Jakarta

Dampak MBG, Mahasiswa Pejuang KJMU Sebut Pendapatan Ibunya Jualan Nasi Anjlok

Laode Akbar | 13 Agustus 2026, 18:48 WIB
Dampak MBG, Mahasiswa Pejuang KJMU Sebut Pendapatan Ibunya Jualan Nasi Anjlok
Ilustrasi - Makan Bergizi Gratis (MBG)

AKURAT JAKARTA - Mahasiswa yang tergabung dalam Forum Pejuang Kartu Jakarta Mahasiswa Unggul (KJMU), Surya, mengaku kondisi ekonomi keluarganya semakin sulit setelah penerapan program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Surya mengatakan, ibunya yang sehari-hari berjualan nasi di salah satu kantin sekolah di Jakarta Utara mengalami penurunan pendapatan cukup signifikan sejak program tersebut berjalan.

"Ketika ngomong dagang nasi, sedangkan saat ini program pemerintah pusat adalah MBG (Makan Bergizi Gratis), otomatis kantin ibu saya terkena dampak yang paling besar," kata Surya usai audiensi dengan Komisi E DPRD DKI Jakarta, Rabu (12/8/2026).

Baca Juga: Bukan Sekadar Soal Sisa Makanan, Ini Risiko MBG Jika Dibawa Pulang Siswa

Menurut Surya, pendapatan dari usaha sang ibu disebut turun sekitar 50 hingga 70 persen. Kondisi itu turut memengaruhi kemampuan keluarganya dalam membiayai kuliah.

"Penurunan pendapatan keuntungan itu termasuk signifikan, bahkan bisa dibilang 50 persen bahkan 70 persen turun jauh banget. Itu yang membuat saya tambah susah untuk mendapatkan dana untuk melanjutkan kuliah ini," ujarnya.

Surya merupakan anak yatim dan saat ini tercatat sebagai mahasiswa semester 3 UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, jurusan Hukum Keluarga Islam.

Ia menjadi anak terakhir dalam keluarga yang masih menempuh pendidikan. Dua kakaknya telah bekerja, sementara Surya menjadi anggota keluarga yang diharapkan dapat menyelesaikan pendidikan hingga jenjang sarjana.

Untuk membiayai kuliahnya saat ini, Surya mengandalkan tabungan keluarga serta penghasilan dari pekerjaan sampingan dengan mengikuti sejumlah kegiatan atau event.

"Untuk saat ini, karena semester 3 ini alhamdulillah saya ada uang tabungan saya, dari ibu saya yang berdagang, saya juga ada pekerjaan juga ikut event-event, lumayan untuk bayar semester 3 ini," katanya.

Sebelumnya, biaya kuliah Surya sempat dibantu melalui CSR Baznas Bazis DKI Jakarta. Namun, untuk semester 3, ia harus mengupayakan biaya secara mandiri bersama keluarganya.

Surya menyebut biaya UKT yang harus dibayarkan mencapai Rp2,25 juta. Ia berharap persoalan KJMU segera mendapatkan kepastian agar dirinya dapat melanjutkan kuliah tanpa harus menanggung seluruh biaya pendidikan secara mandiri.

Sebab, jika tidak mendapatkan KJMU, Surya mengaku khawatir kesulitan membiayai pendidikan hingga berisiko putus kuliah.

"Setelah dua kali ya sudah tidak bisa daftar lagi. Berarti kita melanjutkan dengan biaya sendiri atau DO (Drop Out). Nah, DO itu yang menjadi pikiran kita saat ini," tuturnya. (*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

L
Reporter
Laode Akbar
Y