BPOM Sebut Ada 3 Pilar Pengawasan untuk Memastikan Keamanan Produk UMKM di Jakarta, dari Pemerintah hingga Masyarakat

AKURAT JAKARTA - Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Jakarta, Sofiani Chandrawati Anwar, mengatakan bahwa terdapat tiga pilar dalam pengawasan keamanan produk Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) Jakarta.
"Pertama pemerintah. Nah, pemerintah ini kan kami dengan lintas sektor, mitra kerja itu membuat regulasi," kata Sofiani kepada pers di JI-Expo Kemayoran, Jakarta Pusat, Minggu (14/7/2024).
Lebih lanjut ia mengatakan ,pemerintah juga melakukan pengawasan bersama yang terkait dengan bagaimana obat dan makanan itu selalu aman, bermutu, dan berkhasiat ketika berada di masyarakat.
Kedua, lanjutnya, yaitu pelaku usaha yang sangat penting untuk selalu berkomitmen dalam menjaga kualitas dari produk obat dan makanan yang mereka jual.
"Pelaku usaha ini sangat penting, berkomitmen, selalu memproduksi, menjual obat dan makanan yang diproduksinya, yang dijualnya itu aman, bermutu, dan berhasiat tentunya," ujarnya.
Ketiga, masyarakat yang harus mempunyai literasi yang cerdas terkait dengan bagaimana dia bisa mengawasi obat dan makanan untuk dirinya sendiri.
"Jadi waspada terhadap obat dan makanan yang tidak bermutu, tidak berkhasiat , tidak aman, seperti itu," imbuhnya.
Ia pun mengatakan bahwa terkait dengan produk-produk UMKM yang banyak terdaftar di badan POM akan membuat tantangan bagi masyarakat untuk cerdas dalam memilih produk UMKM.
"Nah ini, ketika supply and demandnya tidak terlaksana dengan baik, jadi masyarakat cerdas untuk membeli obat ataupun makanan, produk obat dan makanan yang aman, bermutu, dan berkhasiat, pelaku usahanya tentu akan menyediakan produk-produk yang sama," katanya.
Namun, lanjutnya, ia mengatakan jika masyarakat masih belum teredukasi terkait dengan produk yang aman dikonsumsi, maka masyarakat akan mudah terkena produk secara mutu atau keamanannya tidak terjamin.
"Misalnya di dalam iklan online gitu kan, ada misalnya iklan kosmetik yang membuat instan glowing gitu kan, seperti itu. Atau misalnya ada obat bahan alam yang bisa cespleng, seperti itu," ungkapnya.
Tidak hanya itu, ia juga mengatakan masyakarat akan bisa terkena hoax terkait obat dan makanan yang tidak mengedukasi dengan baik.
"Nah kalau masyarakat sudah cerdas, literasinya sudah baik. Tentu ini akan terjadi pola pengawasan obat dan makanan yang sangat baik, sistem yang sangat baik," katanya.
Terakhir, Ia berharap, dengan masyarakat yang cerdas tersebut, mereka dapat aman mengkonsumsi obat dan makanan yang tentunya beredar di masyarakat. (*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









