Jakarta

Isi Perjanjian Baru AS-Iran Bocor, Posisi Israel Kian Terjepit

Aisya Nur Aziza | 23 Juni 2026, 23:06 WIB
 Isi Perjanjian Baru AS-Iran Bocor, Posisi Israel Kian Terjepit
Netanyahu ditinggal Trump dalam MOU AS-Iran

AKURAT JAKARTA - Detail Nota Kesepahaman (MOU) terbaru antara Amerika Serikat (AS) dan Iran dalam pertemuan di Swiss akhirnya bocor ke publik.

Perjanjian bilateral ini memicu guncangan politik besar di Tel Aviv setelah dokumen kesepakatan tersebut secara efektif mendepak Israel dari pengawasan wilayah Lebanon selatan.

Dalam dokumen MOU tersebut, AS dan Iran beserta sekutu mereka diwajibkan untuk mengakhiri segala bentuk permusuhan, termasuk menghentikan eskalasi militer di Lebanon.

Klausul ini dirancang demi mengembalikan integritas serta kedaulatan penuh wilayah Lebanon yang selama ini terganggu akibat operasi militer dan pendudukan tentara Israel.

Ancaman Selat Hormuz

Adapun negosiasi di Swiss pekan lalu dilaporkan berlangsung sangat alot.

Iran bahkan sempat menggunakan kartu as geografisnya dengan mengancam akan menutup total jalur perdagangan internasional di Selat Hormuz.

Teheran menegaskan bakal keluar dari meja perundingan jika AS membiarkan Israel melanjutkan agresi militernya di Lebanon.

Guna meredam ancaman tersebut, para pihak akhirnya sepakat membentuk struktur pengawasan keamanan baru bernama "sel dekonfliksi".

Menariknya, struktur baru ini melibatkan Iran dan Lebanon sebagai peserta langsung, didampingi AS, serta Pakistan dan Qatar sebagai pihak mediator.

Langkah ini menandai pergeseran geopolitik yang radikal.

Di mana pada mekanisme gencatan senjata November 2024 era Joe Biden, pengawasan ketat masih melibatkan Israel, Lebanon, AS, dan Prancis.

Namun, dalam kesepakatan terbaru di bawah pemerintahan Donald Trump kali ini, Israel justru terdepak sepenuhnya dan tidak dilibatkan sama sekali.

Baca Juga: Trump Berpaling ke Iran, Netanyahu Kalang Kabut Ditinggal Sendiri di Lebanon

Persempit Ruang Gerak Militer, Netanyahu Utus Utusan Darurat Gara-Gara 'Histeris'

Kesepakatan sepihak antara Trump dan Iran ini otomatis mengikis komitmen keamanan yang selama ini dipegang teguh oleh Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu.

Jika pada perjanjian akhir 2024 lalu Israel masih mengantongi hak bebas untuk melancarkan serangan preventif terhadap "ancaman yang baru muncul" dari Hizbullah, kini ruang gerak mereka dipersempit.

Di bawah pengawasan sel dekonfliksi baru, kebebasan bertindak Israel dikebiri dan hanya diizinkan jika menghadapi "ancaman yang benar-benar nyata dan seketika terjadi" (imminent threat).

Bagi kabinet Israel, klausul pembatasan di Lebanon ini jauh lebih menakutkan ketimbang isu pengayaan nuklir Iran.

"Bibi (Netanyahu) histeris mengenai hal itu," ungkap salah satu sumber diplomatik Israel.

Sebagai respons darurat, Netanyahu dilaporkan langsung mengutus orang kepercayaannya, Ron Dermer, untuk segera terbang dan membangun kontak dengan tim transisi Donald Trump di Washington.

Netanyahu berharap lobi menit-menit terakhir ini bisa memengaruhi klausul akhir kesepakatan AS-Iran.

Bagi Netanyahu, kehilangan kendali militer di Lebanon bukan hanya masalah keamanan nasional, melainkan juga pertaruhan politik domestik yang sangat krusial menjelang pemilu Israel yang dijadwalkan berlangsung pada Oktober mendatang. (*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.