Jakarta

Yen Jepang Tersungkur ke Level 160 per Dolar AS, Suku Bunga Terpaksa Naik 1 Persen

Aisya Nur Aziza | 18 Juni 2026, 05:00 WIB
Yen Jepang Tersungkur ke Level 160 per Dolar AS, Suku Bunga Terpaksa Naik 1 Persen
Ilustrasi mata uang yen

AKURAT JAKARTA — Bank Sentral Jepang (Bank of Japan/BOJ) mengambil langkah agresif dengan menaikkan suku bunga acuan sebesar 0,75% hingga menyentuh level 1%.

Kebijakan pengetatan moneter ini mencatatkan rekor kenaikan tertinggi dalam sejarah perbankan Jepang sejak tahun 1995.

Langkah berani ini diambil di tengah perjuangan keras Jepang menghadapi keterpurukan nilai tukar yen dan melonjaknya angka inflasi domestik.

Kondisi ekonomi global yang memburuk akibat eskalasi perang antara Iran dan aliansi AS-Israel ini menjadi pemicu utama meroketnya harga-harga komoditas di dalam negeri.

Baca Juga: Rupiah Sentuh Rp18.000, Menkeu Purbaya: Kita Tidak Sedang Menuju Krisis 1998!

Kepala Ekonom Asia HSBC, Frederic Neumann, mengungkapkan bahwa sinyal pengetatan ini sebenarnya sudah diembuskan oleh Gubernur BOJ, Kazuo Ueda, dalam pidatonya awal bulan ini.

"Efek limpahan inflasi yang berasal dari harga minyak mentah yang lebih tinggi lebih mungkin menyebabkan penyimpangan ke atas dalam inflasi inti," ujar Neumann seperti dikutip dari CNBC.

Intervensi Mata Uang Dinilai Belum Cukup

Sebelum keputusan naik turunnya suku bunga ini diambil, Pemerintah Jepang sejatinya telah menggelontorkan dana fantastis sebesar 11,7 triliun yen (setara US$ 73,5 miliar) pada Mei lalu untuk mengintervensi pasar dan menyelamatkan yen.

Namun, strategi tersebut tidak bertahan lama. Mata uang yen kembali tersungkur ke level 160 per dolar AS dan bertahan di posisi lemah tersebut sepanjang bulan Juni.

Direktur Ahli Perusahaan Jasa Keuangan Monex Group yang berbasis di Tokyo, Jesper Koll, memberikan kritik analogis terkait langkah intervensi tersebut.

Baca Juga: Rupiah Tembus Rp18.000, Menkeu Purbaya Optimis Nilai Fundamental Jauh Lebih Perkasa

Menurutnya, melakukan intervensi pasar tanpa merombak kebijakan moneter dalam negeri adalah tindakan yang sia-sia.

"Intervensi tanpa mengubah kebijakan moneter domestik seperti menginjak rem sambil tetap menginjak pedal gas. Paling banter, penumpang Anda sedikit bersenang-senang. Paling buruk, Anda menghabiskan kampas rem," jelas Jesper Koll.

Dampak Ganda Pelemahan Yen

Meskipun di satu sisi pelemahan yen mampu meningkatkan daya saing produk ekspor Jepang di pasar global, dampak negatifnya jauh lebih memukul ekonomi domestik.

Nilai tukar yang merosot otomatis melambungkan biaya impor, memicu inflasi, dan memperberat tekanan pada keuangan pemerintah.

Guna meredam hantaman ekonomi langsung ke masyarakat, Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, dilaporkan telah mengetok anggaran tambahan sebesar 3 triliun yen.

Dana darurat ini dialokasikan sebagai bantalan sosial untuk melindungi pengeluaran rumah tangga dari lonjakan biaya energi yang kian mahal. (*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.