Tak Hanya Pintar, Doktor Terbaik UGM Ungkap Faktor yang Membuatnya Lulus Kurang dari 3 Tahun

AKURAT JAKARTA - Banyak orang mengira gelar doktor identik dengan masa studi yang panjang, revisi tanpa akhir, hingga proses bimbingan yang berjalan lambat.
Tidak sedikit pula mahasiswa doktor harus menghabiskan waktu lebih dari empat tahun untuk menyelesaikan disertasi.
Namun, pengalaman berbeda dialami I Made Sarmita.
Pria asal Kabupaten Badung, Bali, itu justru berhasil menuntaskan pendidikan doktor di Universitas Gadjah Mada (UGM) hanya dalam waktu 2 tahun 10 bulan dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) sempurna 4,00.
Di balik pencapaian tersebut, ternyata ada satu faktor yang menurutnya sangat berpengaruh, yakni pendampingan aktif dari dosen pembimbing.
Made mengaku tidak menyangka dapat menjadi salah satu wisudawan terbaik Program Doktor Kependudukan Sekolah Pascasarjana UGM.
Ia menilai keberhasilannya merupakan hasil dari kesungguhan yang didukung doa, keluarga, promotor, ko-promotor, serta rekan-rekan yang selalu memberikan dukungan selama proses studi.
Perjalanan akademiknya dimulai dari Bali ketika menempuh Program Studi Pendidikan Geografi di Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha).
Ketertarikannya terhadap isu kependudukan kemudian membawanya melanjutkan studi magister hingga doktor di UGM.
Menurut Made, pilihan tersebut diambil karena bidang Kependudukan memiliki kesinambungan dengan latar belakang pendidikan yang telah ia tempuh sejak jenjang sarjana.
Baca Juga: PJJ Kini Setara Sekolah Formal, Harapan Baru bagi Jutaan Anak Indonesia yang Kurang Beruntung
Meski memperoleh beasiswa, perjalanan menuju bangku doktor tidak sepenuhnya berjalan mulus.
Ia sempat diliputi rasa cemas saat menunggu kepastian pendanaan pendidikan.
Namun setelah beasiswa berhasil diperoleh, ia memanfaatkan kesempatan tersebut dengan sebaik mungkin.
Made menilai salah satu alasan mengapa masa studinya dapat diselesaikan lebih cepat adalah pola bimbingan yang aktif.
Ia menceritakan bahwa promotor dan ko-promotor secara rutin memantau perkembangan riset, menjalin komunikasi intensif, hingga terus menanyakan progres penelitian yang sedang dikerjakannya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini



Terpopuler
- 1Prediksi Skor Fenerbahce vs Lyon di Playoff UCL, 19 Agustus 2026: Mampukah The Yellow Canaries Raih Kemenangan di Kandang Sendiri?
- 2Prediksi Skor Deportivo La Coruna vs Elche di La Liga, 18 Agustus 2026: Duel Tim Promosi dan Penghuni Zona Bawah
- 3Prediksi Skor Espanyol vs Levante di La Liga, 17 Agustus 2026: Mampukah Los Periquitos Mengawali Musim dengan Kemenangan Kandang?
- 4Prediksi Skor Racing Santander vs Villarreal di La Liga, 16 Agustus 2026: Debutan Promosi Tantang Penghuni Tiga Besar
- 5Prediksi Skor Levski Sofia vs AEK Athens di Playoff UCL, 19 Agustus 2026: Momentum Tuan Rumah Jadi Ancaman Juara Liga Yunani
- 6Prediksi Skor Dinamo Zagreb vs Viking di Playoff UCL, 19 Agustus 2026: Tuan Rumah Punya Rekor Impresif
- 7Prediksi Skor Casa Pia vs Benfica di Liga Portugal, 18 Agustus 2026: Mampukah Tuan Rumah Mengulang Kejutan?
- 8Prediksi Skor Ajax vs Heerenveen di Eredivisie, 16 Agustus 2026: Mampukah Tuan Rumah Kembali Dominan di Johan Cruijff Arena?
- 9Permudah Transaksi Nasabah, BPR Kerta Raharja Gemilang Luncurkan Layanan Digital MOLEC, Ini Kelebihannya!
- 10Fasilitas Mewah KM Dharma Kartika V Dinodai Dugaan Pelecehan Anak hingga Pengeroyokan Pelajar, Begini Kronologinya






