Jakarta

Gelar Reses ke-2 Masa Sidang II, Legislator Golkar Judistira Soroti Tumpukan Sampah Jakarta di TPST Bantargebang

Laode Akbar | 16 Februari 2026, 20:18 WIB
Gelar Reses ke-2 Masa Sidang II, Legislator Golkar Judistira Soroti Tumpukan Sampah Jakarta di TPST Bantargebang

AKURAT JAKARTA - Ketua Fraksi Golkar DPRD DKI Jakarta, Judistira Hermawan, menggelar kegiatan Reses ke-2 Masa Persidangan II Tahun Sidang 2025–2026 Tahun Anggaran 2026.

Dalam kesempatan tersebut, Judistira menegaskan perlunya terobosan serius untuk mengurangi beban penampungan sampah di Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Bekasi.

Di mana, saat ini TPST tersebut sudah tidak mampu lagi menampung kiriman sampah dari DKI Jakarta.

Baca Juga: Aturan 200 Penumpang Dinilai Membebani Sopir JakLingko, Legislator Golkar Ramly HI: Sama Saja Balik ke Sistem Ngetem

Ia menyebut volume sampah Jakarta mencapai 7.800 ton per hari dan telah sepenuhnya bergantung pada tempat pembuangan di Bekasi.

"Sampah di DKI Jakarta ini jumlahnya kurang lebih 7.800 ton per harinya. Nah, sampah ini dikirimkan ke Bantargebang, Bekasi. Hari ini sudah tidak bisa lagi menampung sampah dari Jakarta," ujar Judistira kepada warga.

Dengan itu, lanjutnya, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta bersama DPRD DKI Jakarta melakukan terobosan untuk mengatasi persoalan sampah tersebut melalui Refuse Derived Fuel (RDF) Rorotan.

Baca Juga: Gelar Reses Ke-2 Masa Sidang II, Legislator Golkar Andri Santosa Janji Kawal Aspirasi Warga Dapil

"Nah, dengan demikian Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan juga DPRD DKI Jakarta mengambil satu langkah terobosan untuk kita mengurangi beban yang ada di Bantargebang, yaitu RDF yang di Rorotan," tukas Anggota Komisi D itu.

Sebagai informasi, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta memastikan bahwa Refuse Derived Fuel (RDF) Plant Rorotan, Jakarta Utara kembali beroperasi dengan skema bertahap.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Asep Kuswanto, menegaskan seluruh proses pengolahan sampah di fasilitas tersebut dikawal ketat, menyusul kekhawatiran warga terkait potensi bau dan pencemaran lingkungan.

Asep menyampaikan bahwa RDF Rorotan saat ini belum berjalan penuh. Operasional berlangsung lima hari dalam sepekan dengan dua shift kerja, sementara Sabtu dan Minggu digunakan khusus untuk pembersihan serta penataan area.

"Kami memahami kekhawatiran warga. Karena itu, operasional RDF Rorotan tidak langsung dijalankan pada kapasitas maksimal 2.500 ton per hari," ujar Asep dalam keterangannya, Senin (2/2/2026). (*)

 

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

L
Reporter
Laode Akbar
L