Jakarta

CEO Telegram Pavel Durov Ditangkap Usai Jadi "Buron" Kepolisian Prancis

Titania Isnaenin | 26 Agustus 2024, 10:30 WIB
CEO Telegram Pavel Durov Ditangkap Usai Jadi "Buron" Kepolisian Prancis

 

AKURAT JAKARTA - Pendiri Telegram ditangkap pihak kepolisian Prancis di Bandara Le Bourget, setelah jadi "buron" pemerintah.

Pavel Durov pendiri sekaligus CEO Telegram ini ditangkap pada Sabtu (24/8) malam karena diduga telah melakukan tindak kriminal.

Durov disebut telah melakukan sebuah pelanggaran atas aplikasinya yang disebut kurang moderasi dan banyak ditemukan aktivitas ilegal oleh salah satu lembaga pemerintah bernama OFMIN.

Baca Juga: Atletico Madrid Menang Telak, Girona Tak Diberi Kesempatan Untuk Balas Cetak Gol di Liga Spanyol

Pihak kepolisian Prancis menyebut Pavel Durov ditangkap usai adanya tuduhan yang mencakup pencucian uang, perdagangan narkoba, dan penyebaran konten pelecehan seksual anak.

Durov ditangkap tak lama setelah tiba di bandara Le Bourget dengan jet pribadinya dari Azerbaijan.

Dalam skenario penangkapan, polisi menyebut telah mengetahui Pavel Durov ada dalam daftar penumpang untuk kepergiannya ke Prancis.

Baca Juga: Viral, Netizen Sebut Polwan Ini Sebagai Duta Sopan Santun di Media Sosial X, Ternyata Begini Awal Mulanya

Usai menerima surat perintah penangkapan, Prancis bekerja sama dengan kepolisian Rusia, menahan CEO Telegram Pavel Durov berdasarkan hukum yang berlaku.

Penangkapan tersebut rupanya merupakan bagian dari investigasi awal sebuah lembaga pencegahan kekerasan pada anak di Prancis yang bernama OFMIN yang melihat bahwa Telegram gagal memberikan langkah efektif untuk mencegah aktivitas ilegal.

Apalagi isu maraknya kasus kelompok kriminal yang menggunakan Telegram sebagai alat komunikasi mereka.

Tak ada tindakan yang diambil oleh Durov untuk setidaknya mencegah penggunaan Telegram sebagai aplikasi "hitam".

Baca Juga: Erina dan Kaesang Pakai Pesawat Pribadi ke Amerika, Benarkah Kalau Hamil Besar Dilarang Pakai Pesawat Komersial?

Bagaimana tidak, lewat aplikasi Telegram, pengguna bisa mengikuti sebuah saluran siaran lebih dari 200 ribu orang dan bisa saling menanggapi lewat komentar.

Telegram juga kerap kali menawarkan kemanan pesan terenkripsi yang membuat penggunanya bebas menyiarkan informasi tanpa filter.

Di Rusia, Telegram dinilai telah menjadi sumber utama informasi, dan disinformasi, tentang invasi Rusia ke Ukraina, dikutip dari The Guardian, Senin (26/8).

Baca Juga: Hamil Besar dan Terbang Ke Amerika, Inilah Kemungkinan yang Terjadi Pada Anak Kaesang Pangarep dan Erina Gudono Jika Berencana Lahiran di Luar Negeri

Bahkan Telegram, menjadi salah satu aplikasi yang sangat populer di Uni Soviet dan juga telah digunakan oleh Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy.

Serta para politisi di seluruh Ukraina, untuk merilis informasi tentang perang.

Keunggulan sistem enkripsi Telegram yang dibuat Durov ini disebut tak mampu dijebol.

Sehingga menjadi surga dunia para ekstremis dan penganut teori konspirasi untuk bertukar informasi ilegal. (*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.