Jakarta

Menhan Jerman Terang-terangan Sebut Donald Trump Jadi Penyebab Selat Hormuz Ditutup Lagi

Aisya Nur Aziza | 22 Juni 2026, 23:06 WIB
Menhan Jerman Terang-terangan Sebut Donald Trump Jadi Penyebab Selat Hormuz Ditutup Lagi
Menhan Jerman tak tahan lagi, sebut Selat Hormuz ditutup sekian kali karena Donald Trump

AKURAT JAKARTA – Pemerintah Jerman melayangkan kritik keras terhadap Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terkait kembali memanasnya situasi di Timur Tengah.

Menteri Pertahanan Jerman, Boris Pistorius, secara terbuka menyalahkan Trump atas keputusan Iran yang kembali memblokade Selat Hormuz, jalur perairan paling vital bagi pasokan energi global.

Dalam sebuah wawancara dengan stasiun televisi lokal Jerman, ARD, Pistorius menegaskan bahwa tindakan sepihak Washington di bawah komando Trump menjadi pemantik utama kekacauan ini.

Pihak Berlin pun mendesak agar jalur pelayaran tersebut segera dibuka kembali demi menjaga stabilitas ekonomi dunia.

"Pada akhirnya, sumbat di leher botol Selat Hormuz didorong masuk oleh Donald Trump, bukan oleh kami. Tetapi kami memiliki kepentingan besar untuk membukanya kembali," ujar Pistorius, seperti dilansir dari AFP, Senin (22/6/2026).

Baca Juga: Baru 3 Hari Damai, Selat Hormuz Ditutup dan Trump Ancam Sanksi Tarif

Kepentingan Energi Eropa Terancam

Adapun sebelumnya Selat Hormuz sempat diblokir total saat perang pecah pada 28 Februari lalu, yang dipicu oleh serangan skala besar AS dan Israel ke wilayah Iran.

Ketegangan sempat mereda setelah Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian menandatangani kesepakatan awal yang membuat lalu lintas kapal pembawa minyak kembali normal.

Namun, pada Sabtu (20/6/2026), Iran memutuskan untuk kembali menutup total jalur tersebut.

Langkah ekstrem Teheran ini diambil sebagai protes atas sikap sekutu AS, Israel, yang terus menggempur Lebanon habis-habisan.

Bagi Jerman dan negara-negara Eropa lainnya, penutupan kembali selat ini adalah alarm bahaya.

Pistorius menyebutkan bahwa jalur aman di Selat Hormuz adalah harga mati bagi pasokan energi dan pemulihan ekonomi Eropa yang saat ini sedang rapuh.

Ia juga menambahkan, upaya pembukaan kembali jalur ini wajib melibatkan kesepakatan bersama antara Iran dan Oman selaku pemilik wilayah.

Baca Juga: Ikuti Jejak Timur Tengah, Presiden Korsel Berharap Trump Bisa Jinakkan Korea Utara Seperti Iran

Hubungan Jerman-AS Mulai Retak

Pernyataan blak-blakan dari Menhan Jerman ini menandai babak baru renggangnya hubungan diplomatik antara Berlin dan Washington.

Sejak awal, Jerman memang konsisten menjauhkan diri dari operasi militer terhadap Iran yang diperintahkan oleh Trump.

Namun, baru kali ini pejabat tinggi Jerman berani menunjuk hidung AS sebagai biang kerok konflik.

Baca Juga: Selesai Urusan Iran, Trump Bersiap Alihkan Perhatian ke Korea Utara

Sebelumnya pada April lalu, saat Trump merengek meminta bantuan sekutu NATO untuk mengamankan Selat Hormuz, Kanselir Jerman Friedrich Merz dengan tegas menolak dan menyatakan bahwa perang tersebut "bukan urusan NATO".

Baik Merz maupun Pistorius sama-sama mengecam keras tabiat politik luar negeri AS yang kerap meluncurkan serangan militer ke Iran tanpa pernah berkonsultasi terlebih dahulu dengan negara-negara sekutunya. (*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.