Jakarta

Tak Hanya Pintar, Doktor Terbaik UGM Ungkap Faktor yang Membuatnya Lulus Kurang dari 3 Tahun

Anggerhana Denni Rahmawati | 31 Juli 2026, 07:30 WIB
Tak Hanya Pintar, Doktor Terbaik UGM Ungkap Faktor yang Membuatnya Lulus Kurang dari 3 Tahun
I Made Sarmita berhasil menuntaskan pendidikan doktor di Universitas Gadjah Mada (UGM) hanya dalam waktu 2 tahun 10 bulan dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) sempurna 4,00. (UGM)

AKURAT JAKARTA - Banyak orang mengira gelar doktor identik dengan masa studi yang panjang, revisi tanpa akhir, hingga proses bimbingan yang berjalan lambat.

Tidak sedikit pula mahasiswa doktor harus menghabiskan waktu lebih dari empat tahun untuk menyelesaikan disertasi.

Namun, pengalaman berbeda dialami I Made Sarmita.

Pria asal Kabupaten Badung, Bali, itu justru berhasil menuntaskan pendidikan doktor di Universitas Gadjah Mada (UGM) hanya dalam waktu 2 tahun 10 bulan dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) sempurna 4,00.

Di balik pencapaian tersebut, ternyata ada satu faktor yang menurutnya sangat berpengaruh, yakni pendampingan aktif dari dosen pembimbing.

Made mengaku tidak menyangka dapat menjadi salah satu wisudawan terbaik Program Doktor Kependudukan Sekolah Pascasarjana UGM.

Ia menilai keberhasilannya merupakan hasil dari kesungguhan yang didukung doa, keluarga, promotor, ko-promotor, serta rekan-rekan yang selalu memberikan dukungan selama proses studi.

Perjalanan akademiknya dimulai dari Bali ketika menempuh Program Studi Pendidikan Geografi di Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha).

Ketertarikannya terhadap isu kependudukan kemudian membawanya melanjutkan studi magister hingga doktor di UGM.

Menurut Made, pilihan tersebut diambil karena bidang Kependudukan memiliki kesinambungan dengan latar belakang pendidikan yang telah ia tempuh sejak jenjang sarjana.

Baca Juga: PJJ Kini Setara Sekolah Formal, Harapan Baru bagi Jutaan Anak Indonesia yang Kurang Beruntung

Meski memperoleh beasiswa, perjalanan menuju bangku doktor tidak sepenuhnya berjalan mulus.

Ia sempat diliputi rasa cemas saat menunggu kepastian pendanaan pendidikan.

Namun setelah beasiswa berhasil diperoleh, ia memanfaatkan kesempatan tersebut dengan sebaik mungkin.

Made menilai salah satu alasan mengapa masa studinya dapat diselesaikan lebih cepat adalah pola bimbingan yang aktif.

Ia menceritakan bahwa promotor dan ko-promotor secara rutin memantau perkembangan riset, menjalin komunikasi intensif, hingga terus menanyakan progres penelitian yang sedang dikerjakannya.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.