Kalau dibilang naming right, kontribusinya signifikan gak ya? Cukup signifikan ya, naming right ini sebenarnya masuk kategori bisnis advertisement. Secara bisnis advertisement, secara suruhannya yang paling-paling signifikan dikontributing," ucap Direktur Pengembangan Bisnis MRT Jakarta, Farchad H. Mahfud, dalam MRT Jakarta Fellowship Program di Transport Hub, Jakarta, Kamis (7/8/2025). (*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









