Jakarta

Super El Nino Intai Pasokan Pangan Jepang

Aisya Nur Aziza | 13 Juli 2026, 22:13 WIB
Super El Nino Intai Pasokan Pangan Jepang
ilustrasi persawahan di Jepang

AKURAT JAKARTA — Fenomena alam El Nino dilaporkan kembali muncul untuk pertama kalinya dalam dua tahun terakhir.

Alih-alih membawa musim panas yang sejuk seperti pola historisnya, para ahli meteorologi justru khawatir fenomena tahun ini akan berkembang menjadi 'Super El Nino' yang memicu gelombang panas ekstrem di wilayah Jepang.

Anomali cuaca ini memicu kekhawatiran massal di sektor pertanian.

Sengatan suhu tinggi yang diprediksi terjadi sepanjang Juli hingga September 2026 berisiko merusak kualitas beras Jepang secara drastis.

Hal ini mengulang memori kelam krisis pangan sebelumnya yang sempat terjadi pada periode 2023–2024 lalu.

Lantas mengapa El Nino tahun ini berubah menjadi ekstrem?

Secara ilmiah, fenomena El Nino terjadi ketika suhu permukaan laut di lepas pantai Peru naik minimal 0,5 derajat celcius di atas rata-rata selama lebih dari enam bulan.

Cuaca akan dikategorikan sebagai Super El Nino jika kenaikan suhu tersebut menembus angka 2 derajat atau lebih.

Catatan sejarah sejak tahun 1949 menunjukkan bahwa kondisi ekstrem ini cukup langka, hanya terjadi 5 kali dari 19 peristiwa El Nino.

Namun, para pakar memprediksi ambang batas berbahaya tersebut berpotensi mulai aktif pada bulan ini.

Petani Jepang Ramai-Ramai Beralih ke Padi Tahan Panas

Adapun ancaman Super El Nino ini mengintai ketahanan pangan Jepang.

Koji Nishimoto (42), seorang petani padi di Kota Matsuyama mengutip dari Kyodo News memilih realistis dengan mulai menanam varietas padi tahan panas bernama Niji no Kirameki pada musim tanam tahun ini.

Lembaga Penelitian Pertanian dan Pangan Jepang, mengaku terkejut dengan cepatnya proses adopsi varietas baru ini di tingkat akar rumput.

Menurutnya, fenomena ini menjadi indikator kuat bahwa mayoritas produsen pertanian di lapangan sedang menghadapi tekanan psikologis dan operasional yang besar akibat perubahan iklim.

Namun kerusakan akibat Super El Nino diproyeksikan tidak hanya berhenti pada komoditas beras.

Profesor meteorologi dari Universitas Mie, Yoshihiro Tachibana, mengingatkan bahwa ancaman pemanasan global ini memiliki efek domino yang luas.

"Pada El Nino sebelumnya, suhu permukaan laut rata-rata bulanan sempat melonjak hingga 2 derajat celcius. Selain merusak kualitas beras, sektor perikanan dan komoditas pertanian lainnya di Jepang juga berada dalam bayang-bayang kelumpuhan," jelas Tachibana.

Ia menegaskan pentingnya kesadaran kolektif global untuk mulai beradaptasi dengan pola cuaca ekstrem, sekaligus melakukan langkah nyata dalam mengurangi emisi karbon dioksida guna menekan laju pemanasan global. (*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.