Legislator Golkar Farah Savira Ungkap Alasan Anggaran APBD untuk BPJS Kesehatan Hanya Rp1 Triliun

AKURAT JAKARTA - Anggota Fraksi Golkar DPRD DKI Jakarta, Farah Savira, memberikan penjelasan mengenai alasan alokasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) DKI Jakarta untuk dukungan layanan BPJS Kesehatan hanya berada di angka sekitar Rp1 triliun.
Hal ini disampaikan Farah dalam acara dialog publik Bijak Memantau bertajuk “Touchbase amé DPRD: Rempug Longok Dapur Kebijakan Kité” di Kopikina, Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (28/2/2026).
Menurutnya, besaran tersebut tidak terlepas dari dinamika pendataan bantuan sosial yang kini menggunakan sistem terbaru pemerintah pusat.
Farah memaparkan bahwa banyaknya warga yang non-aktif dalam kepesertaan Penerima Bantuan Iuran (PBI) BPJS Kesehatan terjadi akibat proses sinkronisasi data antara Badan Pusat Statistik (BPS) dan sistem nasional baru bernama DTCen (Data Terpadu Sistem Ekonomi Nasional).
Sistem ini menggantikan DTKS (Data Terpadu Kesejahteraan Sosial) yang sebelumnya menjadi rujukan utama dalam penetapan penerima bantuan.
"Dari pendataan tersebut dianalisis berbagai variabel yang menentukan seseorang berhak atau tidak mendapat bantuan. Kategorinya dinilai dari desil 1 hingga 10, dan masyarakat berpendapatan rendah biasanya berada di desil 1 sampai 5," jelas Farah.
Ia menerangkan bahwa perubahan sistem penilaian yang semula berbasis individu kini beralih menjadi berbasis Kartu Keluarga (KK).
Konsep ini membuat evaluasi dilakukan terhadap seluruh anggota keluarga secara kolektif, sehingga memunculkan fenomena satu keluarga bisa menerima beberapa skema bantuan sekaligus.
Perubahan mekanisme inilah yang kemudian memicu gelombang penonaktifan peserta PBI, karena program tersebut sebenarnya merupakan bagian dari anggaran pemerintah pusat melalui APBN.
"Selama ini, setahu saya, APBD tidak menanggung seluruh pembiayaan PBI BPJS Kesehatan," kata Farah.
Meski demikian, Pemprov DKI disebut telah mengambil langkah antisipasi. Sekitar 270.000 warga yang status BPJS-nya dinonaktifkan telah diidentifikasi untuk difasilitasi proses reaktivasi kepesertaan melalui RSUD maupun Puskesmas kecamatan.
Anggota Komisi E itu menyebut kemungkinan bahwa kebutuhan anggaran tambahan untuk warga yang perlu diaktifkan kembali dapat dibahas dalam APBD Perubahan, bergantung pada kebijakan lanjutan dari pemerintah pusat terkait cakupan PBI.
"Pemprov terus berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan agar warga yang terdampak dapat segera mengaktifkan kembali kepesertaannya," tukasnya. (*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini



Terpopuler
- 1Prediksi Skor Sevilla vs Rayo Vallecano di La Liga, 16 Agustus 2026: Mampukah Tuan Rumah Meraih Kemenangan Perdana di Laga Pembuka?
- 2Prediksi Skor Deportivo Alaves vs Getafe di La Liga, 16 Agustus 2026: Duel Dua Tim dengan Modal Pramusim Berbeda
- 3Prediksi Skor Deportivo La Coruna vs Elche di La Liga, 18 Agustus 2026: Duel Tim Promosi dan Penghuni Zona Bawah
- 4Prediksi Skor Espanyol vs Levante di La Liga, 17 Agustus 2026: Mampukah Los Periquitos Mengawali Musim dengan Kemenangan Kandang?
- 5Prediksi Skor Racing Santander vs Villarreal di La Liga, 16 Agustus 2026: Debutan Promosi Tantang Penghuni Tiga Besar
- 6Prediksi Skor Casa Pia vs Benfica di Liga Portugal, 18 Agustus 2026: Mampukah Tuan Rumah Mengulang Kejutan?
- 7Prediksi Skor Ajax vs Heerenveen di Eredivisie, 16 Agustus 2026: Mampukah Tuan Rumah Kembali Dominan di Johan Cruijff Arena?
- 8Prediksi Skor Excelsior vs PSV Eindhoven di Eredivisie, 16 Agustus 2026: Mampukah Tuan Rumah Patahkan Dominasi Sang Juara Bertahan?
- 9Permudah Transaksi Nasabah, BPR Kerta Raharja Gemilang Luncurkan Layanan Digital MOLEC, Ini Kelebihannya!
- 10Fasilitas Mewah KM Dharma Kartika V Dinodai Dugaan Pelecehan Anak hingga Pengeroyokan Pelajar, Begini Kronologinya






