Kecewa Tak Dapat Nobel Perdamaian, Donald Trump Klaim Seharusnya Borong 8 Penghargaan

AKURAT JAKARTA – Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menyuarakan kekecewaannya usai kembali gagal meraih Hadiah Nobel Perdamaian.
Dalam kampanye politik di New York, Jumat (9/10/2026), Trump mengklaim dirinya telah berhasil menghentikan delapan perang dunia sehingga sangat layak memboyong penghargaan bergengsi tersebut.
Ia bahkan menyindir keputusan komite yang memberikan Nobel Perdamaian kepada sosok yang menurutnya tidak populer atau dikenal luas.
Baca Juga: Lah Ketahuan, Isu Rencana Pembunuhan Trump oleh Iran Rekayasa Intelijen Israel
"Kami seharusnya mendapatkan delapan Hadiah Nobel, satu untuk setiap perang yang berhasil kami akhiri," ujar Trump dalam pidatonya di hadapan para pendukungnya.
Dalam pidato kampanye menjelang pemilu paruh waktu tersebut, Trump mempertanyakan kredibilitas penerima penghargaan yang dipilih oleh Komite Nobel Norwegia.
"Seseorang yang belum pernah saya dengar namanya," kata Trump mengomentari sang pemenang.
Trump menilai Amerika Serikat di bawah kepemimpinannya lebih berhak menerima penghargaan internasional tersebut. Ia tidak ragu menyebut keputusan komite sebagai bentuk ketidakadilan.
"Amerika Serikat, yang saya wakili sebagai presiden Anda, seharusnya menerima Hadiah Nobel Perdamaian. Keputusan ini adalah noda permanen bagi Norwegia dan pihak-pihak yang mengambil keputusan memalukan itu," tegasnya.
Selain mengklaim telah menghentikan delapan perang, Trump juga membanggakan perannya dalam mencegah potensi bentrokan militer di Asia.
Seperti ketegangan antara Korea Selatan dan Korea Utara, Jepang dengan Korea Utara, hingga konflik China dan Taiwan.
Obsesi Trump terhadap Nobel Perdamaian sejatinya sudah terlihat sejak masa jabatan pertamanya, khususnya setelah menggelar pertemuan puncak dengan pemimpin Korea Utara pada Juni 2018 lalu.
Dalam berbagai kesempatan, ia kerap menjadikan narasi keberhasilan diplomasi luar negerinya sebagai jualan politik untuk mengincar pengakuan internasional.
Meski demikian, penetapan penerima Nobel Perdamaian sepenuhnya merupakan wewenang independen Komite Nobel di Oslo, Norwegia, berdasarkan kriteria penilaian objektif dan bukan atas dasar klaim sepihak seorang tokoh politik.(*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Prediksi Skor AZ Alkmaar vs Hapoel Beer Sheva di UEL, 15 Oktober 2026: Mampukah Tuan Rumah Pertahankan Rekor Kandang?
- 2Prediksi Skor Hoffenheim vs Besiktas di UEL, 16 Oktober 2026: Mampukah Die Kraichgauer Bangkit di Kandang?
- 3Prediksi Skor Eintracht Frankfurt vs FC Koln di Bundesliga, 17 Oktober 2026: Mampukah Die Adler Bangkit dari Kekalahan Telak?
- 4Prediksi Skor Deportivo La Coruna vs Levante di La Liga, 17 Oktober 2026: Mampukah Tuan Rumah Akhiri Tren Negatif?
- 5Prediksi Skor Sparta Praha vs Lillestrom di UEL, 15 Oktober 2026: Tren Positif Tuan Rumah Diuji Wakil Norwegia
- 6Prediksi Skor Celje vs Omonia di UEL, 15 Oktober 2026: Mampukah Tuan Rumah Bangkit dari Kekalahan?
- 7Prediksi Skor Union Saint-Gilloise vs Real Sociedad di UEL, 15 Oktober 2026: Tuan Rumah Incar Kemenangan Kedua
- 8Prediksi Skor Frosinone vs Sassuolo di Serie A, 17 Oktober 2026: Mampukah Canarini Balas Dendam atas Neroverdi?
- 9Pertama dan Satu-Satunya! Mitra Driver Gojek Terpilih dari Seluruh Indonesia Kibarkan Merah Putih
- 10Permudah Transaksi Nasabah, BPR Kerta Raharja Gemilang Luncurkan Layanan Digital MOLEC, Ini Kelebihannya!







