Jakarta

Kemana Arah Politik dan Jabatan Ridwan Kamil Usai Pilkada Jakarta? Begini Pandangan dari Pengamat Politik

Yasmina Nuha | 15 Desember 2024, 05:52 WIB
Kemana Arah Politik dan Jabatan Ridwan Kamil Usai Pilkada Jakarta? Begini Pandangan dari Pengamat Politik

 

AKURAT JAKARTA - Pengamat politik Citra Institute, Efriza menanggapi terkait arah politik dan jabatan yang diambil calon Gubernur Jakarta nomor urut 1, Ridwan Kamil usai tidak terpilih dalam Pilkada Jakarta.

Efriza mengatakan, sebenarnya Ridwan Kamil (RK) sangat potensial untuk berkontribusi nyata bagi negeri ini dan cocok menjadi menteri dan wakil menteri dalam kabinet pemerintahan Prabowo-Gibran.

Namun, RK sudah bergabung dengan salah satu partai politik yaitu Partai Golkar, sehingga sulit bagi Presiden Prabowo untuk merekrut menteri maupun wakil dari kader partai.

Baca Juga: Lakukan Pembinaan Atlet Sepak Bola Sejak Dini, Pemprov DKI Persiapkan Payung Hukum dan Sarana dan Prasarana

"Ini membuat sulit Prabowo dalam mengambil keputusan sebab ia harus bijak dalam hal komposisi jumlah para pembantunya di pemerintahan dari kalangan kader partai," kata Efriza kepada Akurat Jakarta, Sabtu (14/12/2024).

Lebih lanjut, ia mengatakan akan berat jika menambah satu anggota menteri dari partai tertentu tanpa menghadirkan kecemburuan partai-partai lainnya.

"Ini menunjukkan RK dalam posisi waiting list untuk diakomodir oleh Prabowo di dalam pemerintahan. Presiden Prabowo jika memaksakan RK di pemerintahan tentu membutuhkan reshuffle kabinet," ujarnya.

Baca Juga: Kabar Gembira! Monas Kembali Buka Sampai Malam Mulai Hari Ini Khusus Libur Nataru, Berikut Jadwal Lengkapnya

"Dan saat ini dirasakan belum menjadi prioritas pemerintah karena pemerintahan juga belum sampai minimal 100 hari," sambungnya.

Ia pun mengatakan, hal efektif yang masih bisa diterima yaitu mengakomodir RK adalah untuk mengisi komisaris di Badan Usaha Milik Negera (BUMN) atau duta besar. Serta, RK juga bisa jadi bagian pemerintahan menjadi utusan khusus presiden.

"Atau menghadirkan RK di bagian pemerintahan yakni sebagai utusan khusus Presiden, namun hanya untuk mengakomodir 1 orang RK tentu saja jabatan itu dibuat-buat," katanya.

Selain itu, lanjut Efriza, langkah yang tepat adalah RK berkontribusi nyata di partainya Golkar, dengan meminta peran strategis agar bisa terus terekspos.

"Atau ia membuat LSM, ataupun lembaga kajian, maupun bergabung dalam Ormas, agar ia bisa terus terpantau oleh masyarakat," imbuhnya.

Ia pun mengatakan, dari pernyataan RK untuk terus mengabdi kepada bangsa dan negara itu mengindikasikan dirinya berusaha untuk dirinya tetap diperhitungkan dalam kondisi politik nasional hingga Pemilu 2029 mendatang.

"Dan juga berharap 2029 ia diperhitungkan kembali sebagai calon wakil presiden ini adalah agenda jangka panjangnya," pungkasnya. (*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Y
Reporter
Yasmina Nuha
Y